Headline »

August 20, 2017 – 3:29 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
 
Al-Habib Muhammad bin Abdullah Al-haddar di dalam kitabnya Al-Masyrobus-Shofil-Haniy hal.173 mengisahkan:
Ada seorang laki-laki kaya raya dari Bani Isroil. Ia tidak mempunyai amal baik sama sekali, akan tetapi ia sangat menyukai untuk memberikan …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Featured, Headline

Ahlussunnah: Kedua Orang Tua Nabi Selamat

Submitted by on October 1, 2016 – 5:35 pm

makam-siti-aminah-ibunda-rasulullah

Ahlul Bidah berkata

Dalam kitab Shahihnya, Imam Muslim ra meriwayatkan sebuah hadits :

عن أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قال يا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أبي قال في النَّارِ فلما قفي دَعَاهُ فقال إِنَّ أبي وَأَبَاكَ في النَّارِ ]صحيح مسلم – (1/ 191[(

Dari Anas, bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, dimanakah ayahku ?” Rasulullah menjawab : “Dia di neraka.” Ketika orang tersebut hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya seraya berkata: “ Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka .”(HR Muslim)

Dalam bagian lain dari kitabnya, Imam Muslim ra meriwayatkan hadits :

عن أبي هُرَيْرَةَ قال زَارَ النبي صلى الله عليه وسلم قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى من حَوْلَهُ فقال اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي في أَنْ أَسْتَغْفِرَ لها فلم يُؤْذَنْ لي وَاسْتَأْذَنْتُهُ في أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لي فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ ]صحيح مسلم – (2 / 671 [(

Dari Abi Hurairah, berkata: Nabi saw berziarah ke kubur ibunda beliau, kemudian beliau menangis dan membuat mereka yang ada di sekelilingnya menangis. Lalu Nabi bersabda: “Aku meminta izin pada Tuhanku untuk memohonkan ampun bagi ibuku akan tetapi tidak dikabulkan. Dan aku meminta izin untuk menziarahinya, kemudian aku diizinkan. Maka berziarahlah kalian karena itu dapat mengingatkan kalian akan kematian.” (HR Muslim)

Benarkah kedua orang tua Nabi saw penghuni neraka ?

Ahlus Sunnah Menjawab

Kaum Asy`ariah dan jumhur Syafi’iyah menetapkan bahwa mereka yang wafat pada masa fatrah (sebelum diutusnya Rasul) termasuk golongan yang selamat. Ini berdasar firman Allah SWT :

17_15

“Dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang Rasul.”(Q.S Al Isra`: 15)

Orang tua Nabi wafat sebelum beliau diutus sebagai Rasul, berarti mereka termasuk ahli fatrah yang selamat dari azab. Lagi pula tidak ada keterangan yang jelas bahwa mereka pernah melakukan perbuatan syirik. Bahkan Imam Fakhur Razi ra menyatakan bahwa bukan hanya kedua orang tua Nabi SAW saja yang selamat, akan tetapi semua datuk-datuk beliau sampai Nabi Adam1. Ini sesuai dengan firman Allah SWT:

26_21926_218

“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.” (Q.S. As-Syu’ara’ : 218-219)

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kalimat

تَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِين (perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud ) adalah perpindahan cahaya Nabi dari sulbi seorang ahli sujud (muslim) ke ahli sujud lainnya, sampai dilahirkan sebagai seorang nabi2

Imam Alusi dalam Tafsir Ruhul Ma`ani ketika berbicara mengenai ayat وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ berkata, “ Aku menjadikan ayat ini sebagai dalil atas keimanan kedua orang tua Nabi sebagaimana yang dinyatakan oleh banyak tokoh ahlus sunnah. Dan aku khawatir kufurnya orang yang mengatakan kekafiran keduanya. Semoga Allah merahmati kedua orang tua Nabi…”3

 

Sedangkan mengenai Azar yang disebut dalam Al-Quran sebagai ayah Nabi

6_74

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S Al An`am : 74)

dinyatakan oleh sebagian mufassirin bahwa yang dimaksud dengan Abihi (bapaknya) dalam ayat di atas bukanlah ayah kandung Nabi Ibrahim, akan tetapi ayah asuhnya yang juga adalah pamannya.

Hal ini juga diisyaratkan oleh perkataan Nabi :

لَمْ اَزَلْ اُنْقَلُ مِنْ اَصْلاَبِ الطَّاهِرِيْنَ اِلَى اَرْحَامِ الطَّاهِرَاتِ

“Aku selalu berpindah dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci menuju rahim-rahim perempuan yang suci pula.”

Dalam hadits ini Rasulullah saw menyatakan bahwa kakek dan nenek moyang beliau adalah orang-orang yang suci. Ini menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang-orang musyrik, karena jelas orang-orang musyrik telah dinyatakan najis dalam firman Allah :

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ} [التوبة: 28]

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis.”(At-Taubah : 28) (4)

Ada pun mengenai dua hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, kalau pun kita sepakati sebagai hadits shohih, selayaknya kita tidak mengambil dzohir dari hadits tersebut. Ada hadits-hadits lain tentang peristiwa dihidupkannya kedua orang tua Nabi atas permintaan beliau untuk kemudian diwafatkan kembali setelah mengimani kerasulannya, meski hadits-hadits tersebut tergolong hadits dhaif yang telah dikuatkan dengan ayat-ayat di atas.

Diriwayatkan oleh Ibnu Syahin, Khotib Al Bagdadi, dan Daruqutni dengan sanad dhaif dari `Aisyah :

قَالَتْ حَجَّ بِنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَجَّةَ اْلوَدَاعِ فَمَرَّ بِي عَلَى عُقْبَةِ اْلحَجُوْنِ وَهُوَ بَاكٍ حَزِيْنٌ مُغْتَمٌّ فَنَزَلَ فَمَكَثَ عَنِّي طَوِيْلاً ثُمَّ عَادَ إِلَيَّ وَهُوَ فَرِحٌ مُبْتَسِمٌ فَقُلْتُ لَهُ فَقَالَ ذَهَبْتُ لِقَبْرِ أُمِّي فَسَأَلْتُ اللهَ يُحْيِيْهَا فَأَحْيَاهَا فَآمَنَتْ بِي وَرَدَّهَا اللهُ

Rasulullah berhaji bersama kami dalam Haji Wada kemudian melewatiku di atas Uqbatul Hajun dalam keadaan menangis, sedih, dan gundah. Kemudian beliau singgah dan menjauhiku dalam waktu lama, lalu kembali kepadaku dalam keadaan gembira dan tersenyum. Lalu aku bertanya, dan beliau menjawab: “Aku pergi ke kubur ibuku kemudian aku minta kepada Allah untuk menghidupkannya, kemudian Allah pun menghidupkannya, lalu ibuku beriman kepadaku, kemudian Allah mewafatkannya kembali .”

Diriwayatkan Dari Imam Suhaili dalam kitab Raudhnya:

اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَ رَبَّهُ أَنْ يُحْيِيَ أَبَوَيْهِ فَأَحْيَاهُمَا لَهُ ثُمَّ آمَنَا ثُمَّ أَمَاتَهُمَا

“Sesungguhnya Rasulullah saw memohon kepada Tuhannya untuk menghidupkan kedua orang tuanya, maka Allah hidupkan keduanya baginya, kemudian keduanya beriman, lalu Allah mewafatkan keduanya.” (5)

Menanggapi hadits ini, Imam Al Qurtubi Mengatakan “Tidak ada pertentangan antara hadits dihidupkan kembali orang tua Nabi dan hadits mengenai tidak diizinkannya Rasulullah untuk beristigfar bagi keduanya (hadits Muslim di atas), karena hadits dihidupkannya orang tua nabi datang lebih akhir (terjadi dalam Haji Wada) ketimbang hadits tentang istighfar. Oleh karena itu Ibnu Syahin menjadikannya sebagai Nasikh (hadits yang menghapus) atas hadits sebelumnya.”(6)

Selain itu, Imam Suyuthi menerangkan bahwa Hammad, perowi hadits Muslim di atas diragukan oleh para ahli hadits, dan hadits tersebut hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Padahal, banyak riwayat lain yang lebih kuat darinya seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqosh  :

“اِنَّ اَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ الله اَيْنَ اَبِي قَالَ فِي النَّارِ قَالَ فَأَيْنَ اَبُوْكَ قَالَ حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّرْهُ بِالنَّارِ”

Sesungguhnya a’robi berkata kepada Rasulullah:“Dimana ayahku?” Rasulullah menjawab : “Dia di neraka.” Si a’robi pun bertanya kembali: “ Dimana ayahmu ?” Rasulullah pun menawab: “Sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka. “

Riwayat di atas datang tanpa menyebutkan ayah Nabi di neraka.

Ahli hadits sepakat bahwa Ma’mar dan Baihaqi lebih kuat dari Hammad, sehingga riwayat Ma’mar dan Baihaqi harus didahulukan ketimbang riwayat Hammad.(7)

 

  1. التفسير الكبير – (13 / 33(

    والجواب : لفظ الآية محتمل للكل ، فليس حمل الآية على البعض أولى من حملها على الباقي . فوجب أن نحملها على الكل وحينئذ يحصل المقصود ، ومما يدل أيضاً على أن أحداً من آباء محمد عليه السلام ما كان من المشركين قوله عليه السلام : ( لم أزل أنقل من أصلاب الطاهرين إلى أرحام الطاهرات ) وقال تعالى : { إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ } ( التوبة : 28 ) وذلك يوجب أن يقال : إن أحداً من أجداده ما كان من المشركين .

  2. زاد المسير – (6 / 148149(

    قوله تعالى وتقلبك أي ونرى تقلبك في الساجدين وفيه ثلاثة أقوال أحدها وتقلبك في أصلاب الأنبياء حتى أخرجك رواه عكرمة عن ابن عباس والثاني وتقلبك في الركوع والسجود والقيام مع المصلين في الجماعة والمعنى يراك وحدك ويراك في الجماعة وهذا قول الأكثرين منهم قتادة والثالث وتصرفك في ذهابك ومجيئك في اصحابك المؤمنين قاله الحسن

    الدر المنثور – (6 / 332)

    وأخرج ابن أبي حاتم وابن مردويه وأبو نعيم في الدلائل عن ابن عباس في قوله { وتقلبك في الساجدين } قال : ما زال النبي صلى الله عليه وسلم يتقلب في أصلاب الانبياء حتى ولدته أمه

    روح المعاني – (19 / 137)          

    وعن ابن جبير أن المراد بهم الانبياء عليهم السلام والمعنى ويرى تقلبك كما يتقلب غيرك منن الانبياء عليهم السلام في تبليغ ما أمروا بتبليغه وهو كما ترى وتفسير الساجدين بالأنبياء رواه جماعة منهم الطبراني والبزار وأبو نعيم عن ابن عباس أيضا إلا أنه رضي الله تعالى عنه فسر التقلب فيهم بالتنقل في اصلابهم حتى ولدته أمه عليه الصلاة والسلام وجوز على حمل التقلب على التنقل في الأصلاب أن يارد بالساجدين

  3. روح المعاني – (19 / 138)   

    واستدل بالآية على إيمان أبويه صلى الله تعالى عليه وسلم كما ذهب اليه كثير من أجلة أهل السنة وأنا أخشى الكفر على من يقول فيهما رضي الله تعالى عنهما على رغم أنف على القاريء واضرابه بضد ذلك إلا أني لا أقول بحجية اة ية على هذا المطلب ورؤية الله تعالى انكشاف لائق بشأنه عز شأنه غير الانكشاف العلمي ويتعلق بالموجود والمعدوم الخارجي عند العارفين وقالوا : إن رؤية الله تعالى للمعدوم نظير رؤية الشخص القيامة ونحوها في المنام وكثير من المتكلمين أنكروا تعلقها بالمعدوم ومنهم من أرجعها إلى صفة العلم وتحقيق ذلك في محله وفي وصفه تعالى برؤيته حاله صلى الله عليه وسلم التي بها يستأهل ولايته بعد وصفه بما تقدم تحقيق للتوكل وتوطين لقلبه الشريف عليه الصلاة والسلام عليه

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.