Headline »

October 21, 2017 – 1:12 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pertanyaan:
Ustadz, Bagaimana Hukumnya orang yang jualan jangkrik ?
Ainul Yaqin
Jawaban:
Hukum Jual beli hewan diperinci sebagai berikut:

Apabila hewan itu bermanfaat (secara syariat), seperti unta, sapi, kambing, kuda dan lain-lain, maka sah jual belinya, karena …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Uncategorized

Wajibkah Memakai Jilbab?

Submitted by on October 29, 2016 – 3:47 pm

33_59

Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, dan karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab : 59)

Mereka berkata

Tidak adanya kata amr (kata perintah) untuk berjilbab  dalam ayat di atas mengindikasikan bahwa berjilbab bukanlah suatu kewajiban. Ayat di atas mengandung konteks yang jelas, yaitu perintah agar Rasulullah saw menyampaikan kepada wanita muslimah yang merdeka, bahwa jika mereka berkehendak untuk keluar rumah, ada baiknya mereka memakai penutup kepala (jilbab) agar mereka tidak disangka budak. Argumen ini diperkuat oleh lanjutan ayat tersebut: ذلك ادني ان يعرفن فلا يؤذين

 “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, dan karena itu mereka tidak diganggu.”

Artinya, jilbab hanya berfungsi sebagai identitas yang membedakan antara wanita merdeka dan wanita budak. Ketika perbudakan telah punah, maka alasan untuk memakai jilbab dengan sendirinya hilang dan tidak relevan lagi sehingga tidak perlu lagi ada pengekangan terhadap kebebasan wanita dengan mewajibkan mereka untuk memakai jilbab, apalagi memakai cadar.

Kami menjawab

Hukum wajib dalam Islam tidak selalu diindikasikan dengan adanya kata perintah (amr) dalam sebuah teks syariat. Bahkan, keberadaan kata perintah sendiri tidak selalu dihubungkan dengan kewajiban melakukan sesuatu. Jika kita cermati, banyak kata perintah yang beralih dari fungsi aslinya kepada makna lain seperti doa, kesunahan, petunjuk, atau bahkan kebolehan (ibahah).1 Sebagai contoh Allah SWT berfirman :

2_222a

“Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” (QS Al Baqoroh : 222)

Dalam ayat ini terdapat kata perintah, yaitu pada frasa  فَأْتُوهُنّ (campurilah mereka). Tetapi ayat tersebut tidak mengindikasikan kepada suatu kewajiban. Hanya saja, setelah wanita bersuci dari haidnya seorang suami diperbolehkan untuk kembali mencampuri istrinya,  namun bukan bersifat wajib.

Demikian juga halnya dengan kalimat yang menunjukkan pemberitaan (khobar). Terkadang sebuah pemberitaan mengandung makna perintah walau tidak terdapat kata perintah di dalamnya. 2 Perhatikan  contoh pada ayat :

2_228a

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.” (Al Baqoroh : 228)

Ayat tersebut merupakan sebuah pemberitaan mengenai status wanita yang dicerai. Di dalam ayat ini kita tidak menemukan kata amr (perintah), tetapi isi kandungan ayat tersebut mencakup perintah yang mewajibkan mereka untuk menahan diri selama tiga quru` (masa suci/haid), sehingga mereka dibolehkan menikah kembali setelah masa tersebut usai. 3.

Ayat jilbab termasuk salah satu dari kategori ini. Ayat tersebut berisi kisah, tetapi di dalamnya terdapat makna perintah untuk memakai jilbab. Hal ini diperkuat dengan perbuatan para wanita muslim di zaman nabi yang menutup kepala dan wajah mereka setelah turunnya ayat ini. 4

Ketentuan mengenai kalimat pemberitaan yang beralih fungsi menjadi perintah sudah lumrah di kalangan ahli hukum Islam. Argumentasi yang mewajibkan adanya kata amr untuk menyatakan kewajiban hanyalah argumentasi lemah yang hanya diajukan oleh mereka yang kurang memahami hukum Islam.

  1. Rujukan:

    حاشية العطار على شرح الجلال المحلي على جمع الجوامع (3/  176)

    ( وَتَرِدُ ) لِسِتَّةٍ وَعِشْرِينَ مَعْنًى ( لِلْوُجُوبِ ) { أَقِيمُوا الصَّلَاةَ } ( وَالنَّدْبِ ) { فَكَاتِبُوهُمْ إنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا } ( وَالْإِبَاحَةِ ) { كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ } ( وَالتَّهْدِيدِ ) { اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ } وَيَصْدُقُ مَعَ التَّحْرِيمِ وَالْكَرَاهَةِ ( وَالْإِرْشَادِ ) { وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ } وَالْمَصْلَحَةُ فِيهِ دُنْيَوِيَّةٌ بِخِلَافِ النَّدْبِ وَقَدَّمَهُ هُنَا بَعْدَ أَنْ وَضَعَهُ عَقِبَ التَّأْدِيبِ لِقَوْلِهِ الْآتِي وَقِيلَ مُشْتَرَكَةٌ بَيْنَ الْخَمْسَةِ الْأُوَلِ فَإِنَّهُ مِنْهَا ( وَإِرَادَةُ الِامْتِثَالِ ) كَقَوْلِك لِآخَرَ عِنْدَ الْعَطَشِ اسْقِنِي مَاءً ( وَالْإِذْنِ ) كَقَوْلِك لِمَنْ طَرَقَ الْبَابَ اُدْخُلْ ( وَالتَّأْدِيبِ ) { كَقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ وَهُوَ دُونَ الْبُلُوغِ وَيَدُهُ تَبْطِشُ فِي الصَّحْفَةِ كُلْ مِمَّا يَلِيك } رَوَاهُ الشَّيْخَانِ . أَمَّا أَكْلُ الْمُكَلَّفِ مِمَّا يَلِيهِ فَمَنْدُوبٌ وَمِمَّا يَلِي غَيْرَهُ فَمَكْرُوهٌ وَنَصَّ الشَّافِعِيُّ عَلَى حُرْمَتِهِ لِلْعَالِمِ بِالنَّهْيِ عَنْهُ مَحْمُولٌ عَلَى الْمُشْتَمِلِ عَلَى الْإِيذَاءِ ( وَالْإِنْذَارِ ) { قُلْ تَمَتَّعُوا فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إلَى النَّارِ } وَيُفَارِقُ التَّهْدِيدَ بِذِكْرِ لْوَعِيدِ ( وَالِامْتِنَانِ ) { كُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمْ اللَّهُ } وَيُفَارِقُ الْإِبَاحَةَ بِذِكْرِ مَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ ( وَالْإِكْرَامِ ) { اُدْخُلُوهَا بِسَلَامٍ آمَنِينَ } ( وَالتَّسْخِيرِ ) أَيْ التَّذْلِيلِ وَالِامْتِهَانِ نَحْوُ { كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ } ( وَالتَّكْوِينِ ) أَيْ الْإِيجَادِ عَنْ الْعَدَمِ بِسُرْعَةٍ نَحْوُ كُنْ فَيَكُونُ ( وَالتَّعْجِيزِ ) أَيْ إظْهَارِ الْعَجْزِ نَحْوُ { فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ } ( وَالْإِهَانَةِ ) { ذُقْ إنَّك أَنْتَ الْعَزِيزُ الْكَرِيمُ } ( وَالتَّسْوِيَةِ ) فَاصْبِرُوا أَوْ لَا تَصْبِرُوا ( وَالدُّعَاءِ ) { رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ } ( وَالتَّمَنِّي ) كَقَوْلِ امْرِئِ الْقَيْسِ أَلَا أَيُّهَا اللَّيْلُ الطَّوِيلُ أَلَا انْجَلِي بِصُبْحٍ وَمَا الْإِصْبَاحُ مِنْك بِأَمْثَلِ وَلِبُعْدِ انْجِلَائِهِ عِنْدَ الْمُحِبِّ حَتَّى كَأَنَّهُ لَا طَمَعَ فِيهِ كَانَ مُتَمَنِّيًا لَا مُتَرَجِّيًا ( وَالِاحْتِقَارِ ) { أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ } إذْ مَا يُلْقُونَهُ مِنْ السِّحْرِ وَإِنْ عَظُمَ مُحْتَقَرٌ بِالنِّسْبَةِ إلَى مُعْجِزَةِ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ ( وَالْخَبَرِ ) كَحَدِيثِ الْبُخَارِيِّ { إذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْت } أَيْ صَنَعْت .( وَالْإِنْعَامِ ) بِمَعْنَى تَذْكِيرِ النِّعْمَةِ نَحْوُ { كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ( وَالتَّفْوِيضِ ) { فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ } ( وَالتَّعَجُّبِ ) { اُنْظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَك الْأَمْثَالَ } ( وَالتَّكْذِيبِ ) { قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ } ( وَالْمَشُورَةِ ) { فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى } ( وَالِاعْتِبَارِ ) { اُنْظُرُوا إلَى ثَمَرِهِ إذَا أَثْمَرَ }.

  2. Rujukan:

    الأحكام للآمدي (2/  10)

    احتراز عن صيغة الخبر إذا وردت، ولا تكون خبرا، كالواردة على لسان النائم والساهي والحاكي لها، أو لقصد الامر مجازا كقوله تعالى: * (والجروح قصاص) * (المائدة: 45) وقوله: * (والوالدات يرضعن أولادهن) *  البقرة: 233) * (والمطلقات يتربصن) * (البقرة: 228) * (ومن دخله كان آمنا) * (آل عمران: 97) ونحوه حيث إنه لم يقصد بها الدلالة على النسبة ولا سلبها..

  3. Rujukan:

    كشف الأسرار (1/  215)

    قَوْله تَعَالَى { وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ } ، خَبَرٌ فِي مَعْنَى الْأَمْرِ أَيْ وَلْيَتَرَبَّصْ الْمُطَلَّقَاتُ الْمَدْخُولُ بِهِنَّ مِنْ ذَوَاتِ الْأَقْرَاءِ ، { ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ } أَيْ مُضِيَّ ثَلَاثَةِ قُرُوءٍ عَلَى أَنَّهَا مَفْعُولٌ بِهِ كَقَوْلِك الْمُحْتَكِرُ يَتَرَبَّصُ الْغَلَاءَ ، أَوْ مُدَّةَ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ عَلَى أَنَّهَا ظَرْفٌ ، وَالْمُرَادُ بِالْقُرُوءِ الْحِيَضُ عِنْدَنَا .

  4. Rujukan:

     (4)تفسير ابن كثير (6/  482)

    حاجة أن يغطين وجوههن من فوق رؤوسهن بالجلابيب، ويبدين عينًا واحدة. وقال محمد بن سيرين: سألت عَبيدةَ السّلماني عن قول الله تعالى: { يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ } ، فغطى وجهه ورأسه وأبرز عينه اليسرى. وقال عكرمة: تغطي ثُغْرَة نحرها بجلبابها تدنيه عليها. وقال ابن أبي حاتم: أخبرنا أبو عبد الله الظَّهراني  فيما كتب إليّ، حدثنا عبد الرزاق، أخبرنا مَعْمَر، عن ابن خُثَيْم، عن صفية بنت شيبة، عن أم سلمة قالت: لما نزلت هذه الآية: { يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ } ، خرج نساء الأنصار كأن على رؤوسهن الغربان من السكينة، وعليهن أكسية سود يلبسنها  ..

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.