Headline »

August 15, 2017 – 11:58 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Memberikan nama boleh dilakukan kapan saja, tetapi sunahnya dilakukan pada hari ke tujuh dari kelahiran berbarengan dengan akikah dan pemotongan rambut bayi. Sahabat Amar bin Syuaib ra berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Featured, Headline

Mengenal Darah Wanita

Submitted by on September 20, 2016 – 8:45 am

haid

Maraknya pemakaian kontrasepsi KB baik dengan mengkosumsi pil, suntik, spiral maupun lainnya sering mengganggu siklus pendarahan haidh seorang wanita. Fenomena ini diangap enteng sebagian wanita, mereka merasa tidak berkewajiban bertanya tentang kebenaran hitungan haidh mereka, sehingga banyak kita jumpai perempuan yang tidak sholat dengan alasan haidh padahal darah yang keluar tersebut belum tentu darah haidh.

Haidh adalah darah yang keluar secara alami dari ujung rahim perempuan pada waktu-waktu tertentu. Arti kata “alami” disini maksudnya adalah keluar tanpa sebab-sebab tertentu seperti kontraksi rahim pada wanita yang hendak melahirkan, darah yang keluar karena kontraksi bukanlah darah haidh.

Dalil hukum haidh berasal dari ayat:

2_222

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: ‘Haidh itu adalah suatu kotoran’. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita (jangan bersetubuh) di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci (mandi besar). Apabila mereka telah suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

Seorang perempuan dapat mengeluarkan darah haidh jika telah berumur 9 tahun dalam hitungan tahun qomariah dengan toleransi waktu kurang dari 16 hari. Contohnya gadis yang lahir pada 20 Muharram 1400H, kemudian pada tanggal 1 Muharram 1409H dia melihat darah keluar dari kemaluannya, maka darah itu tidak bisa disebut darah haidh karena gadis tersebut belum mencapai 9 tahun. Lain halnya kalau keluarnya darah pada tanggal 10 Muharram 1409H, meski belum mencapai 9 tahun darah yang keluar adalah darah haidh karena ada toleransi kurang dari 16 hari.

Haidh memiliki masa minimum, standart, dan maksimum. Paling sedikitnya haidh adalah sehari semalam atau 24 jam dan paling banyaknya haidh 15 hari, dan kebanyakan wanita mengeluarkan darah haidh 7-8 hari. Dalil ditetapkannya masa-masa haidh adalah riset yang dilakukan oleh Imam Syafi’i terhadap para wanita yang ada di masanya. Oleh karena itu jika ada sekelompok wanita memiliki kebiasaan yang bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan Imam Syafi’i maka kita katakan bahwa darah yang keluar adalah darah istihadloh (rusak). Ketentuan ini lebih baik dari pada harus merubah ketentuan yang pernah ada, karena penelitian ulama-ulama terdahulu lebih sempurna.

Sifat haidh

Darah haidh memiliki beberapa sifat, warna hitam, merah, merah yang agak kuning, kuning, keruh (kuning pudar), kadang memiliki bau yang tidak sedap, dan kadang keluarnya kental. Seorang perempuan belum dinyatakan suci dari haidh jika masih ada warna kuning atau bercak-bercak kuning. Dalam sebuah hadits riwayat Al-Imam Bukhori ra diceritakan, ada perempuan yang mengutus budaknya untuk datang ke tempat Sayidah ‘Aisyah ra dengan membawa wadah berisi kapas belepotan warna kuning, maka Sayyidah ‘Aisyah berkata, jangan terburu-buru sehingga kamu melihat warna putih. Artinya jangan terburu-buru sholat sebelum kamu betul-betul suci dengan tidak keluarnya cairan kuning dan keruh.

Darah yang keluar di masa kehamilan jika memenuhi syarat-syaratnya haidh juga dihukumi haidh. Darah haidh terkadang keluar dengan terputus-putus dan kadang pula tidak, darah yang sehari keluar dan sehari tidak semuanya dihukumi haidh beserta masa bersihnya dengan 2 syarat, pertama: tidak melebihi 15 hari, jika darah kedua datang setelah hari ke 15 maka tidak lagi disebut haidh karena waktu maksimum haidh adalah 15 hari. Kedua: jumlah keseluruhannya tidak kurang dari 24 jam, jika ternyata jumlah keseluruhannya tidak mencapai 24 jam maka semua darah tersebut dihukumi darah istihadloh.

Contoh, seorang wanita mengeluarkan darah 3 hari kemudian bersih sampai di hari ke sepuluh keluar darah lagi, darah yang terakhir dihukumi darah haidh. Berbeda jika keluar darah 10 hari, bersih 5 hari dan keluar darah lagi di hari ke 16 maka darah di hari ke 16 tidak lagi disebut darah haid. Dan seorang wanita yang dalam 6 hari melihat darah setiap harinya 3 jam semua darahnya tidak dinamakan haidh melainkan istihadloh.

Bersihnya kemaluan dari cairan kuning dan keruh merupakan tanda sucinya perempuan dari haid, yaitu jika dia memasukkan kapas pada kemaluannya akan keluar bersih tidak terkotori oleh bercak-bercak kuning, tentunya jika darah tersebut telah mencapai waktu minimun haidh yaitu sehari semalam. Dengan demikian dia wajib mandi besar, melakukan sholat, puasa (di bulan puasa), dan halal bagi suaminya untuk menyetubuhinya. Jika dalam waktu dekat darahnya keluar kembali, berarti darah haidhnya masih berlanjut, puasa yang telah dilakukan harus diqodlo dan tidak ada dosa dengan persetubuhan yang telah dilakukan karena mereka melakukannya atas dasar hukum dlohir bahwa sang istri telah suci.

Suci antara 2 haidh

Paling sedikitnya suci antara 2 haidh adalah 15 hari, sebab jika paling banyaknya haidh adalah 15 hari maka paling sedikitnya suci harus 15 hari karena biasanya dalam sebulan seorang wanita tidak kosong dari haidh dan suci. Masa suci pada umumnya sisa bulan dari masa haidh dan tidak ada waktu maksimum untuk suci karena seorang perempuan terkadang tidak keluar haidh sama sekali atau keluar haidh hanya sekali seumur hidupnya.

Darah yang keluar sebelum selesainya masa suci tidak disebut darah haidh, dan perempuan tersebut dinyatakan sebagai perempuan yang memiliki sisa masa suci. Contoh, perempuan yang keluar haidh 7 hari kemudian suci 10 hari setelah itu keluar darah 5 hari, darah yang terakhir tidak disebut darah haidh karena masa sucinya masih kurang 5 hari, jadi dalam 5 hari terakhir tadi wanita tersebut tetap dihukumi suci.

Nifas adalah darah yang keluar setelah kosongnya rahim dari janin (termasuk gumpalan daging atau darah jika para bidan bayi mengatakan bahwa itu adalah calon janin). Dengan syarat keluarnya darah sebelum selang 15 hari dari waktu melahirkan. Wanita yang melahirkan tanpa mengeluarkan darah, kemudian setelah 15 hari ada darah keluar, maka itu adalah darah haidh.

Dalil dalam masalah nifas adalah hadits Ummi Salamah ra, perempuan-perempuan yang nifas pada zaman Rasulullah SAW duduk (menungu nifas mereka) selama 40 hari.

Masa maksimum nifas 60 hari, masa minimumnya sebentar (sekali keluar), dan umumnya wanita mengeluarkan darah selama 40 hari. Hukum nifas dimulai sejak keluarnya darah namun hitungan 60 hari terhitung sejak melahirkan. Jika ada wanita setelah melahirkan tidak mengeluarkan darah sampai 10 hari kemudian di hari ke 11 keluar darah 50 hari, maka secara hitungan dia telah mengalami nifas 60 hari namun pada 10 hari pertama dia dihukumi suci dan wajib melakukan sholat dan puasa sebagaimana perempuan yang suci.

Nifas yang terputus

Wanita yang sedang nifas melihat beberapa hari darah dan beberapa hari bersih, jika masa bersihnya mencapai 15 hari maka darah yang kedua adalah darah haidh, begitu juga kalau darah yang kedua datang setelah 60 hari. Seluruh darah akan disebut nifas jika tidak melebihi 60 hari dan masa sela tidak mencapai 15 hari. Contoh, (1) keluar darah nifas selama 20 hari, bersih 10 hari kemudian keluar darah lagi 20 hari, semuanya dikatakan nifas karena masa selanya cuma 10 hari, (2) nifas 30 hari, bersih 20 hari kemudian keluar darah lagi 6 hari maka darah yang kedua dihukumi darah haidh, (3) nifas 58 hari, bersih 5 hari kemudian datang darah lagi 10 hari, darah yang kedua dihukumi haidh karena datangnya setelah hari ke 60.

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa darah yang dilihat orang hamil dihukumi haidh jika memenuhi syaratnya haidh, oleh karena itu tidak ada masa minimum antara haidh dan nifas. Contoh, seorang wanita hamil mengalami menstruasi 5 hari seperti kebiasaannya tiap bulan sejak sebelum hamil, kemudian darah tersebut bersambung dengan melahirkan, maka darah yang keluar setelah melahirkan adalah darah nifas dan darah yang keluar sebelum melahirkan adalah darah haidh, begitu juga darah yang keluar bersama keluarnya anak.

Jarak minimum suci antara nifas dan haidh adalah lima belas hari jika terjadi dalam kurun 60 hari terhitung dari melahirkan. Adapun suci seusai 60 hari atau suci yang menyempurnakan 60 hari maka tidak disyaratkan mencapai 15 hari. Contoh, nifas 60 hari kemudian suci sehari setelah itu keluar darah 5 hari, darah yang kedua adalah haidh meskipun sucinya cuma sehari, begitu juga jika nifas 59 hari kemudian suci sehari dan keluar darah 5 hari, darah yang kedua juga dihukumi haidh.

Ada 11 larangan yang harus dijauhi perempuan yang haidh atau nifas. yaitu sholat, thowaf, menyentuh mushhaf dan membawanya, diam di masjid, membaca al-Qur’an, puasa, cerai, melewati masjid jika takut mengotori, bersenang-senang di antara lutut dan pusar, dan bersuci untuk beribadah.

Kewajiban wanita seputar haidh dan nifas

Pengetahuan mengenai haidh dan nifas adalah termasuk ilmu wajib yang harus dituntut oleh kaum hawa, jika orang tua atau suaminya mengerti hukum mengenai haidh dan nifas maka wajib bagi mereka untuk mengajarkannya pada anak dan istrinya. Namun jika mereka juga tidak mengerti hukum, maka seorang wanita harus keluar rumah untuk menuntut ilmu tersebut dari orang lain dan haram bagi orang tua atau suami untuk mencegah, kecuali jika mereka mau keluar dan bertanya untuk anak istri mereka.

Seyogyanya sebagai seorang wanita wajib mengerti tentang hal-hal yang berhubungan dengan kewanitaan karena hal ini erat sekali hubungannya dengan syah atau tidaknya kewajiban ibadah. Semoga tulisan ini menjadi suport bagi para wanita untuk menuntut kewajiban mereka dengan meluangkan waktu dari sisi kehidupan dunia mereka. Ust.Zahid

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.