Headline »

June 29, 2017 – 5:55 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pertanyaan::
saya pernah membaca sebuah buku kecil. disitu di sebutkan bahwa Allah menciptakan sumber air di bumi yg bernama “ainul hayat “. Barang siapa yang meminumnya seteguk,maka ia tidak akan mati sampai hari …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Headline, Uncategorized

MERENUNGKAN KEBESARAN ALLAH

Submitted by on September 14, 2016 – 5:44 am

Kita memang jarang sekali meluangkan waktu untuk merenungkan ciptaan-ciptaan Allah di alam semesta dan jagad raya ini. Berapa sering dalam hidup ini kita bermeditasi, memikirkan keagungan dan kesempurnaan ciptaan yang Maha Kuasa, yang seandainya kita lakukan dengan benar, tentu akan menanamkan keyakinan yang semakin kuat bahwa apa yang kita anut selama ini adalah yang haq dan benar.
Bulan yang bersinar di malam hari, matahari yang memberikan kehidupan pada semua mahkluk di permukaan bumi, tumbuh-tumbuhan yang dengan turunnya hujan menjadi hidup dan memberikan manfaat pada manusia dan marga satwa, ekosistem yang menjadikan kehidupan ini menjadi seimbang serta perputaran sempurna antara siang dan malam. Semua fenomena alam ini berlangsung didalam kehidupan manusia tanpa banyak menarik perhatian kita. Udara yang kita hirup kedalam paru-paru dan sudah termuati dengan O¬2¬ seolah menjadi konsumsi biasa pada setiap orang. Kita lupa bahwa oksigen yang kita peroleh free of charge (gratis) ini sama sekali bukanlah hak melainkan anugerah sebab hak diperoleh seseorang setelah menyelesaikan kewajiban padahal bayi yang baru lahir dan dilengkapi kemampuan menghirup oksigen belum melakukan apapun juga kecuali menangis! Tahukah kita berapa lama toleransi otak manusia tanpa oksigen? empat menit! sel-sel otak manusia akan mengalami berbagai macam kerusakan dan bahkan kematian setelah konsumsi oksigen ke otak terhenti selama empat menit. Lalu, apa yang dapat diungkap dari gejala dan peristiwa-peristiwa alam diatas?
Keseragaman, kesempurnaan dan keharmonisan kerja alam semesta yang tak pernah terusik ini memberikan isyarat yang amat jelas sebagai manifestasi dari ke-Esaan dan Supremasi yang tiada tertandingi dari Sang Maha Pencipta. Oleh karena itu, keseragaman dan keharmonisan pada obyek dan pola kerja alam semesta memang tiada henti-hentinya diacu oleh Al-Qur’an sebagai tanda ke-Esaan penciptanya.
Perhatikanlah enam aspek penting dibawah ini yang merupakan indicator atau petunjuk regularitas (kerapian; keteraturan) eksistensi, yang masing-masing merupakan simbol indikasi kekekalan, Zat Maha Sempurna, Allah Yang Maha Esa. Keenam aspek yang akan kita bahas dalam kesempatan ini adalah yang terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 164 yang kira-kira maksudnya :
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang bermanfaat bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi setelah mati dan Dia sebarkan di bumi itu segala spesies hewan, serta perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi. Sungguh pada semua itu terdapat tanda-tanda ke-Esaan dan kebesaran Allah bagi kaum yang mau berpikir.”
Simbol pertama pada ayat diatas yang mengacu pada ke-Esaan Sang Pencipta adalah penciptaan tata surya dan bumi : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi …… “
Alam semesta yang luar biasa beserta semua bintang dan planetnya, termasuk pula berjuta-juta matahari yang sebagian berkerlipan di malam hari atau yang tampak jauh dibalik teleskop-teleskop raksasa, semua itu merupakan tanda kebesaran dan refleksi pengetahuan dan ke-EsaanNya.
Sungguhlah sangat mengherankan bahwa semakin bertambah ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia, semakin banyak pula rahasia alam semesta yang tak dapat diungkapkannya.
Dewasa ini para ilmuwan dan pakar astronomi berpendapat bahwa masih terdapat beribu-ribu galaksi di alam semesta dimana solar sistem kita hanya merupakan satu bagian. Di galaksi kita saja, terdapat beratus juta matahari dan bintang yang menurut data ilmuwan beberapa juta planet diantaranya tak dapat dihuni . Betapa besar dan hebatnya Dia !
Menyangkut eksistensi makhluk hidup baik di bumi maupun di planet yang lain, berbagai ayat Al-Qur’an telah mengisyaratkan hal ini. Disamping itu, telah banyak pula ditulis buku-buku ilmiah baik oleh sarjana-sarjana muslim atau non muslim antara lain :
“The Earth, the Sky and the Stars from the View of the Qur’an” karya Dr. Muhammad Sadiqi
“The Qur’an and the Modern Science” karya Abdul-Qani Al-Khatib
“Galaxies and Quasars” karya William J. Kaufmann (Department of Physics, Sandiego, State University)
Indikator kedua tampak pada perubahan siang malam yang tiada pernah berhenti. Bagian dari ayat ini berbunyi : “silih bergantinya perubahan siang dan malam ……”
Perubahan siang dan malam yang terus menerus terjadi, hilangnya kegelapan dan datangnya surya, keajegan antara yang satu dan lainnya serta perbedaan antara satu belahan bumi dengan belahan bumi lainnya dimana yang satu lebih panjang atau lebih singkat dari yang lain sehingga menyebabkan perbedaan musim dan evolusi pada tanaman, tumbuh-tumbuhan dan binatang, semuanya adalah bukti dari sifat dan keberadaan yang Maha Mulia.
Andaikan perubahan-perubahan bertahap ini tiada terjadi, atau terjadi tanpa aturan, atau yang ada cuma siang saja atau malam saja, maka yang namanya kehidupan pasti tak akan pernah ada di seantero bumi ini.
Selanjutnya ayat ini menunjuk pada bahtera yang berlayar di lautan dan membawa berbagai keuntungan bagi manusia :
“ …… dan bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang bermanfaat bagi manusia ……”
Didalam mencapai berbagai tujuannya, manusia berlayar mengharungi lautan dan samudera menuju berbagai belahan bumi. Ada bermacam faktor yang memungkinkan manusia bisa melakukan kegiatan ini :
Yang pertama adalah angin dari lautan menuju daratan atau sebaliknya, termasuk angin kutub utara dan selatan yang tak pernah berhenti berhembus.
Faktor yang lain adalah sifat alami dari kayu terhadap tekanan air yang memungkinkannya melayang diatas air.
Disamping diatas, tatanan bintang di langit yang dapat memandu manusia menuju arah tertentu juga menjadi faktor yang penting.
Gabungan antara semua faktor inilah yang telah memungkinkan bahtera-bahtera ini dengan segala manfaat yang dibawanya menjadi nyata. Bukankah semua ini merupakan bukti esensiNya yang luar biasa?
Dewasa ini, dengan ditemukannya mesin-mesin kapal berkekuatan besar maka manusia pun menciptakan kapal-kapal raksasa yang banyak diantaranya dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern seperti arena olahraga, pusat bermain, pleasure centers dan bahkan pusat perbelanjaan. Diatas beberapa kapal super modern ini manusia pun mampu membangun airport yang dapat dipakai untuk mendarat dan tinggal landas pesawat.
Berikutnya adalah faktor air hujan yang dicurahkan dari langit dan memberikan kehidupan pada bumi. Bagian ayat ini berbunyi :
“ …… dan air yang dicurahkan Allah dari langit dan menghidupkan bumi setelah sebelumnya kering dan mati serta disebarkannya di permukaan bumi itu segala spesies binatang ……”
Demikianlah kenyataannya, dimana tetes-tetes air diturunkan, disitulah kehidupan, kesegaran, berkah, kemakmuran dan aktivitas terlihat. Air hujan yang luar biasa dan dicurahkan dengan aturan tertentu kemudian terus-menerus menyirami semua tanaman dan makhluk hidup adalah bukti segala kekuasaan dan kebesaranNya.
Adapun menyangkut hembusan angin baik yang biasa terjadi dalam kehidupan manusia sehari-hari atau tidak, digambarkan pada :
“ …… dan didalam perubahan perkisaran angin ……”
Angin tidak saja berhembus di atas lautan dan samudera yang kemudian menyebabkan kapal-kapal bergerak, tapi juga bertiup di atas permukaan tanah, gunung, lembah dan padang. Adakalanya angin menghembuskan benang sari ke putik sehingga membantu proses fertilisasi dan menghasilkan buah-buahan bagi manusia. Angin juga menebarkan bermacam benih di berbagai tempat untuk tumbuh. Gelombang lautpun seringkali digerakkan oleh angin sehingga menciptakan kondisi yang kondusif bagi makhluk hidup di alam semesta.
Dengan memindahkan udara panas dari daerah-daerah yang panas ke daerah-daerah yang dingin, dan memindahkan udara dingin dari daerah-daerah dingin ke daerah-daerah panas, angin berperan sangat efektif di dalam mempertahankan iklim bumi agar tetap moderat.
Adakalanya angin juga menghalau polusi dan udara beracun di kota-kota besar keluar ke arah gurun dan hutan sehingga kota-kota yang tidak mempunyai oksigen yang cukup dapat menjadi sehat dan segar untuk dapat dihuni manusia dan makhluk hidup lainnya.
Ya …… tak diragukan lagi bahwa angin yang berhembus dan membawa banyak keuntungan dan berkah merupakan tanda yang lain dari Yang Maha Bijak lagi Pemberi Berkah.
Indikator terakhir yang diacu oleh ayat ini adalah tentang awan yang bergantung diantara langit dan bumi, berarak ke segala penjuru sambil membawa berjuta-juta ton air dengan mudahnya tanpa sedikitpun mengancam keselamatan manusia. Awanpun merupakan salah satu tanda keagungan Sang Pencipta. Dalam surat ini Allah berfirman :
“ …… dan awan yang dikendalikanNya diantara langit dan bumi ……”
Andaikan saja tidak ada manajemen irigasi dari awan, maka tidak akan ada air yang dapat diminum manusia, tak akan ada mata air atau aliran yang dapat menumbuhkan tanaman, dan dimana-mana yang akan terlihat hanyalah ketandusan dan kematian. Inipun menjadi bukti Pengetahuan dan Keperkasaan Allah.
Semua indikator di atas jelas menjadi tanda bukti keberadaan Yang Maha Esa. Di penghujung ayat ini Allah berseru : “ …… jelaslah terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang dapat berpikir.”
Namun bagi mereka yang tak pernah sadar dan picik, yang punya indera mata tanpa penglihatan atau punya indera telinga tanpa pendengaran, tentu semua ini tiada tampak. Tata surya di alam semesta, perubahan siang malam yang tiada henti, bahtera yang berlayar di lautan dengan segala keuntungan yang ditimbulkannya, air hujan yang tercurah ke bumi, angin yang berhembus dari segala penjuru, serta awan yang berarak, semua itu adalah bukti ke-Esaan, kebesaran dan keperkasaan Allah. Mengapa kita enggan merenungkannya ……?

Oleh Drs. Husein Shahab
Dosen Sastra Inggris – Fakultas Sastra
Universitas Airlangga Surabaya

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.