Headline »

October 19, 2017 – 6:10 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
 
Anak kecil terkadang dianggap remeh, dan tidak berguna. Namun ternyata anak kecil bisa mengajarkan kepada kita ilmu tentang kewalian.
 
قال الامام السيوطي: خمس خصال في الاطفال لو كانت في الكبار مع ربهم لكانوا …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Headline

Arti Sebenarnya Hadits Man Kuntu Maulahu (1)

Submitted by on August 10, 2016 – 12:26 am

man

Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ كُنْتُ مَوْلاَهُ فَعَلِيٌّ مَوْلاَهُ اَللهم وَالِ مَنْ وَالاَهُ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَهُ وَعَادِ مَنْ عَادَاهُ
“Setiap orang yang Aku adalah maulanya, maka Ali adalah maulanya juga. Wahai Allah, jadikanlah wali orang yang menjadikan Sayidina Ali sebagai wali, dan tolonglah orang yang menolongnya, serta musuhilah orang yang memusuhinya.” (HR Turmudzi)

Kaum Syiah menjadikan hadits ini sebagai pondasi dan hujjah utama untuk menguatkan pendapat mereka mengenai hak Imam Ali untuk menjadi khalifah yang wajib ditaati setelah wafatnya Rasulullah. Hadits ini juga dijadikan dasar dalam menetapkan tidak-sahnya kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Utsman karena mereka dianggap telah merampas kekhalifahan dari tangan yang berhak, yaitu Imam Ali. Mereka sampai pada kesimpulan demikian karena mereka mengartikan lafadz “maula”  yang ada dalam hadits di atas dengan arti pemimpin / imam yang wajib ditaati. Dengan begitu makna hadits tersebut menurut mereka adalah :
“Setiap orang yang aku adalah pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya juga. Wahai Allah, Jadikanlah pemimpin orang yang menjadikan Sayidina Ali sebagai pemimpin, dan tolonglah orang yang menolongnya, serta musuhilah orang yang memusuhinya.”(1)

Kami menjawab:
Dalam Bahasa Arab, lafadz “maula” mempunyai makna yang beragam. Bahkan sebagian ahli Bahasa ada yang memaparkan lebih dari dua puluh makna, di antaranya adalah, al maalik / as sayid (pemilik/tuan), al `abdu / al mamluk (budak / hamba), al mu’tiq (orang yang memerdekakan budak), al mu’taq (budak yang dimerdekakan), as shoohib (teman atau pemilik), al qoriib (kerabat), al jaar (tetangga), al haliif  (orang yang mengikat perjanjian), al ibnu (anak laki-laki), al `amm (paman dari pihak ayah), an naziil (tamu), asy syariik (sekutu),  ibnul ukhti (anak laki-laki dari saudara perempuan), al walii (penolong, orang yang ditolong, orang yang mengurusi suatu urusan, dan lain-lain), ar robbu (tuhan,  pemilik, dan lain-lain ), an  naashir (penolong),al  mun’im (yang memberi nikmat), al mun`am `alaih (yang diberi nikmat), al muhib (pecinta), at taabi’(pengikut), ash shihr (ipar), dan al aulaa bisy syaii (yang paling berhak atas sesuatu)(2).
Jika kita cermati, tidak ada pengertian imam / pemimpin yang wajib ditaati di antara makna-makna di atas. Kalau pun kita mau memaksakan, maka makna yang paling dekat dengan arti pemimpin adalah al aulaa bisy syaii (yang paling berhak atas sesuatu). Itu pun jika kita menafsirkan syaii dengan imamah (kepemimpinan). Jadi al aulaa bisy syaii kita artikan yang paling berhak atas kepemimpinan.
Akan tetapi, kemudian timbul masalah baru. Pertama, jumhur ahli lughoh mempermasalahkan pengertian lafadz “maula” dengan al aulaa bisy syaii (اَلْاَوْلىَ بِالشَّيْءِ).  Mereka tidak sependapat mengartikan lafadz  “maula” dengan al aulaa bisy syaii, karena dalam Bahasa Arab tidak ditemukan lafadz bershigot maf`al (dalam hal ini مَوْلىَ) yang bermakna af`al (yaitu اَوْلىَ). Kedua, baiklah kita ikuti pendapat yang menyatakan bahwa maula bisa diartikan dengan al aulaa bisy syaii (yang paling berhak atas sesuatu). Pertanyaannya kemudian, berhak atas apa? Atas dasar apa kita mengatakan bahwa yang dimaksud al aulaa bisy syaii adalah yang paling berhak untuk memimpin? Buktinya di dalam Al Quran disebutkan :

 

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ (68)

Artinya :
“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.“ (QS Ali Imran : 68)
Kata Aula bi Ibrohim dalam ayat di atas tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah kepemimpinan, tetapi bersifat menjelaskan mengenai kedekatan hubungan (3). Jika kita arahkan lafadz aula dalam ayat ini kepada kepemimpinan, makna ayat ini akan menjadi tidak jelas sebab akan cenderung berarti ada banyak pengganti Nabi Ibrahim dalam kepemimpinan setelah beliau wafat, dan jelas itu bukan yang dimaksud dalam ayat ini.
Di samping itu, jika kita mengartikan lafadz “maula” dengan pemimpin, maka makna hadits tersebut akan menjadi rancu. Ucapan Rasul  مَنْ كُنْتُ مَوْلاَهُ فَعَلِيٌّ مَوْلاَهُ akan berarti “setiap orang yang aku adalah pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya juga.” Ini berarti ada dua orang yang menjadi pemimpin di masa hidup Rasul, beliau sendiri dan Imam Ali. Jelas ini tidak dapat diterima, karena pada kenyataannya yang memegang tampuk kepemimpinan selama Rasul masih hidup hanyalah beliau seorang.
Kemudian perkataan Rasul   اللهم وَالِ مَنْ وَالاَهُ akan memiliki arti “Ya Allah, pimpinlah orang yang memimpin Sayidina Ali.” Ini akan menimbulkan pengertian yang kacau karena berarti kita memohon agar Allah memimpin yang memimpin Sayidina Ali, padahal yang dimaksud adalah doa bagi pengikut Sayidina Ali.
Jika kita artikan وَالِ  dengan menjadikan pemimpin, maka maknanya menjadi  “Ya Allah, jadikanlah pemimpin orang yang menjadikan Sayidina Ali sebagai pemimpin”. Ini tentu lebih kacau lagi, karena itu berarti Rasulullah berdoa agar semua orang yang menjadikan Imam Ali sebagai pemimpin, juga dijadikan Allah sebagai pemimpin. Dengan begitu, akan muncul banyak pemimpin dalam satu masa, sesuatu yang mustahil.
Jika kita tetap bersikeras untuk mengartikan maula dengan arti pemimpin atau yang paling berhak untuk memimpin , ini tidak harus menjadi petunjuk bahwa Imam Ali  berhak untuk menjadi khalifah tepat setelah Rasulullah wafat, karena dalam hadits tersebut Rasul tidak mengatakanمِنْ بَعْدِي  (setelahku). Bisa saja kita katakan bahwa Imam Ali memang berhak menjadi khalifah akan tetapi itu setelah kekhalifahan Sayidina Utsman, bukan setelah wafatnya Rasul(4).
Seluruh kemusykilan ini akan hilang dengan sendirinya jika kita maknai lafadz maula pada hadits di atas dengan penolong (wali). Dengan demikian, arti hadits diatas akan menjadi jelas, yaitu:
“Setiap orang yang aku adalah penolongnya, maka Ali adalah penolongnya juga. Wahai Allah, tolonglah orang yang menolongnya, dan bantulah orang yang membantunya, serta musuhilah orang yang memusuhinya.”

Menjadi jelaslah bahwa pada hakikatnya hadits ini adalah ungkapan mengenai keutamaan (fadhilah) Imam Ali, bukan isyarat mengenai kekhalifahan beliau seperti anggapan kaum Syiah(5).

Referensi

 

 (1)بحار الأنوار – العلامة المجلسي – ج ٣٧ – الصفحة ٢٢٧

من كنت مولاه ” أني أولى به فقد جعل ذلك لعلي بن أبي طالب عليه السلام بقوله صلى الله عليه وآله:
” فعلي مولاه ” لأنه لا يصلح أن يكون عنى بقوله: ” فعلي مولاه ” قسما من الأقسام التي أحلنا أن يكون النبي عناها في نفسه، لان الأقسام هي أن يكون مالك رق أو معتقا أو معتقا أو ابن عم أو عاقبة أو خلفا أو قداما، فإذا لم يكن لهذه الوجوه فيه صلى الله عليه وآله معنى لم يكن لها في علي عليه السلام أيضا معنى، وبقي ملك الطاعة فثبت أنه عناه، وإذا وجب ملك طاعة المسلمين لعلي عليه السلام فهو معنى الإمامة، لان الإمامة إنما هي مشتقة من الايتمام بالانسان، والايتمام هو الاتباع والاقتداء، والعمل بعمله والقول بقوله، وأصل ذلك في اللغة: سهم يكون مثالا يعمل عليه السهام، ويتبع بصنعه صنعها وبمقداره مقدارها، فإذا وجبت طاعة علي عليه السلام على الخلق استحق معنى الإمامة.

 (2)القاموس المحيط – (ج 3 / ص 486)

والمَوْلَى المالِكُ، والعَبْدُ، والمُعْتِقُ، والمُعْتَقُ، والصاحِبُ، والقريبُ كابنِ العَمِّ ونحوِه، والجارُ، والحَليفُ، والابنُ، والعَمُّ، والنَّزيلُ، والشَّريكُ، وابنُ الأُخْتِ، والوَلِيُّ، والرَّبُّ، والناصِرُ، والمُنْعِمُ والمُنْعَمُ عليه، والمُحِبُّ، والتابعُ، والصِّهْرُ.

الفروق اللغوية – (ج 1 / ص 578)

والمولى على وجوه هو السيد والمملوك والحليف وإبن العم والاولى بالشئ والصاحب ومنه قول الشاعر: ولست بمولى سوأة أدعى لها * فإن لسوآت الامور مواليا أي صاحب سوأة، وتقول الله مولى المؤمنين بمعنى أنه معينهم ولا يقال إنهم مواليه بمعنى أنهم معينوا أوليائه كما تقول إنهم أولياؤه بهذا المعنى.

الفروق اللغوية – (ج 1 / ص 577)

الفرق بين الولي والمولى: أن الولي يجري في الصفة على المعان والمعين تقول الله ولي المؤمنين أي معينهم، والمؤمن ولي الله أي المعان بنصر الله عزوجل، ويقال أيضا المؤمن ولي الله والمراد أنه ناصر لاوليائه ودينه، ويجوز أن يقال الله ولي المؤمنين بمعنى أنه يلي حفظهم وكلاءتهم كولي الطفل المتولي شأنه، ويكون الولي على وجوه منها ولي المسلم الذي يلزمه القيام بحقه إذا احتاج إليه، ومنها الولي الحليف المعاقد، ومنها ولي المرأة القائم بأمرها، ومنها ولي المقتول الذي هو أحق بالمطالبة بدمه.

 (3)تفسير الألوسي (5/  70)

 وأولوية التصرف عين الإمامة ، ولا يخفى أن أول الغلط في هذا الاستدلال جعلهم المولى بمعنى الأولى ، وقد أنكر ذلك أهل العربية قاطبة بل قالوا : لم يجىء مفعل بمعنى أفعل أصلاً ، ولم يجوز ذلك إلا أبو زيد اللغوي متمسكاً بقول أبي عبيدة في تفسير قوله تعالى : { هِىَ مولاكم } [ الحديد : 15 ] أي أولى بكم . وردّ بأنه يلزم عليه صحة فلان مولى من فلان كما يصح فلان أولى من فلان ، واللازم باطل إجماعاً فالملزوم مثله ، وتفسير أبي عبيدة بيان لحاصل المعنى ، يعني النار مقركم ومصيركم والموضع اللائق بكم ، وليس نصاً في أن لفظ المولى ثمة بمعنى الأولى ، والثاني أنا لو سلمنا أن المولى بمعنى الأولى لا يلزم أن يكون صلته بالتصرف ، بل يحتمل أن يكون المراد أولى بالمحبة وأولى بالتعظيم ونحو ذلك ، وكم قد جاء الأولى في كلام لا يصح معه تقدير التصرف كقوله تعالى : { إِنَّ أَوْلَى الناس بإبراهيم لَلَّذِينَ اتبعوه وهذا النبى والذين ءامَنُواْ } [ آل عمران : 68 ] على أن لنا قرينتين على أن المراد من الولاية من لفظ المولى أو الأَوْلَى : المحبة ،

 (4)مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح (17/  449)

ولو سلم أنه بمعنى الأولى بالإمامة فالمراد به المآل وإلا لزم أن يكون هو الإمام مع وجوده عليه السلام فتعين أن يكون المقصود منه حين يوجد عقد البيعة له فلا ينافيه تقديم الأئمة الثلاثة عليه لانعقاد اجماع من يعتد به حتى من علي ثم سكوته عن الاحتجاج به إلى أيام خلافته قاض على أن من له أدنى مسكة بأنه علم منه أنه لا نص فيه على خلافته عقب وفاته عليه السلام مع أن عليا كرم الله وجهه صرح نفسه بأنه صلى الله عليه وسلم لم ينص عليه ولا على غيره ثم هذا الحديث مع كونه آحادا مختلف في صحته فكيف ساغ للشيعة أن يخالفوا ما اتفقوا عليه من اشتراط التواتر في أحاديث الإمامة

 (5)تفسير القرطبي – (ج 1 / ص  269/266)

السادسة – في رد الاحاديث التي احتج بها الامامية في النص على علي رضي الله عنه، وأن الامة كفرت بهذا النص وارتدت، وخالفت أمر الرسول عنادا، منها قوله عليه السلام: (من كنت مولاه فعلي مولاه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه). قالوا: والمولى في اللغة بمعنى أولى، فلما قال: (فعلي مولاه) بفاء التعقيب علم أن المراد بقوله ” مولى ” أنه أحق وأولى. فوجب أن يكون أراد بذلك الامامة وأنه مفترض الطاعة، وقوله عليه السلام لعلي: (أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبي بعدي). قالوا: ومنزلة هارون معروفة، وهو أنه كان مشاركا له في النبوة ولم يكن ذلك لعلي، وكان أخا له ولم يكن ذلك لعلي، وكان  خليفة، فعلم أن المراد به الخلافة، إلى غير ذلك مما احتجوا به على ما يأتي ذكره في هذا الكتاب إن شاء الله تعالى. والجواب عن الحديث الاول: أنه ليس بمتواتر، وقد اختلف في صحته، وقد طعن فيه أبو داود السجستاني وأبو حاتم الرازي، واستدلا على بطلانه بأن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (مزينة وجهينة وغفار وأسلم موالي دون الناس كلهم ليس لهم مولى دون الله ورسوله). قالوا: فلو كان قد قال: (من كنت مولاه فعلي مولاه) لكان أحد الخبرين كذبا. جواب ثان – وهو أن الخبر وإن كان صحيحا رواه ثقة عن ثقة فليس فيه ما يدل على إمامته، وإنما يدل على فضيلته، وذلك أن المولى بمعنى الولي، فيكون معنى الخبر: من كنت وليه فعلي وليه، قال الله تعالى: ” فإن الله هو مولاه ” [ التحريم: 4 ] أي وليه. وكان المقصود من الخبر أن يعلم الناس أن ظاهر علي كباطنه، وذلك فضيلة عظيمة لعلي. جواب ثالث – وهو أن هذا الخبر ورد على سبب، وذلك أن أسامة وعليا اختصما، فقال علي لاسامة: أنت مولاي. فقال: لست مولاك، بل أنا مولى رسول الله صلى الله عليه وسلم، فذكر للنبي صلى الله عليه وسلم، فقال: (من كنت مولاه فعلي مولاه). جواب رابع: وهو أن عليا عليه السلام لما قال للنبي صلى الله عليه وسلم في قصة الافك في عائشة رضي الله عنها: النساء سواها كثير. شق ذلك عليها، فوجد أهل النفاق مجالا فطعنوا عليه وأظهروا البراءة منه، فقال النبي صلى الله عليه وسلم هذا المقال ردا لقولهم، وتكذيبا لهم فيما قدموا عليه من البراءة منه والطعن فيه، ولهذا ما روي عن جماعة من الصحابة أنهم قالوا: ما كنا نعرف المنافقين على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا ببغضهم لعلي عليه السلام.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.