Headline »

December 11, 2017 – 3:06 am | Edit Post

Share this on WhatsApp
Pada masa ini banyak wanita keluar untuk menghadiri pengajian, majelis dzikir, shalat berjamaah, ziarah atau Shalat Ied. Bisa dikatakan wanita lebih rajin mengikuti majelis taklim dari pada pria. Fenomena ini memang menggembirakan …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Featured, Konsultasi Umum

Asyura’, Hari Berkabung ?

Submitted by on December 21, 2009 – 12:48 pm 49 Comments

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

asyura-Team forsan salaf yang kami hormati, saya mau bertanya terkait masalah ritual Assyuro.

Apakah benar ada ritual assyuro sebagai hari berkabung atas kematian syd Husein bin Ali bin Abi Tholib? Adakah hari berkabung dalam islam ? bagaimana dengan klaim sebagian orang yang menyatakan bahwa alhabib Abdullah Alhaddad menyebutnya dalam kitab tatsbitul fu’ad karangan beliau sebagai hari berkabung ?

Mohon dijelaskan beserta dalil2 yang ada, agar kami bisa mengetahui kebenarannya……

From : pencari.kebenaran <akidahku@yahoo.com>

FORSAN SALAF menjawab :

Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan pilihan yang disebut Asyhurul Hurum. Firman Allah SWT :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“ Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram “ (Q.S at-Taubah : 36)

Di bulan itu, disunnahkan untuk berpuasa. Rasulullah SAW bersabda :

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

“ Paling utamanya puasa setelah Ramadhan, yaitu puasa di bulan Muharram, dan paling utamanya shalat setelah shalat fadhu adalah shalat malam “.

Khususnya pada tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan hari Asyura’. Ketika Rasulullah ditanya tentang keutamaan puasa di hari Asyura’, Beliau menjawab :

إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“ Aku berharap kepada Allah, bisa menghapus dosa satu tahun yang telah lalu”.

Diriwayatkan dalam hadits :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأُنَاسٍ مِنْ الْيَهُودِ قَدْ صَامُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا مِنْ الصَّوْمِ قَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي نَجَّى اللَّهُ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ الْغَرَقِ وَغَرَّقَ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَهَذَا يَوْمُ اسْتَوَتْ فِيهِ السَّفِينَةُ عَلَى الْجُودِيِّ فَصَامَهُ نُوحٌ وَمُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى وَأَحَقُّ بِصَوْمِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَمَرَ أَصْحَابَهُ بِالصَّوْمِ  (رواه احمد في مسنده)

Dari Abi Hurairah ra berkata : Nabi Saw melewati sekelompok orang yahudi, mereka berpuasa di hari Asyura’. Nabi bertanya : “Puasa apa ini?”. Mereka menjawab : “Ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari tenggelam, dan menenggelamkan Fir’aun. Dan hari ini juga adalah hari merapatnya bahtera (Nabi Nuh) di bukit Judiy. Maka Nabi  Nuh dan Nabi Musa berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah SWT ”. Lalu Nabi berkata : “Saya lebih berhak dengan Nabi Musa dan lebih berhak untuk berpuasa di hari ini”. Nabi pun memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa.

Dan masih banyak riwayat-riwayat lain yang menerangkan keutamaan puasa Asyura’.

Di hari ini pula, meninggalnya cucu Rasulullah  sayyidina Husein ra. Diriwayatkan :

قالت أم سلمة كان النبي صلى الله عليه وسلم نائما في بيتي فجاء حسين يدرج ، قالت : فقعدت على الباب فأمسكته مخافة أن يدخل فيوقظه ، قالت : ثم غفلت في شيء فدب فدخل فقعد على بطنه ، قالت : فسمعت نحيب رسول الله صلى الله عليه وسلم فجئت فقلت : يا رسول الله والله ما علمت به ؟ فقال : « إنما جاءني جبريل عليه السلام وهو على بطني قاعد ، فقال لي أتحبه ؟ فقلت : نعم قال : إن أمتك ستقتله ألا أريك التربة التي يقتل بها ؟ قال : فقلت : بلى قال : فضرب بجناحه فأتاني بهذه التربة » قالت : فإذا في يده تربة حمراء ، وهو يبكي ويقول : « يا ليت شعري من يقتلك بعدي ؟ »

Berkata Umi Salamah, sewaktu Nabi tidur ada di rumahku, tiba-riba Husein hendak masuk, maka aku (umi salamah) duduk didepan pintu mencegahnya masuk karena khawatir membangunkan Nabi. Umi Salamah berkata “ kemudian aku lupa akan sesuatu sehingga Husein merangkak masuk dan duduk di atas perut Rasulullah SAW. Lalu aku mendengar rintihan Rasulullah SAW, akupun mendatangi-Nya dan bertanya “ apa yang engkau ketahui sehingga engkau merintih seperti itu “. Rasulullah menjawab : “ Jibril datang kepada-Ku ketika Husein ada di atas perutku seraya berkata kepada-Ku “ apa Engkau mencintai-Nya (Husein) ?, maka akupun menjawab “ ya, Aku mencintai-Nya “, lalu Jibril berkata “ sesungguhnya dari umat-Mu ada yang akan membunuh-Nya (Husein), maukah Engkau aku tunjukkan tanah tempat pembunuhan-Nya ?, maka Akupun menjawab “ ya “, maka Jibrilpun mengepakkan sayapnya lalu memberikan kepadaku tanah ini “. Umi salamah berkata “ maka Nampak pada tangan Rasulullah tanah merah, dan Rasulullah SAW menangis seraya berkata “ siapakah yang akan membunuhmu (wahai Husein) sepeninggal-Ku ?”.

Sebagian kelompok islam menjadikan hari itu adalah hari berkabung karena kematian sayyidina Husein ra dalam keadaan yang sangat mengenaskan berdasarkan menangisnya Rasulullah SAW sebagaimana keterangan di atas. Bahkan mereka meratap-ratap sambil menyakiti diri sebagai bukti keprihatinan dan kecintaan kepada sayyidina Husein ra.

Ketahuilah, perbuatan seperti itu dan pendapat seperti itu tidaklah benar. Tidak diriwayatkan bahwa Rasulullah berbuat demikian atau memerintahkan umatnya untuk berbuat seperti itu, juga yang dilakukan oleh Ahlil bait serta orang-orang shaleh yang lainnya, bahkan Rasulullah melarang untuk meratap-ratap karena kematian sebagaimana orang-orang jahiliyah sambil memukul-mukul anggota badan.  Dirawayatkan hadits shahih :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

“ bukanlah termasuk golonganku, orang yang memukul-mukul pipi-pipinya (karena kematian seseorang), dan merobek pakaian-pakaiannya serta menjerit sebagaimana orang-orang jahiliyah “

Kalau dengan dasar tangisan Rasulullah saat beliau menerima kabar dari Jibril, maka sesungguhnya beliau juga menangis ketika meninggalnya Ibrohim putra beliau, Khodijah istri beliau, Abi Tholib paman beliau dan Jakfar Atthayyar sepupu beliau, juga anak dari Zaenab putri beliau dan masih banyak yang lainnya. Beliaupun tidak pernah mengadakan hari berkabung untuk kematian Nabi Zakariya dan Yahya yang juga dibunuh dengan cara dholim. Alhabib Abdullah Alhaddad menerangknan dalam kitab Tatsbitul Fu’ad halaman 223 :

واما عاشوراء فانما هو يوم حزن لا فرح فيه ، من ان قتل حسين كان فيه ، ولم يصح فيه اكثر من انه يصام ويوسع فيه على العيال ، ولكنه في نفسه يوم فاضل .

Adapun Asyura’ adalah hari sedih dan tidak mungkin ada kebahagian di dalamnya dikarenakan mengingat terbunuhnya sayyidina Husein di hari itu. Namun tidak dibenarkan pada hari itu melakukan ritual yang lain melebihi dari berpuasa dan tausi’ah (memberi belanja lebih) pada keluarga karena pada dasarnya hari itu sendiri adalah hari yang utama “

KESIMPULAN : Janganlah melakukan perbuatan yang tidak diridhoi oleh Allah di hari yang mulia itu, apalagi berlabelkan cinta kepada Ahlil bait. Akan tetapi tingkatkan ibadah di hari itu khususnya dengan yang diajarkan oleh Nabi, karena itu adalah seruan Allah dan Rasul juga ahlil bait. Simaklah apa yang dikatakan oleh Rasul ketika mengubur anak beliau Ibrahim :

عن النبي صلى الله عليه وسلم لما دفن ولده إبراهيم وقف على قبره، فقال: ” يا بني القلب يحزن، والعين تدمع، ولا نقول ما يسخط الرب، إنا لله وإنا إليه راجعون،

Ketika putra beliau Ibrohim dikebumikan, Rasulullah SAW berdiam di atas kuburannya seraya berkata : Wahai anakku, hati bisa berduka, mata bisa meneteskan air mata, tapi tidak akan Aku katakan perkataan yang membuat Tuhan-Ku murka. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya”

49 Comments »

  • khmainiyah ^_^ says:

    Team Forsan yang saya cintai, bisa ga’ tambahin sedikit cerita terbunuhnya Sayyidina Husein & Keluarganya, sehingga pembahasan ini akan lebih jelas, dan kalau bisa terangkan juga apa sebab musabbabnya? soalnya yang pernah saya dengar, Klo Sayyidna Husein dikhianati oleh kaum munafigin, sehingga mereka buat menutupi penyesalannya tersebut, mereka memukul-mukuli dririnya agar solah-olah mereka merasakan kepedihan yang dialami oleh Sayyidina Husein, pada hal fakta sesunnguhnya bukanlah begitu akan tetapi merekalah(syi’ah) yang membunuh. wallahu ‘alam..

  • zen says:

    Alhamdulillah… Allah SWT tlah menunjukkan kebenaran dari ssuatu yg ternyata tidak benar. Sebelum ini sebelum membaca artikel d atas kami telah hampir tergiring utk masuk kdlm ritual spt d atas, dan dengan mengatas namakan pecinta ahli bait mereka mencaci para shohabat nabi SAW. Kita orang awam tambah bingung ketika yg berbicara adalah keturunan nabi SAW. Mohon forsansalaf.com utk menjelaskan lebih jauh dan dalam tentang yg sebenarnya terkait ritual yang demikian itu, krn kita yg awam smakin kebingungan karena d kalangan cucu Nabi SAW sendiri ada yg menfasilitasi kegiatan mereka, padahal berdasarkan keterangan d atas, itu bertentangan.
    Kami tunggu dengan senang hati respon dan penjelasan lanjutannya…

  • forsan salaf says:

    @ zen, siapapun yang mengajak anda untuk bergabung dalam acara2 ritual yang tidak pernah dilakukan oleh salafus sholeh, janganlah diikuti !! sekalipun dari golongan cucu Rasulullah SAW. Cinta kepada ahlil bait dengan mengikuti ajaran dan akhlaq mereka bukan berbuat hal2 yang bertentangan dengan syari’at termasuk pencacian terhadap para sahabat Nabi.
    OKE……., tetap jaga cinta terhadap cucu Nabi dan menghormati para sahabat Nabi itulah ajaran yang benar

  • muhibbin says:

    Wah…wah….wah….., emang ritual ibadah apa model kayak gini ini..??? emangnya sekejam ini ya ajarannya ahlul bait ??? yang ana ketahui mereka semua penuh dengan rahmat ama makhluk bukan malah melukai diri sendiri dan menciderai yang lain…… tega benaaaaaaaaarrrrrrrrr…….
    Anda pengen tau video ritual kekejaman mereka yang sangat tega sampe melukai anak kecil…….. .?? nich ana punya beberapa alamatnya, klik aja di bawah ini :
    http://www.youtube.com/watch?v=OjBjDJOLtTo&feature=related
    atau

  • Terima kasih banyak buat Team Forsan atas penjelasannya, akan tetapi bagaimana menurut team forsan terhadap catatan orang Syi’ah yang mereka sekarang sedang menyebarkan catatan sbb:

    “kritik hadis dan historis tentang puasa asyura

    Pada tanggal 10 Muharram, banyak Muslim yang saleh melakukan puasa Asyura (Asyura artinya tanggal 10 Muharram). Mereka ingin mencontoh Rasulullah saw. yang berpuasa pada hari itu. Perilaku itu tentu memiliki dasar pijakannya sendiri. Dan berikut ini adalah kutipan salah satu hadis tentang puasa Asyura dari Shahih Bukhari nomor 1865 yang menjadi dasar diberlakukannya puasa Asyura:

    Artinya: “ Dari Ibnu ‘Abbas ketika Nabi Muhammad saw. tiba di Madinah, dia melihat orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Nabi saw .bertanya: ‘Apakah ini?’ orang-orang Yahudi berkata: ‘Ini hari yang baik. Pada hari inilah Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa a.s. berpuasa pada hari itu.’ Kata Nabi saw. :’Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Maka Nabi pun melakukan puasa dan menyuruh orang untuk melakukannya juga.”

    Bukhari menyatakan hadis ini sahih. Karena itu Kang Jalal mencoba menganalisis hadis ini dengan ilmu hadis dan kritik historis. Dan berikut ini adalah hasil analisisnya:

    Pertama, sahabat yang meriwayatkan peristiwa ini adalah Abdullah ibnu ‘Abbas. Menurut para penulis biografinya, Ibn ‘Abbas lahir tiga tahun sebelum hijrah. Ia hijrah ke Madinah pada tahun ketujuh Hijri. Jadi, ketika Nabi saw. tiba di Madinah, Ibnu ‘Abbas masih di Mekkah dan belum menyelesaikan masa balitanya. Dari mana Ibnu ‘Abbas mengetahui peristiwa itu? Mungkin dari sahabat Nabi yang lain, tetapi ia tidak menyebutkan siapa sahabat Nabi itu. Ia menyembunyikan sumber berita, sehingga seakan-akan ia menyaksikan sendiri peristiwa itu. Dalam ilmu hadis, perilaku seperti itu disebut tadlis (pelakunya disebut mudallis).

    Kedua, bandingkanlah riwayat ini dengan riwayat-riwayat yang lain dari Ibnu ‘Abbas. Menurut Muslim, Nabi diriwayatkan bermaksud puasa pada hari Asyura tetapi tidak kesampaian. Dia keburu meninggal dunia. Masih menurut Muslim, dan juga dari Ibnu ‘Abbas, Nabi saw. sempat melakukannya setahun sebelum dia wafat. Bila kita bandingkan riwayat Ibnu ‘Abbas ini dengan riwayat-riwayat dari sahabat-sahabat Nabi yang lain, kita akan menemukan lebih banyak lagi pertentangan. Menurut Siti Aisyah, Nabi sudah melakukan puasa Asyura sejak zaman Jahiliyah. Nabi meninggalkan puasa Asyura setelah turun perintah puasa Ramadhan (Shahih Bukhari). Menurut Mu’awiyah, Nabi saw. memerintahkan puasa Asyura pada waktu haji wada’ (Shahih Bukhari).

    Ketiga, Nabi saw. menemukan orang Yahudi berpuasa Asyura ketika tiba di Madinah. Semua ahli sejarah sepakat Nabi tiba di Madinah pada bulan Rabi’ul Awwal. Bagaimana mungkin orang berpuasa 10 Muharram pada 12 Rabi’ul Awwal? Mungkinkah orang shalat Jum’at pada hari Senin?

    Keempat, Nabi saw. diriwayatkan meniru tradisi Yahudi untuk melakukan puasa Asyura. Bukankah Nabi berulang-ulang mengingatkan umatnya untuk tidak meniru tradisi Yahudi dan Nashara? “Bedakan dirimu dari orang Yahudi,” kata Rasulullah saw. Begitu seringnya Nabi saw. mengingatkan umat Islam waktu itu untuk berbeda dengan Yahudi, sampai seorang Yahudi berkata, “Lelaki ini (maksudnya Muhammad) tidak ingin membiarkan satu pun tradisi kita yang tidak ditentangnya.”(Lihat Sirah al-Halabiyah, 2:115).

    Kelima, bila ita mempelajari ilmu perbandingan agama, kita tidak akan menemukan tradisi Asyura pada agama Yahudi. Puasa Asyura hanya dikenal oleh sebagian umat Islam, berdasarkan riwayat yang otentisitas dan validitasnya kita ragukan itu.

    Menurut Kang Jalal, berdasarkan penelitian di atas, banyak di antara kita dengan setia menjalankan sunnah Rasulullah yang tidak benar. Bila penelitian historis ini kita lanjutkan, kita akan menemukan bahwa puasa Asyura adalah hasil rekayasa politik Bani Umayyah. Yazid bin Mu’awiyah berhasil membantai keluarga Rasulullah saw. di Karbala pada 10 Muharram. Bagi para pengikut keluarga Nabi, hari itu adalah hari dukacita, hari berkabung, bukan hari bersyukur. Bani Umayyah menjadikan hari itu hari bersyukur. Salah satu ungkapan syukurnya ialah menjalankan puasa. Di samping riwayat-riwayat di atas ditambahkan juga riwayat-riwayat lain. Konon, pada 10 Muharram Allah menyelamatkan Musa dari kejaran Fir’aun, menyelamatkan Nuh dari air bah, menyelamatkan Ibrahim dari api Namrud, dan sebagainya.”

    Untuk team forsan, mudah-mudahan bisa cepat mengasi jawabannya.
    terima kasih.

    • nuri. says:

      Di harapakan kepada pemeluk agama syiah untuk tidak memfitnah keluarga dan sahabat Nabi SAW. Janganlah menyebarkan opini yang mnyalahi contoh ynag ditinggalkan Nabi SAW. Jangan menghina sahabta Nabi SAW, semua keluarganya, sahabat dan strusnya (tabiut tabiin) adalah manusia terbaik. Kalian adalah prusak agama kmai (Islam).

  • Hasany says:

    Alhamdulillah ana jadi lebi faham ttg asyura’..

    makasi banyak forsan..

  • elfasi says:

    @ Pecinta Fatimah n para pendukung Jalaluddin, ane mau koreksi tentang kesalahan analisa jalaluddin sebagai berikut :
    1. Hadits riwayat ibn Abbas adalah hadits Mudallas
    Hadits mudallas adalah hadits yang disamarkan salah satu perowinya baik dengan menggunakan nama samaran atau langsung beranjak ke perowi atasnya yang hidup sezaman tanpa menyebutkan nama gurunya dengan tidak menyebutkan sighat yang menyebabkan sambungnya sanad. Hadits mudallas dibagi bermacam-macam, ada yang disebut tadlis sanad dan ada yang disebut tadlis syuyukh . Perowi yang demikian ini disebut mudallis. Namun jika perowi itu tsiqoh dan ada sighat yang menyebabkan sambungnya sanad, maka hadits tidak dikatakan mudallas. Tidak ada shahabat yang tidak tsiqoh karena mereka semua dihukumi orang yang adil dalam ilmu hadits. Karena itu bagi kang jalal kami anjurkan untuk belajar lagi ilmu hadits terlebih dahulu sebelum berkomentar.
    Riwayat kesunahan puasa hari Asyura’ diriwayatkan banyak dari sahabat, diantara mereka :
    – Salamah ibn akwa’, meriwayatkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori bahwa Nabi memerintahkan seorang untuk menyerukan kepada manusia di hari Asyura’ untuk memilih antara melaksanakan puasa atau meninggalkannya (maksudnya puasa Asyura’ sunnah boleh untuk dikerjakan dan ditinggalkan).
    حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا يُنَادِي فِي النَّاسِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ إِنَّ مَنْ أَكَلَ فَلْيُتِمَّ أَوْ فَلْيَصُمْ وَمَنْ لَمْ يَأْكُلْ فَلَا يَأْكُلْ (رواه البخاري)
    – Abdullah bin Zubair yang diriwayatkan oleh At-Thabrani menyatakan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan untuk berpuasa Asyura’
    حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بن الْحُبَابِ الْجُمَحِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بن رَجَاءٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ ثُوَيْرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بن الزُّبَيْرِ، يَقُولُ:”هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ، فَصُومُوهُ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِهِ”.
    – Riwayat dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad
    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأُنَاسٍ مِنْ الْيَهُودِ قَدْ صَامُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا مِنْ الصَّوْمِ قَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي نَجَّى اللَّهُ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ الْغَرَقِ وَغَرَّقَ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَهَذَا يَوْمُ اسْتَوَتْ فِيهِ السَّفِينَةُ عَلَى الْجُودِيِّ فَصَامَهُ نُوحٌ وَمُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى وَأَحَقُّ بِصَوْمِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَمَرَ أَصْحَابَهُ بِالصَّوْمِ (رواه احمد في مسنده )

    Dan masih banyak lagi riwayat-riwayat lainnya dari sahabat. Hal ini menguatkan riwayat Ibn Abbas, sehingga tidak bisa dijadikan dasar untuk menghilangkan kesunahan puasa Asyura’.
    Disamping itu, dalam beberapa riwayat menyatakan bahwa banyak dari sahabat melaksanakan puasa Asyura’, sebagaimana riwayat Abdullah bin Umar berikut :
    حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ و حَدَّثَنَاه مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا يَحْيَى وَهُوَ الْقَطَّانُ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ كِلَاهُمَا عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بِمِثْلِهِ فِي هَذَا الْإِسْنَادِ
    2. Banyak pertentangan dari beberapa riwayat hadits tentang kesunahan puasa asyura’.
    Dalam mensikapi hadits yang bertentangan pada dhohirnya, maka dicari thoriqul jam’i (cara memadukan) diantaranya. Jika tidak ada, maka dipilih riwayat yang paling kuat atau riwayat yang lama dikatakan mansukh dan riwayat yang baru dikatakan nasikh. Sekali lagi saya anjurkan kepada kang Jalal untuk belajar lagi ilmu hadits
    Kang jalal menyatakan bahwa hadits Ibn Abbas bertentangan dengan riwayatnya sendiri sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim “Nabi bermaksud puasa pada hari Asyura tetapi tidak kesampaian. Dia keburu meninggal dunia”.
    Riwayat Imam Muslim yang benar adalah :
    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَيْرٍ لَعَلَّهُ قَالَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
    Artinya : “Seandainya aku hidup hingga tahun yang akan datang, maka aku akan berpuasa di hari kesembilan.
    Jelas sekali riwayat Imam Muslim menunjukkan bahwa Nabi menghendaki berpuasa dihari kesembilan atau yang disebut dengan hari Tasu’a’, bukan Asyura’. Dari sini kita bisa lihat kang Jalal sengaja membelokkan isi hadits bahkan memalsukan isi hadits hanya sekedar bersandar pada buku2 terjemahan syi’ah yang lain tanpa mencari referensi yang valid dari kitab2 hadits.
    Adapun pernyataannya yang menyatakan hadits Ibn Abbas bertentangan dengan beberapa riwayat lainnya seperti riwayat sayyidatina A’isyah atau riwayat Mu’awiyah, maka sebenarnya riwayat2 hadits tersebut tidaklah saling bertentangan tapi justru saling memperkuat akan kesunahan puasa Asyura’ sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Ibn Hajar dalam kitab alFath alBari. Pembahasan kami perinci sebagai berikut :
    Puasa Asyura’ diwajibkan diawal islam sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan atas perintah dari Nabi SAW. Namun setelah kewajiban puasa ramadhan, maka berubah menjadi sunnah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Mas’ud :
    عن عبد الله بن مسعود أنه قال في يوم عاشوراء : « كنا نصومه ، ثم ترك » . « لم يروه عن سفيان إلا الأشجعي » . وتفسير قول ابن مسعود : كنا نصومه ، ثم ترك « ، أي : » كنا نصومه فرضا ، ثم صار تطوعا «
    Adapun riwayat sayyidatina A’isyah yang menyatakan bahwa Nabi telah berpuasa Asyura’ sebelum hijrah dan kaum quraiys juga melakukannya, maka tidaklah ada pertentangan diantara hadits2 tersebut. Hal ini dikarenakan Nabi bukanlah memulai puasa Asyura’ setelah mendapati orang2 yahudi berpuasa di hari itu, akan tetapi telah melakukannya sebelum hijrah. Demikian juga orang2 Qurays berpuasa saat itu. Berarti perintah Nabi untuk berpuasa Asyura’ setelah mengetahui orang2 Yahudi berpuasa di hari itu sebagai ta’kid (penguat) akan kewajiban puasa Asyura’, dan karena menilai bagus dengan mengikuti jejak para Nabi sebelumnya untuk berpuasa di hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. Bukanlah amalan orang Yahudi sebagai dasar dalam mentasyri’kan kewajiban puasa di hari itu. Kewajiban puasa Asyura’ berakhir ketika datang kewajiban puasa Ramadhan di pertengahan tahun kedua dari hijrah sebagaimana riwayat Ibn Mas’ud di atas.
    Namun setelah hilangnya kewajiban puasa Asyura’ tidak serta merta menghilangkan keseluruhannya, akan tetapi tetap akan kesunahannya terbukti dengan beberapa perintah Nabi setelahnya, bahkan pengumuman secara menyeluruh untuk mengerjakan puasa Asyura’ sebagaimana riwayat Salamah ibn Akwa’ di atas.
    Dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak ada sama sekali pertentangan diantara riwayat2 hadits tentang Asyura’ tapi justru sebaliknya, hadits2 tersebut saling memperkuat akan kesunahannya. Adapaun analisa Jalaluddin yang memvonis adanya pertentangan, maka itu adalah analisa tanpa dasar yang menunjukkan akan kedangkalan ilmunya tentang hadits bahkan terkesan orang yang sangat ceroboh dalam menanggapi suatu hadits.

    3. Pertentangan waktu kedatangan Nabi dengan pelaksanaan puasa Asyura’
    Dikatakan oleh jalaluddin bahwa : Nabi saw. menemukan orang Yahudi berpuasa Asyura ketika tiba di Madinah. Semua ahli sejarah sepakat Nabi tiba di Madinah pada bulan Rabi’ul Awwal. Bagaimana mungkin orang berpuasa 10 Muharram pada 12 Rabi’ul Awwal ? Mungkinkah orang shalat Jum’at pada hari Senin?
    Dikemukakan oleh Imam Ibn Hajar dalam al-Fath al-Baari juz 6 halaman 284 : bahwa kedatangan Nabi ke Madinah memang di bulan Rabiul Awal, namun hadits tersebut bukanlah menunjukkan bahwa Nabi mengetahui puasanya orang Yahudi di hari Asyura’ seketika ketika Nabi sampai di Madinah, akan tetapi Beliau mengetahuinya setelah tinggal di Madinah hingga bulan Muharram tahun kedua. Atau dimungkinkan adanya perbedaan penghitungan bulan dikarenakan orang Yahudi menghitung hari dalam satu tahunnya dengan mendasarkan pada matahari bukan dengan bulan sebagaimana dasar orang islam.
    Oleh karena itu, tidak ada pertentangan sama sekali, dan sangatlah memungkinkan untuk melaksanakan shalat Jum’ah walaupun masuk islamnya di hari senin selama melaksankannya di hari jum’ah. Lain halnya bagi orang yang mengingkari kewajiban shalat Jum’ah seperti kang Jalal.

    ” وَقَدْ اُسْتُشْكِلَ ظَاهِر الْخَبَر لِاقْتِضَائِهِ أَنَّهُ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قُدُومِهِ الْمَدِينَةَ وَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْم عَاشُورَاء ، وَإِنَّمَا قَدِمَ الْمَدِينَةَ فِي رَبِيعٍ الْأَوَّلِ ، وَالْجَوَاب عَنْ ذَلِكَ أَنَّ الْمُرَاد أَنَّ أَوَّل عِلْمِهِ بِذَلِكَ وَسُؤَالِهِ عَنْهُ كَانَ بَعْدَ أَنْ قَدِمَ الْمَدِينَة لَا أَنَّهُ قَبْلَ أَنْ يَقْدَمَهَا عَلِمَ ذَلِكَ ، وَغَايَتُهُ أَنَّ فِي الْكَلَام حَذْفًا تَقْدِيرُهُ قَدِمَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَة فَأَقَامَ إِلَى يَوْم عَاشُورَاء فَوَجَدَ الْيَهُودَ فِيهِ صِيَامًا ، وَيَحْتَمِل أَنْ يَكُون أُولَئِكَ الْيَهُود كَانُوا يَحْسِبُونَ يَوْم عَاشُورَاء بِحِسَابِ السِّنِينَ الشَّمْسِيَّة فَصَادَفَ يَوْمُ عَاشُورَاء بِحِسَابِهِمْ الْيَوْمَ الَّذِي قَدِمَ فِيهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَة ، وَهَذَا التَّأْوِيل مِمَّا يَتَرَجَّحُ بِهِ أَوْلَوِيَّةُ الْمُسْلِمِينَ وَأَحَقِّيَّتُهُمْ بِمُوسَى عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَام لِإِضْلَالِهِمْ الْيَوْمَ الْمَذْكُورَ وَهِدَايَة اللَّهِ لِلْمُسْلِمِينَ لَهُ ، وَلَكِنَّ سِيَاق الْأَحَادِيث تَدْفَعُ هَذَا التَّأْوِيلِ ، وَالِاعْتِمَاد عَلَى التَّأْوِيل الْأَوَّل
    4. Pertentangan dengan perintah Nabi untuk selalu berbeda dengan orang Yahudi dan Nasrani.
    Dikatakan bahwa : Nabi SAW diriwayatkan meniru tradisi Yahudi untuk melakukan puasa Asyura. Bukankah Nabi berulang-ulang mengingatkan umatnya untuk tidak meniru tradisi Yahudi dan Nashara? “Bedakan dirimu dari orang Yahudi,” kata Rasulullah SAW.
    Benar sekali Nabi memperingatkan kepada umatnya untuk selalu berbeda dengan orang Yahudi atau Nasrani, akan tetapi Nabi memerintahkan puasa Asyura’ bukanlah dikarenakan meniru perbuatan orang2 yahudi, namun karena menilai apa yang dilakukan oleh orang Yahudi adalah positif karena mereka mengikuti Nabi mereka dalam berpuasa. Bukankah Nabi sudah melakukaan puasa dan memerintahkannya untuk berpuasa di hari Asyura’ bahkan sebelum hijrah kemudian mengetahui amalan orang Yahudi sebagaimana penjelasan di atas. Oleh karena itu, Nabi berencana untuk berpuasa di hari kesembilan (tasu’a’) sebagaimana dirwayatkan Ibn Umar dan diriwayatkan oleh Imam Muslim agar berbeda dengan orang Yahudi dalam melaksanakan puasa Asyura’. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad :
    وَلِأَحْمَدَ مِنْ وَجْه آخَر عَنْ اِبْن عَبَّاس مَرْفُوعًا صُومُوا يَوْم عَاشُورَاء وَخَالِفُوا الْيَهُود ، صُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ
    Raslullah SAW bersabda “ berpuasalah kalian di hari Asyura’ dan berbedalah dengan orang-orang Yahudi. Berpuasalah juga hari sebelumnya (hari kesembilan/tasu’a) atau hari setelahnya (tanggal 11 Muharram).”
    5. Puasa Asyura’ tidak ada dalam agama Yahudi
    Dikatakan : bila ita mempelajari ilmu perbandingan agama, kita tidak akan menemukan tradisi Asyura pada agama Yahudi. Puasa Asyura hanya dikenal oleh sebagian umat Islam, berdasarkan riwayat yang otentisitas dan validitasnya kita ragukan itu.
    Kang Jalal mungkin belum tahu atau pura-pura tidak tahu Yahudi dahulu berdasarkan pada kitab Taurat dan masih mengkabarkan akan datangnya seorang Nabi terakhir, walaupun mereka kemudian mengingkarinya. Adapun jika tidak ditemukan tradisi Asyura’ pada orang Yahudi sekarang itu karena mereka sudah jauh berbeda dengan Yahudi dahulu yang masih memperhatikan syari’at Nabi Musa.
    Yang terakhir terbukti Jalaluddin Rahmat membuat sejarah palsu yang tidak disebutkan dalam satu kitabpun bahwa puasa Asyura’ adalah rekayasa Mu’awiyah. Untuk yang ini malas kami jawab karena yang mau percaya dengan kang Jalal dalam hal ini adalah bodoh.

  • muhammadon says:

    waduh…waduh…waduh……, yang ni lebih parah lagi… ritual Asyuro kok mirip ama orang hindu aja pake ngarak semacam OGOH-OGOH gitu…
    mohon pak Jalaluddin Rahmat dan para pengagumnya bisa menyaksikannya, seperti inikah harapan para ahlul bait ????
    ni alamatnya, klik di bawah ini :
    http://vodpod.com/watch/2140229-ritual-paganisme-syiah-mirip-hindu

  • PEMERHATI says:

    Alhamdulillah dng adanya forsan salaf ini bagaikan lentera ditengah kegelapan,terbukti team forsan salaf amat sangat akurat bila menipis kata2 berbisa syiah,liat kl g ada forsan ungkapan2 syiah seolah2 ilmiah padahal amburadul,sprti yang diungkapkan pengikut jalaluddin,seolah2 bener tapi ngacau semua,mk pengen ane tambai pengikut2 syiah secara umum bukan cuma bodoh tp tolol/jahil murokkab.syukron forsan…..kami selalu mendukung antum utk membersihkan ajaran2 agama dr para perusak agama…..bravo forsan salaf….

  • lalu bagaimana dengan catatan yang bertuliskan seperti dibawah ini:

    SALAM: Hairan KITA bila MEREKA mengangis di Bulam Muharram. Bertanya kepada Mereka, menangis untuk Saidina Hussain – bukankah itu perbuatan bid’ah? Yang Menarinya, bila KITA tanya, MEREKA ade aje jawabnya, INI JAWABAN MEREKA Mari kita kaji JAWABAN MEREKA – Bid’ah atau… Sunnah??????????? Allah SWT berfirman tentang nabi Yaqub as yang menangisi kepergian anaknya, Nabi Yusuf as, “…Aduhai duka citaku terhadap Yusuf; dan kedua matanya menjadi putih (buta) karena kesedihan dan dialah yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).” (Qs. Yusuf : 85). Dari ayat ini, kita bisa bertanya, apakah tangisan Nabi Yaqub as karena terpisah dengan anaknya sampai matanya menjadi buta adalah bentuk jaza’ (keluh kesah) yang dilarang ? apakah Nabi Yaqub as melakukan sesuatu yang menjemuruskan dia dalam kebinasaan sampai anak-anaknya bertanya, ” Demi Allah, senantiasa kamu mengingat Yusuf, sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang yang binasa ?” (Qs. Yusuf : 86). Alhasil, Al-Qur’an menceritakan bahwa ketika Yusuf dijauhkan Allah SWT dari pandangan Yaqub serta merta Yaqub menangis sampai air matanya mengering karena sangat sedihnya. Tentu saja tangisan Nabi Yaqub as bukanlah tangisan keluh kesah yang sia-sia, melainkan ungkapan kesedihan atas kebenaran yang telah dikotori, atas anaknya Yusuf yang telah di dzalimi. Kaum Muslim sepakat bahwa Rasulullah saw menangis atas Imam Husain 50 tahun sebelum terbunuhnya Imam Husain. Riwayat menyebutkan bahwa malam Asyura’ bertepatan dengan 11 Hijriah, yakni tahun kematian Nabi saw. Imam Husain terbunuh pada 61 Hijriah. Jadi jarak yang terpaut adalah 50 tahun. Pada malam Asyura Rasul saw tampak begitu sedih, murung, dan lesu. Hakim an-Naisaburi dalam Mustadrak Shahih Muslim dan Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw keluar menemui para sahabatnya setelah malaikat Jibril memberitahunya tentang terbunuhnya Imam Husain dan ia membawa tanah Karbala. Beliau Saww menangis tersedu-sedu di hadapan para sahabatnya sehingga mereka menanyakan hal tersebut. Beliau memberitahu mereka, “Beberapa saat lalu Jibril mendatangiku dan membawa tanah Karbala, lalu ia mengatakan kepadaku bahwa di tanah itulah anakku Husain akan terbunuh.” Kemudian beliau pun menangis lagi dan para sahabat pun ikut menangis. Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa inilah ma’tam (acara kesedihan dan belasungkawa untuk Imam Husain) yang pertama kali. Jika ada orang yang bertanya: Bila ma`tam yang pertama kali diadakan oleh umat Islam untuk Imam Husain? Jawabannya adalah ma`tam yang dihadiri oleh Nabi Muhammad saw dan pendengarnya adalah para sahabat Rasulullah. Tentu tidak ada seseorang yang berani mengusik masalah ini. Sebab, masalah ini memiliki keistimewaan dibandingkan dengan masalah lainnya. Tangisan atas Imam Husain bukanlah tangisan kehinaan dan kekalahan, namun adalah protes keras atas segala bentuk kebatilan dan sponsornya di sepanjang masa. Orang-orang mukmin merasakan gelora dalam jiwanya ketika mengenang terbunuhnya Imam Husain. SO, seolah-olah MEREKA cuba nak katakan ianya SUNNAH. Betulke niiii??? APA hujah KITA pula ia BUKAN SUNNAH????

    Mudah-mudahan saya bisa mendapatkan hasil jawababan yang memuaskan.

  • Yek Gowul says:

    @ Team Forsan : tolong dunk jelasin maksud kiriman yang baru dari pecinta Fatimah ini, coz ike masih bingung nie dengan acara yang akan datang (10 muharram), apakah boleh kita menangisi imam Husein?? walaupun g’ melukai diri sendiri?? sebagaimana kita mengikuti Nabi yang mana beliau pun menangis ketika mengetahui cucunya akan terbunh??

  • Iwan says:

    Kalo memang Asyurah adalah hari kemenangan, seperti bebasnya nabi Musa dari Firaun, terlepasnya nabi Yunus dari perut ikan dst, mestinya diteruskan berhasilnya kelompok Yazid memenggal kepala Imam Husein cucu Rasulullah yang sangat dicintainya.

  • adem ayem says:

    bebasnya nabi Musa dari Firaun.. OK!
    terlepasnya nabi Yunus dari perut ikan .. OK!
    berhasilnya kelompok Yazid memenggal kepala Imam Husein??…
    APAKAH ANDA SETUJU?…
    Kalo Anda ahlussunnah pasti tdk setuju. Lalu Apa tujuan Anda?..
    ati2 kalo komen mas!
    Sebenarnya Anda ini Ahlussunnah?.. Syiah?… Ato pengadu domba?

  • abunawas says:

    @iwan.
    mas iwan!!!komentar anda ini sangat murahan dan gak ilmiah sekali.
    kenapa koq begitu…karena komentar ente itu tanpa dalil dan juga bisa dikatakan tanpa otak…maaf agak kasar dikit,karena ana udah kesel dengan ulah ente yang selalu memutar balik fakta,,,klo ente katakan kenapa koq gak diteruskan berhasilnya kelompok Yazid memenggal kepala Imam Husein cucu Rasulullah yang sangat dicintainya.apakah anda juga akan katakan kenapa kita koq memperingati kelahiran rosulullah padahal dihari itu juga dibulan itu juga nabi meninggal dan apakah anda akan katakan iedul mu’minin hari jum’at itu juga akan dirubah klo ada orang yang soleh meninggal,,,klo sudah ada nashnya…ya kita ikuti donk!!!gak bisa dirubah begitu saja …toh terbunuhnya sayyidina husein itu tidak diartikan suatu kekalahan….apakah terbunuhnya nabi zakaria juga anda katakan suatu kekalahan itu semuanya adalah hakekatnya suatu kemenangan akankah syuhada’ yang meninggal itu dikatakan suatu kekalahan juga????sekali lagi ana katakan bahwa terbunuhnya sayidina husein bukanlah suatu kekalahan tapi adalah kemenangan…makanya jangan ikut2 kang jalal yang gak ilmiah sm sekali.

  • Yek Gowul says:

    Mana nie team forsan??
    kog pertanyaan aye kagak di jawab??
    payah dak gowul…

  • muhibbin says:

    @ pecinta Fatimah, yek gowul n para pengaku2 pecinta ahlul bait,
    Kisah tangisan Nabi Ya’qub karena perpisahannya dengan putra kesayangannya Nabi Yusuf jangan dipotong atau diplintir untuk dipaksa sebagai hujjah (bukti/dasar) akan kebolehan jaza’ (meratap) atas musibah, apalagi untuk melakukan ritual Asyura’ dengan menyakiti diri sendiri bahkan anak2 kecil. Hal ini dilihat dari beberapa segi :
    • Tangisan Nabi Ya’qub adalah bentuk kesedihan Basyariyah (sifat kemanusiaan) beliau karena rahmat (kasih sayang) yang sangat besar kepada putranya, bukan sebagai ketidak ridhoan dengan takdir Allah SWT. Hal serupa juga terjadi pada Rasulullah atas meninggalnya beberapa keluarga beliau seperti putra beliau Ibrahim, sebagaimana dijelaskan oleh elfasi.
    • Tangisan dan keluh kesah beliau itu ditujukan kepada Allah, bukan terhadap makhluk, sebagaimana dijelaskan dalam tafsir al-Khozin juz 4 halaman 45. Maka jelaslah perbuatan itu tidak berdosa karena didasari ridho dengan takdir Allah SWT. Perhatikan ayat berikut ini :
    قَالُوا تَاللَّهِ تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّى تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ الْهَالِكِينَ # قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
    Mereka (saudara Nabi Yusuf) berkata kepada ayahnya: “Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf, sehingga kamu mengidapkan penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa.”Ya’qub menjawab: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya.”

    Apakah ratapan orang-orang yang mengaku pecinta ahlul bait di hari Asyyura’ dengan cara melukai diri sama dengan yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub ???
    • Ratapan Nabi Ya’qub hanya bersifat kesedihan hati yang sangat mendalam tanpa disertai ucapan atau perbuatan protes terhadap takdir Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah : “dan dialah yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).” (Qs. Yusuf : 85).
    Bukankah jika dia marah dan tidak ridho karena berpisah dengan Nabi Yusuf, beliau dapat menghukum saudara-saudara Nabi Yusuf secara langsung ?.
    Diceritakan dalam riwayat Ma’mar dari Qotadah :bahwasanya beliau menahan amarahnya dengan mencegah diri dari ucapan yang tidak baik apalagi sampai mencaci maki/ melaknat anak2 beliau. Seperti inilah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika wafatnya putra beliau Ibrahim dengan istirja’ (mengucapkan inna lillah wainna ilaihi roji’un). Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam tafsir at-Thabari bahwasanya diriwayatkan oleh Said bin Jubair :
    حدثنا الحسن بن يحيى قال: أخبرنا عبد الرزاق قال، أخبرنا الثوري، عن سفيان العصفري ، عن سعيد بن جبير قال: لم يُعْطَ أحدٌ غيرَ هذه الأمة الاسترجاع ، (1) ألا تسمعون إلى قول يعقوب:(يا أسفَا على يوسف)؟ (1) ” الاسترجاع” ، هو قولنا نحن المسلمين ، إذا أصابتنا مصيبة : { إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ } .
    “ Tidaklah disyari’atkan kepada selain umat Muhammad istirja’ ( mengucapkan inna lillahi wainna ilaihi roji’un). Tidakkah kalian mendengar apa yang diucapkan Nabi Ya’qub “”Aduhai duka citaku terhadap Yusuf”,
    Jelas sekali kita umat Muhammad tidak sama dalam menghadapi musibah dengan umat yang lain. Kita diajarkan istirja’ dalam mendapatkan musibah apapun yang datang dari Tuhan kita. Firman Allah :
    وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
    “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
    Bagaimana dengan perbuatan para pengaku pecinta ahlul bait di hari Asyura’, apakah mereka menahan dari perkataan yang buruk atau sebaliknya mereka mencaci maki sahabat Rasulullah SAW ?? apakah mereka mengucapkan istirja’ ketika mengahadapi musibah ??? atau hanya meratapi dengan berucap “aduhai Husein “ sambil menepuk2 dada ???
    Oleh karena itu, jika kita meneteskan air mata karena mengenang akan kematian seorang pemimpin sejati dari cucu Rasulullah SAW yang dibunuh secara tragis, maka boleh2 aja selama tidak ada melakukan pelanggaran syari’at seperti acara ritual yang mereka adakan. Perbuatan kita harus tetap berdasarkan pada tuntunan Rasulullah SAW seperti berpuasa dihari itu, bersedekah dan lain-lain. Inilah yang dimaksudkan oleh Alhabib Abdullah Alhaddad dalam kitab Tastbitul Fu’ad .

  • Yek Gowul says:

    Oo jadi intinya boleh kan ? selama tidak ada unsur-unsur yang melanggar Syari’at ? so tidak salah dunk Syi’ah yang berada di Indonesia mengadakan ritual memperingati kematiannya Sayyidina Husein r.a ? mereka tidak melakukan seperti apa yang di lakukan orang syi’ah di Iran ?
    Dan mengapa Sunni pada tanggal 10 muharram tidak mengadakan acara memperingati kematian Sayyidina Husein sama sekali ?? yang ada mengadakan haul hb fulan dll..

  • elfasi says:

    @ yek gowul…yek gowul…..
    Ana salut ama nte karena nte telah mengakui kesalahan orang2 syiah yang ad di Iran dan Iraq yang mengadakan ritual Asyura’ seperti itu. Belom pernah ana dapat orang seperti nte yang amat sangat jujur gini. Kalo nt pengen tau gimana ritualnya orang syi’ah di Indonesia, ni..gua kasih satu aja, klik aja disini : http://www.youtube.com/watch?v=gIeHjhC8w1U
    Ni juga gua kasih gambar yang sangat mengerikan dan tidak pantas buat orang islam yang seharusnya rahmat amat anak kecil tapi bagaimana seorang ibu tega ama anaknya sendiri. Klik disini : http://www.cybermq.com/beritaphoto/detail/international/410/perayaan-asyura
    Kalo nt masih pengen lagi ntar temen2 yang lain nambahi lagi…
    Yek gowul, kotoran itu sekalipun ditutup-tutupi bakal ketahuan ama baunya yang menyengat. Tapi OKelah buat nt biar ana buka sekalian biar nt tambah tahu ama kotoran itu….

  • Yek Gowul says:

    @ elfasi :
    kan intinya Syiah Indonesia fine fine aja kan? klo udah fine yawdah ga’ usah di permasalahin lg dunk..
    Trus mana dari kalangan sunni ?? kog ga’ pernah terdengar acara khusus seperti haul nya Sayyidina Husein ??

  • elfasi says:

    @ yek gowul, apanya yang fine, tepuk2 dada dengan bersenandung seperti orang Iran. Haul itu diperuntukkan untuk tokoh2 islam yang tidak setenar sayyidina Husein apalagi di atas beliau karena cerita dan kisah mereka udah penuh ditulis dalam ratusan mungkin ribuan kitab. Laksana matahari gak perlu lagi sinar tambahan karena sinar yang lainnya tertutup dengan sinarnya, akan tetapi sinar lampu2 perlu diperbanyak untuk menerangi dalam kegelapan sekitar.
    Kalo anda ingin mengatakan banyak yang gak tau sejarah sayyidina Husein itu karena orang seperti anda (pengikut Jalaludin Rahmat) baru mengerti kebesaran beliau. Oleh karena itu, mengaji dan belajarlah..!!!!! jangan sok pintar seperti guru anda (jalaludin).
    Apa anda ingin mengetahui lukisan2 kebohongan yang dibuat oleh pendusta2 yang mengaku pecinta ahlul bait mulai dari lukisan Nabi, syd Ali, syd Hasan dan syd Husein dst, bahkan lukisan itu juga dipakai dalam acara Asyura mereka di Indonesia ???

  • @ Elfasin :

    saya ingin menanggapi jawaban anda tentang riwayat Ibnu Abbas yakni saya agak bingung aja dengan pola pikir anda…jadi saya ingin meramu dulu catatan saya biar anda faham aja, karena sepertinya terlalu banyak asumsi ( terlalu banyak kata mungkin) dalam jawaban anda, contoh : sahabat ibnu abas kan berumur tiga tahun … Lihat Selengkapnyadan berada di mekkah….kok bisa tahu apa yang terjadi dimadinah…oooo mungkin aja ibnu abas sakti…bisa menerawang kayak dukun2….masalah tsiqah terjadi pada sahabat yang sudah dewasa dan bisa berfikir…anak kecil masa bisa di bilang tsiqah… itu dulu yaa…????????

  • elfasi says:

    @ pecinta Fatimah, wah…kayaknya harus berbicara masalah musthalah hadits nih…..
    Dalam ilmu musthalah hadits dinyatakan bahwa semua sahabat adalah tsiqoh sehingga bisa diterima riwayat haditsnya. Ibn Abbas meriwayatkan hadits ini bukanlah diwaktu dia masih kecil akan tetapi ketika beliau sudah dewasa dengan kemungkinan beliau telah melihat diwaktu kecil untuk kemudian dikuatkan dengan sahabat yang melakukan puasa Asyura’. Dalam masalah ini yang menjadi ibrah adalah waktu periwayatannya bukan waktu kejadiannya, sehingga walaupun ketika kejadian Ibn Abbas masih kecil tapi karena beliau meriwayatkannya ketika sudah dewasa, maka bisa diterima. Bahkan ada sebagian riwayat yang diterima padahal kejadiannya ketika perowinya masih kafir akan tetapi waktu periwayatannya sudah islam.
    Selain itu, di atas sudah saya sebutkan beberapa riwayat sahabat yang menerangkan tentang kesunahan puasa Asyura’ selain Ibn Abbas dan tidak ada riwayat yang menentang terhadap kesunahan puasa Asyura’. Bahkan sebaliknya, kelompok yang menyatakan puasa Asyura’ itu hanya rekayasa sekaligus sebagai bentuk perayaan (ied) Yazid bin Mu’awiyah atas kemenangan dan keberhasilannya membunuh syd Husein merupakan tuduhan tanpa dasar sama sekali.
    Kami katakan dengan menggunakan kemungkinan merupakan satu bentuk ilmiah dalam menanggapi satu dalil dengan tanpa gegabah dan mencermatinya secara seksama sehingga tidak ada satupun dari riwayat orang yang tsiqah menjadi sia-sia.

  • seTeLah sya lihat2 dari perbincangan diatas,,,ternyata muncul satu orang yg TOLOL g berpendidikan,yaitu yang make nama (Pecinta Fatimah),dan ternyata wajar,,karena orang itu Syi’ah,,kok wajar kenapa?karena syi’ah diduNia ini TOLOL semua g ada yg beNer,,g Punya iLmu,,tapi sok mau Debat,,ya tambah bikin maLu,,sama aja mbongkar aibnya sendiri.

  • @ Elfasi :

    ibnu abbas berumur tiga tahun ketika nabi hijrah….ok lah kalo ibnu abbas meriwayatkan hadis itu ketika beliau sudah besar..lalu pertanyaan ana, siapa yang memberitahukan ibnu abbas hadis rasulullah tersebut…???g usah pake mungkin2, wong ibnu abbas masih berada di makkah ketika rasul tiba di madinah…semua ahli sejarah sunni sepakat tentang itu… Lihat Selengkapnya…

    yang kedua hadis dari ibnu zubair : ini lebih parah lagi,Diriwayatkan bahwa Asma binti Abu Bakar yang merupakan istri dari zubair ibn awwam melahirkan Ibnu Zubair di Quba pada saat perjalanan hijrah ke Madinah. Dia merupakan muslim pertama yang lahir dalam masyarakat Islam dan hidup sampai umur 73 tahun. Menurut riwayat dari Bukhari, Rasulullah mendoakan bayi ini pada saat kelahirannya.:::::::

    kelucuan dongeng apalagi nihhh….please deh

  • abunawas says:

    @syiah menyesatkan
    anda jangan olok2 orang yang masih baru belajar donk….dia itu masih malu, mau belajar langsung sama elfasi…jadi dia pura2 mendebat…jadi jangan olok2 dia lagi, ya…
    @pecinta fatimah
    lagi-lagi jangan gegabah ya… klo mau belajar sm elfasi minta aja langsung ama dia,ana kira dia siap koq,dan sekali lagi,klo mau nanggapi itu mikir dulu,tanya dulu,pelajari dulu setelah itu baru tanggapi pendapat orang…klo jadinya seperti begini…ayo gmn? malu kan jadinya ….
    @elfasi
    maklumi ya pecinta fatimah…kacian dia,,,,
    faedah : jahil itu ada jahil basiit dan ada jahil murokkab klo yang pertama itu artinya bodoh tapi dia tahu bahwa dia itu bodoh tapi yang kedua ini parah sekali dan sulit dibilangi yaitu bodoh tapi dia gak merasa bodoh.

  • elfasi says:

    @ pecinta Fatimah, waduh…..waduh…waduh….capek gua menjelaskan lagi..
    Di atas kan udah ana jelasin dalam ilmu hadits, sahabat tu..tsiqoh jadi bisa diterima…(nt gak usah ngebahas sahabat dah… ). Jadi walaupun ketika meriwayatkan kejadian saat masih kecil atau belum wujud sekalipun, tetap hadits riwayat itu bisa diterima. Dalam istilah ilmu musthalah hadits, yang demikian disebut marasil sahabat bahkan bisa dijadikan hujjah. Ulama’ hadits malah berpendapat marasil tabi’in aja jika didukung riwayat lain yang kuat diterima. Apalagi marasil sahabat yang didukung dengan banyak riwayat yang lain. Bukankah riwayat hadits yang menerangkan tentang kesunahan puasa Asyura’ tidak hanya dari Ibn Abbas dan Abdullah bin Zubair..????
    Oleh karena itu, belajar dulu mas…….jangan langsung komentar gini pake mengkritiki lagi padahal belum ngerti ilmu hadits, suruh aja ustad2 nt belajar ilmu hadits biar gak gampang ngomentari n mengkritik………kalo ada pelawak tertawa karena lucu sebenarnya penonton semakin tertawa karena penampilan pelawak semakin tampak lucu, begitu juga anda yang menganggap komentar ilmiah lucu semakin menjadikan para pembaca terbahak-bahak karena anda adalah orang lucu yang konyol.

  • Yek Gowul says:

    @ Elfasi & sekutunya…

    Bid’ah Puasa Asyurâ’; Usaha Licik Memerangi Ahlulbait as.!

    Banyak cara ditempuh untuk mengubur hasil perjuangan Imam Husain as. di padang Karbala’ demi menegakkan agama datuknya; Rasulullah saw. dan membongkar kedok kepalsuan, kemunafikan dan kekafiran rezim Bani Umayyah yang dilakonkan oleh sosok Yazid yang bejat lagi munafik…

    Banyak cara licik ditempuh, mulai dari menutup-nutupi kejahatan Yazid dan menampilkannnya sebagai seorang Khalifah yang adil dan bertanggung jawab akan perjalanan Risalah Allah, atau mencarikan uzur dan pembelaan atas apa yang dilakukannnya terhadap Imam Husain dan keluarga suci Nabi saw., terhadap penduduk kota suci Madinah yang ia perintahkan pasukannya agar menebar kekejaman yang tak tertandingi dalam sejarah Islam, membantai penduduknya, dan memperkosa gadis dan wanita; putri-putri para sahabat Anshar -khususnya- dll. hingga membuat-buat kepalsuan atas nama agama tentang keagungan hari Asyûrâ’ dan keutamaan berpuasa di dalamnya.

    Dalam kesempatan ini kami akan batasi kajian kali ini hanya pada kepalsuan keutamaan puasa Asyûrâ’.

    Para Pendongen itu berkata:

    * Ketika Nabi saw. hijrah ke kota Madinah, beliau menyaksikan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyûrâ’ yaitu hari kesepuluh bulan Muharram, lalu beliau bertanya kepada mereka, mengapa mereka berpuasa, maka mereka menjawab, “Ini adalah hari agung, Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya.” Maka Nabi saw. bersabda, “Kami lebih berhak atas Musa dan lebih berhak untuk berpuasa di banding kalian.” Lalu beliau memerintahkan umat Islam agar berpuasa untuk hari itu. Demikian dalam dua kitab Shahih; Bukhrai dan Muslim dan lainnya.[1]
    * Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dan selainnya didongengkan dari Aisyah ra. dan selainnya bahwa: Kaum Quraisy berpuasa di hari Asyûrâ’ di masa Jahiliyah mereka. Dan rasulullah saw. juga berpuasa. Lalu setelah beliau berhijrah ke kota Madinah beliau pun berpuasa dan memerintah (umat Islam) agar berpuasa. Maka ketika diwajibkan puasa Ramadhan, beliau bersabda, “Barang siapa yang mau silahkan berpuasa (Asyûrâ’) dan siapa yang mau juga boleh meninggalkannya.”[2]
    * Sebagian pendongeng juga menyebutkan –seperti diriwayatkan dalam Shahih Muslim- bahwa Nabi saw. baru melaksanakan puasa Asyûrâ’ itu di tahun sembilan Hijrah dan setelah menyaksikan orang-orang Yahudi melakukannya, beliau berjanji jika berumur panjang akan menyalahi kaum Yahudi dengan menambah puasa hari kesembilan juga. Tetapi beliau wafat sebelum bulan Muharram tahun depan.[3]

    .

    Ibnu Jakfari berkata:

    Di sini kami memastikan bahwa dongeng di atas adalah palsu dan hanya hasil khayalan kaum pendongen belaka!

    Dan:

    A) Terlepas dari cacat parah pada sanad riwayat-riwayat di atas, di mana ia diriwayatkan dari jalur orang-oraang yang bermasalah dan baru tiba di kota suci Madinah beberapa tahun setelah Hijrah Nabi saw. seperti Abu Musa al Asy’ari, dan ada yang saat hijrah masih kanak-kanak seperti Ibnu Zubair dan di antara mereka ada yang baru menyatakan secara formal keislamannya di tahun-tahun akhir Hijrah Nabi saw. seperti Mu’awiyah ibnu Abu Sufyan.

    B) Terlepas dari adanya kontradiksi di antara riwayat-riwayat di atas, seperti, sebagian riwayatnya mengatakan bahwa:

    1. Nabi saw. berpuasa di hari Asyûrâ’ itu karena mengikuti Yahudi di mana sebelumnya beliau tidak mengetahuinya, dan setelah mengetahuinya dari orang-oraang Yahudi kota Madinah beliau berkeyakinan bahwa beliau dan umat Islam lah lebih berhak atas Musa as. dari kaum Yahudi itu!
    2. Sementara riwayat lain mengatakan bahwa Nabi saw. –seperti juga kaum Musyrik lainnya sejak zaman Jahiliyah telah menjalankan tradisi puasa Asyûrâ’.
    3. Sementara riwayat ketiga mengatakan bahwa Nabi saw. meninggalkan tradisi puasa Asyûrâ’ setelah diwajibkannya puasa bulan Ramadhan.
    4. Adapun riwayat keempat mengatakan bahwa Nabi saw. baru mengetahui kebiasaan kaum Yahudi kota Madinah berpuasa hari Asyûrâ’ sebagai ungkapan syukur mereka atas keselamatan Nabi Musa as. dan kaumnya itu di tahun kesembilan Hijrah. Dan kemudian Nabi aw. Berjanji akan menyalahi kaum Yahudi itu dengan menambah puasa hari kesembilan bulan itu. Namun sayang beliau wafat sebelum sempat melaksanakannya.
    5. Bahkan mereka meriwayatkan dari Mu’awiyah (yang baru memeluk Islam dari tahun fathu Makkah) bahwa Nabi saw. tidak pernah memerintahkan umat berpuasa di hari Asyûrâ’ akan tetapi beliau bersabda, “Barang siapa mau berpuasa silahkan dan yang tidak juga tidak apaa-apa.”

    Dan masih banyak keanehan lain dalam riwayat-riwayat dongeng puasa hari Asyûrâ’. Dan Ibnu Qayyim telah memaparkannya dalam kitab Zâd al Ma’âd-nya.[4]

    Terlepas dari semua masalah di atas coba perhatikan catatan di bawah ini:

    Pertama: Riwayat pertama di atas mengtakan kepada kita bahwa Nabi mulia saw. tidak mengetahui sunnah saudara beliau; Nabi Musa as. dan beliau baru mengetahuinya dari orang-orang Yahudi dan setelahnya beliau bertaqlid kepada mereka!

    Hal demikian mungkin tidak merisaukan pikiran para ulama itu, sebab mereka meriwayatkan (dan kami beristighfar/memohon ampunan Allah atas kepalsuan itu) bahwa Nabi saw. memang sangat menyukai untuk menyesuaikan diri dengan kaum Yahudi dan Nashrani dalam hal-hal yang belum diperintahkan dalam wahyu. Seperti diriwayatkan Bukhari dan lainnya.[5] Akan tetapi yang aneh dan lucu mereka pada waktu yang sama juga meriwayatkan bahwa Nabi saw. itu selalu bersemangat untuk menyalahi kaum Yahudi dan Nashrani dalam segala urusan, seperti yang mereka kisahkan dalam kasus adzan, di mana beliau menolak tawaran agar adzan dilakukan dengan meniup trompet atau menabuh lonceng seperti di gereja-gereja! Juga dalam masalah datang bulan dan menyemir rambut yang telah beruban… begitu juga Nabi saw. sering berpuasa di hari sabtu dan minggu dengan tujuan menyalahi Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani).. Semua yang mereka riwayatkan ini benar-benar bertentangan dengan apa yang mereka katakan dalam riwayat puasa Asyûrâ’. Sebuah kontradiksi yang biasa kita temukan dalam riwayat-riwayat para ulama itu, seihingga kami tidak kaget lagi dengannya.!!

    Sampai-sampai karena kaum Yahudi mengeluhkan sikap Nabi saw. tersebut, mereka berkata, “Orang ini (Nabi maksud mereka) tidak bermaksud membiarkan urusan kita melainkan dia menyalahi kita dalam segala urusan kita.”[6]

    Ibnu al Hâj berkata, “Adalah Nabi saw. membenci menyesuai Ahlul Kitab dalam semua urusan mereka, sampai-sampai orang-orang Yahudi berkata, ‘Muhammad menginginkan untuk tidak membiarkan ursan kita melainkan ia menyalahi kita tentangnya.’

    Dan telah datang dalam hadis: “Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia dari mereka.”[7]

    Kedua: ada sebuah kenyataan yang sering diabaikan oleh para ulama (khususnya mereka yang tertipu dengan dongeng-dongeng palsu tentang puasa Asyura) bahwa kata Asyûrâ’ untuk menunjuk pada hari kesepuluh bulan Muharram itu baru berlaku setelah kesyahidan Imam Husain as. cucu tercita Nabi Muhammad saw. dan keluarga serta pengikut setia beliau… jadi ia adalah nama/istilah Islami. Artinya istilah itu baru berlaku setelah datangnya Islam dan dilakukan oleh kaum Muslimin, sementara sebelum itu istilah itu tidak pernah ada dan berlaku.

    Ibnu al Atsîr berkata, “Ia adalah nama Islam.”[8]

    Ibnu Duraid berkata, “Sesunguhnya ia adalah nama Islami yang sebelumnya di masa jahiliyah tidak dikenal.”[9]

    Ketiga: Dalam ajaran kaum Yahudi tidak ditemukan adanya puasa Asyûrâ’ dan sekarang pu mereka tidak melakukannya dan tidak mpula menganggapnya sebagai hari raya dan hari besar!

    Keempat: Lebih dari semua itu adalah bahwa puasa bulan Ramadhan telah diwajibkan sejak beliau masih tinggal di Makkah! Seperti dalam kisah diutusnya ‘Amr ibn Murrah al Juhani sebagaimana diriwayatkan banyak ulama di antaranya Ibnu Katsir, ath Thabarani, Abu Nu’aim, al Haitsami dan lainnya.[10]

    Bahaya Pemalsuan Atas Nama Nabi saw.!

    Dan kenyataan ini menjadikan kita membayangkan betapa besar bahaya yang sedang mengancam agama Islam dengan kepalsuan-kepalsuan semacam itu…. Bagaimana kebencian terhadap keluarga suci Nabi saw. dan para pecinta mereka (baca Syi’ah) telah maracuni jiwa dan kemudian mendorong sebagian orang untuk berani memalsu hadis atas nama Nabi Muhammad saw. dengan harapan dapat mengubur perjuangan cucu tercinta Nabi saw.! Dan kemudian lantaran berbaik sangka kepada para pemalsu itu, sebagian ulama menerima dan meriwayatkannya dalam kitab-kitab mereka!

    Kepalsuan dan pemalsuan atas nama Nabi saw. seperti itu menjadikan kita harus selalu waspada terhadap semua langkah yang dirancang oleh oknum musuh-musuh Ahlulbait Nabi as. dalam memerangi mereka dan mengaburkan keagungan dan kemuliaan perjuangan mereka!

    Hari Asyura’ Adalah Hari Raya Bani Umayyah dan Musuh-musuh Keluarga Suci Nabi as.

    Para penguasa Bani Umayyah dan antek-antek mereka di sepanjang sejarah berusaha menjadikan hari ke sepuluh bulan Muharram (Asyûrâ’) sebagai hari raya, hari kebahagian, hari kegembiraan, hari kemenangan dan hari keselamatan! Semua itu mereka lakukan untuk menentang Ahlulbait as. yang menjadikannya sebagai hari duka atas kesyahidan Imam Husain as. dan keluarga serta pengikut setia beliau.

    Al Biruni melaporkan’ “Adapun Bani Umayyyah mereka telah mengenakan baju-baju baru, berhias diri, bercelak dan berlebaran. Mereka mengadakan parayaan-perayaan dan jamuan tamu. Mereka membagi-bagi permen dan makanan-makanan yang lezat. Dan demikian lah yang berkalu di kalangan masuarakat selama kekuasan mereka dan tetap berlaku meski kekuasaan mereka telah tumbang. Adapun kaum Syi’ah, mereka meratapi dan menangisi kesyahidan penghulu para syuhada’; al Husain…. .“[11]

    Al Miqrizi melaporkan, “Dan setelah tumbangnya kekuasaan ‘Alawiyyin di Mesir, para penguasa dari dinasti Ayyubiyah menjadikan Asyûrâ’ sebagai hari kegembiraan. Mereka berlapang-lapang kepada keluarga mereka. Mereka menyajikan beragam makanan lezat. Memakai alat-alat dapur yang baru. Mereka bercelak dan mendatangi pemandian-pemandian umum sesuai dengan kebiasaan penduduk kota Syam yang ditradisikan oleh Hajjaj di masa kekuasaan Abdul Malik ibn Marwan dengan tujuan menyakitkan hati Syi’ah Ali ibn Abi Thalib (Karramallah wajhahu/ semoga Allah memliakan wajah beliau), di mana mereka menjadikan hari Asyûrâ’ sebagai hari duka dan kesedihan atas kasyahidan Husain ibn Ali as. sebagi beliau gugur syahid di hari itu.” Kemudian ia melanjutkan: “Dan kami masih menyaksikan sisa-sisa tradisi bani Ayyûb yang menjadikan hari Asyûrâ’ sebagai hari kegembiraan dan kelapangan.”

    Al Miqrizi juga menyebutkan doa Imam Muhammad al Baqir as. (Imam Kelima Syi’ah) yang berbunyi: “Dan ini adalah hari di mana bani Umayyah dan anak keturunan wanita pengunyah jantung meyakini keberkahannya karena mereka telah berhasil membunuh Husain.”[12]

    Dan untuk semua itu, musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. telah membuat-buat kepalsuan atas nama Nabi saw. tentang keagungan hari Asyûrâ’ dan pahala besar yang dijanjikan bahwa yang berpuasa, berbanyak-banyak dalam memberi uang belanja kepada keluarga, mengusap kepala anak yatim, membagi-bagi makanan dan menampakkan kehabagian dan kegembiraan di dalamnya. Walaupun tidak sedikit pula usaha telah dicurahkan ulama Islam (sunni) dalam membongkar kepalsuaan hadis-hadis seperti itu.

    Namun yang paling menyedihkan dari pemalsuan atas nama Nabi saw. adalah fatwa-fatwa sesat lagi menyesatkan yang diproduksi sebagai terompet kemunafikan dan kesesatan bani Umayyah yang melarang menampakkan kesedihan atas kesyahidan Imam Husain as. dan juga melarang membacakan kisah kesyahidannya!

    [1] Mushannaf Abdurrazzâq,4/289 dan 290, Shahih Bukhari,1/244, Shahih Muslim,3/150, as Sirah al Halaibiyah,2/132-133, al Bidayah wa an Nihayah,1/274, 3/355. baca juga tafsir Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat-ayat puasa dalam surah al Baqarah.

    [2] Ibid. dan Muwaththa’; Imam Malik,1/279 dan Zâd al Ma’âd,1/164 dan 165.

    [3] Shahih Muslim,3/151.

    [4] Zâd al Ma’âd,1/164-165.

    [5] Shahih Bukhari, pada bab Farq asy Sya’ri Fi al Libâs, as Sirah al Halabiyah,2/132 dan Zâd al Ma’âd,1/165.

    [6] As Sirah al Halabiyah,2/115 dan Sunan Abu Daud,2/250.

    [7] Al Madkhal,2/48.

    [8] An Nihayah; Ibnu Atsîr,3/240.

    [9] Ibid.

    [10] Al Bidayah wa an Nihayah,2/252 dari riwqayat Abu Nu’aim, Majma’ az Zawâid,9/244 dari riwayat ath Thabarani dan Kanzu ‘Ummâl,7/64 dari riwayat ar Ruyâni dan Ibnu ‘Asâkir.

    [11] ‘Ajâib al Makhlûqât,1/114.

    [12] Al Khithath; al Miqrizi,1/490. baca juga al Hadhârah Fi al Qarni ar Râbi’ al Hijri,1/138.

  • ahlulbait says:

    ana liat kalo team forsan menjawab cukup ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan….
    tapi kalo team syiah kok cuma copy paste

    pantesan syiah di indonesia cuma bisa copypaste aja dr iran

  • abunawas says:

    @yek gowul
    anda kritis sekali…sampe saking kritis nya sampe ngawur dan gak terarah omongan anda,,,,kita disuruh untuk mempercayai kritik anda terhadap hadist2 shohih dari kitab bukhori dan muslim yang diakui keafsahannya mulai ulama’2 dizamannya sampe ulama’2 dizaman sekarang,,,dan lucu sekali anda dengan mengatakan bahwa semua hadist itu adalah sebuah dongeng…emangnya orang PERSI yang selalu mengeluarkan hadist2 palsu…dan anda juga mengatakan bahwa peratapan yang sangat menyalahi dari ajaran syareat dengan memukul-mukul badan ,melukai badan sendiri sampe berdarah-darah , lebih kejam lagi dgn melukai anak2 kecil yang tidak punya dosa adalah hal yang baik…apakah itu yang diinginkan oleh sayyidina Husein …. yek gowuuuul yek gowul anda ini kebanyakan bergowul dengan orang2 persi rupanya koq omongan ente banyak ngelanturnya..

  • PEMERHATI says:

    NAH QT TAU SKRNG,GIMANA BEJATNYA SYIAH,SHOHIH BUKHORI MUSLIM YG DIAKUI PR ULAMA SALAF WAL KHOLAF DIKATAKAN DONGENG,MAKANYA ORANG2 YG KENA VIRUS SYIAH INI DIHANCURKAN OLEH ALLOH,BUKAN CUMA DIAKHIRAT TP DI DUNIA,COBA LIAT FOTO YG ADA SBLMNYA DLM KOMENTAR ELFASI 20 DESEMBER,GIMANA SEORANG IBU DNG BANGGGANYA MELUKAI ANAKNYA SENDIRI,PDHAL QT TAU KASIH IBU G TERTANDINGI TP KRN HATINYA TERTUTUP KOTORAN SEBAB KURANG AJAR SAMA ORANG2 PILIHAN2 ALLOH,MK TERCABUTLAH ROHMAT DR HATINYA.MK NT YEK GOWUL KL EMANG NT EMANG HABIB,TOBAT,……………KRN DATUK2MU G ADA YG SEPERTI ITU,JNG TERTIPU DNG TIPU MUSLIHAT ORANG2 IRAN DNG PROPAGANDANYA SYIAH……….KL NT BKN HABIB LBH HRS LG NT TOBAT SBLM NT KUALAT MATI SU’UL KHOTIMAH,,,,,,,

  • Iwan says:

    Trima kasih atas comment nya mas Abunawas. Hanya Allah yang bisa menilai hambaNya. Dari komentar antum sulit rasanya untuk dikatakan ” Orang yang BerIman sebenar-benarnya Iman. Karena mustahil orang yang berIman akan keluar kata-kata yang menyakitkan saudaranya sendiri. Bangkai yang ada didalam botol mustahil akan mengeluarkan bau WANGI. Bau wangi akan keluar dari botol bila isi botol itu benar-benar wangi.Yang saya maksudkan dalam komentar saya bahwa Pantaskah kita merayakan asyura dengan kegembiraan hanya karena kita dikelabui oleh sejarah yang mengatakan bahwa 10 Muharram adalah hari kemengangan ??? padahal sesunnguhnya 10 Muharram adalah hari duka cita syahidnya Imam Husein???. Makanya mas kaji dengan baik sejarah Islam.Mana sesunggunya yang benar???. Paling tidak ada 3 ciri mazhab Syiah : 1. Paling mulia akhlaknya. 2. paling tinggi ibadahnya 3. Paling dalam ilmunya. Kalau 3 kriteria di atas masa saya belum SYIAH. baru sekedar penCINTA SYIAH.

  • fahmi assegaf says:

    @ pemerhati, betul beb, emang gitu orang syi’ah tu sesukanya aj, udah sering ngacau ama hadits di bilang dongeng kayak mereka itu paling alim aja lebih alim dari ibn hajar alasqolani n sukanya pake nyelewengin isi kitab….
    bukankah kematian syd husein tu karena mendatangi undangan orang2 iraq yang ingin baiat, tapi apa yang mereka perbuat ketika syd husein dah sampai ke mereka justru mereka bepaling dan memusuhi serta memerangi ahlul bait. mereka tu kayaknya taqiyah minta syd husein datang klo dah datang trus mereka berbalik arah memusuhi dan ingin membunuh syd husein….
    kayak2nya emang pantas acara karbala (asyura) buat mereka orang2 syiah iraq dan iran sebagai hari duka krn mereka gak bisa membantu syd husein justru mmusuhi krn lbh condong ama ibn ziyad…
    ritual pukul2 diri tu emang pantesnya buat rasa penyesalan mereka….
    eehhhh knp org syi’ah indonesia kok pake niru2 mereka orang iran ya…. emang keturunan mereka apa ya….?????????

  • elfasi says:

    @ yek gowul sekaligus abu bakar saleh, tulisan nt mungkin dianggap ilmiah oleh orang2 seperti anda, tapi bagi yang baca kitab, akan mengerti kalo nt adalah bodoh atau penyeleweng kitab,
    @ pengunjung, ana akan paparkan isi tulisan (copypaste) yek gowul bertentangan dengan kitab2 yang mereka ambil.
    1. Anda hanya kemukakan permasalahan yang tertulis dalam kitab padahal di kitab itu pula dipaparkan jawabannya. Kamu sengaja berkhianat dari kitab itu sendiri.
    Para pengunjung website yang terhormat, isi tulisan yek gowul memang tertulis di kitab zaadul ma’ad juz 2 hal 66-77 pada masalah2 yang musykilah, akan tetapi pengarang menerangkan setelahnya jawaban2 dari masalah2 itu sehingga tidak ada kontradiksi padanya. Pengen liat, klik disini.
    2. Anda sengaja memotong keterangan isi kitab untuk membela pendapat anda yang sesat padahal dikitab itu pula disebutkan riwayat2 hadits akan kesunahan puasa Asyura’, sebagaimana riwayat sydt Hafshah berikut :
    وَقَالَتْ حَفْصَةُ : أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعَهُنّ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ وَالْعَشْرُ وَثَلَاثَةُ أَيّامٍ مِنْ كُلّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَا الْفَجْرِ ذَكَرَهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللّهُ
    Ada empat hal yang tidak ditinggalkan oleh Rasulullah SAW : puasa Asyura’, puasa hari-hari sepuluh malam dzulhijjah, puasa tiga hari setiap bulannya dan dua rakaat shalatsunnah fajar. (lihat Musnad Imam Ahmad, hadits 25254)
    Demikian juga hadits riwayat Imam Ahmad :
    وَذَكَرَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النّبِيّ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ أَنّهُ كَانَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجّةِ وَيَصُومُ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيّامٍ مِنْ الشّهْرِ أَوْ الِاثْنَيْنِ مِنْ الشّهْرِ وَالْخَمِيس وَفِي لَفْظٍ الْخَمِيسَيْنِ .
    “ Rasulullah SAW berpuasa 9 hari di bulan Dzilhijjah, puasa Asyura’, puasa tiga hari tiap bulannya, atau hari senin dan kamis “

    3. Anda katakan ibn atsir berkata “Ia adalah nama Islam.”.
    Anda tidak mengerti arti ucapan Ibn Atsir kalo begitu, maksud sebenarnya, orang2 yahudi dan orang2 arab berpuasa di tanggal 10 Muharram, namun hari itu tidak dinamkan saat itu dengan hari Asyura’. Nama hari Asyura’ dikenal di zaman Islam. Olah karena itu Ibn Atsir berkata Asyura’ adalah nama islam.
    4. Anda katakan bahwa : “Dalam ajaran kaum Yahudi tidak ditemukan adanya puasa Asyûrâ’ dan sekarang pun mereka tidak melakukannya dan tidak pula menganggapnya sebagai hari raya dan hari besar! “
     Sebenarnya kami udah menjelaskan ini di atas, tapi mungkin anda belum faham juga, jadi ana terangkan lagi buat anda. Maklum anda cuman copypaste bukan komentar ilmiah.
    Orang yahudi dahulu sangatlah berbeda dengan orang yahudi sekarang. Dulu mereka percaya dengan berita Taurat akan kedatangan seorang Nabi terakhir yang bernama Ahmad (Nabi Muhammad). Namun mereka mengingkarinya setelah mengetahui bahwa Nabi Muhammad dari arab bukan dari kaum Yahudi. Perlu anda ketahui, ada beberapa amalan yang dilakukan orang yahudi atau orang arab tapi tetap diberlakukan dalam islam seperti menghormati asyhurul hurum, puasa Asyura’, dan masih banyak lainnya.
    5. Anda menyebutkan dalam kitab Albidayah wan Nihayah bahwa puasa ramadhan diwajibkan ketika Rasulullah masih tinggal di Makkah (belum hijrah), itu ada disebelah mana ya ..??? justru yang ana dapatkan sangat berseberangan dengan apa yang anda disebutkan. Dalam kitab Albidayah wan Nihayah itu sendiri justru dinyatakan puasa Ramadhan diwajibkan tahun kedua setelah hijrah sebelum peperangan Badar.
    البداية والنهاية – (ج 3 / ص 311)
    فصل في فريضة شهر رمضان سنة ثنتين قبل وقعة بدر قال ابن جرير (1): وفي هذه السنة فرض صيام شهر رمضان وقد قيل إنه فرض في شعبان (2) منها، ثم حكى أن رسول الله صلى الله عليه وسلم حين قدم المدينة وجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم عنه فقالوا هذا يوم نجى الله فيه موسى [ وغرق فيه آل فرعون ] (3).
    6. Adapun hadits riwayat Mu’awiyah yang mengatakan :
    عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَمِعَ مُعَاوِيَةَ بْنَ أَبِي سُفْيَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَوْمَ عَاشُورَاءَ عَامَ حَجَّ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُولُ يَا أَهْلَ الْمَدِينَةِ أَيْنَ عُلَمَاؤُكُمْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ وَلَمْ يَكْتُبْ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ وَأَنَا صَائِمٌ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ

    Maksudnya adalah puasa Asyura’ yang asalnya wajib (harus dikerjakan) berubah menjadi sunnah (berpahala jika dikerjakan namun boleh ditinggalkan) setelah diwajibkan puasa Ramadhan. Keterangan tersebut juga disebutkan dalam kitab zaadul ma’ad juz 2 hal. 72.
    Adapun untuk yang lainnya, kami gak perlu mengulangi lagi keterangan karena udah kami terangkan panjang-lebar di atas.

    PERHATIAN :
    Kepada saudara2, jika orang2 syi’ah membawa dalil dari kitab, maka cek terlebih dahulu karena mereka suka berbohong dan memelintir isi kitab. Akan tetapi, jika dari diri mereka sendiri, maka “ jika orang bodoh yang berkata, katakan salama”.

  • abuqnan says:

    Dari atas sampai ke bawah, perasaan, belum ada hujjah dr org2 syi’ah mengenai tradisi mereka memukul2 dada, melukai tubuh, dan membuat “ogoh2” khas org hindu. Kok rasanya kita (sunni) seperti di dekte oleh mereka dan gak ada bantahan yg ilmiah.
    Yang merasa syi’ah, tolong sebutkan dalil2 mengenai tradisi di atas (mukul dada, melukai tubuh dll). Kemudian kita diskusikan disini kebenarannya. Biar fair gitu.

  • muhibbin says:

    @ iwan, bau bangkai yang busuk itu memang keluar dari orang2 yang mulutnya suka mencaci shahabat, pikirannya hanya membuat rekayasa penipuan sejarah dengan mengatakan hadits2 Asyura’ adalah buatan musuh2 syd Husein serta dongeng belaka. Tunjukkan di kitab mana hal demikian disebutkan ????
    Memang benar ” paling tidak ada, 3 ciri madzhab syiah :
    1. paling tidak ada akhlaqnya,
    2. paling tidak tinggi ibadahnya,
    3. paling tidak ada ilmunya.

  • wong Djowo says:

    Karena orang2 syiah mulai mengabaikan etika, menyebut hadits asyura sebagai dongeng, rekayasa politik, khayalan kaum pendongeng dll. Padahal ini adalah pendapat para ulama besar seperti Imam Abdullah Al-Haddad dan lainnya. Maka tak ada salahnya kalo kita singkap seperti apakah kehidupan para ulama syiah sebenarnya…
    Silakan dinilai dan BANDINGKAN dengan Ulama Ahlissunnah
    KALO Yang Ini ASLI, bukan DONGENG

    TOKOH SYIAH BERCIUMAN BIBIR DENGAN LAKI-LAKI.. (hwek!)

    mulut yang selalu mencaci para sahabat itu sedang berciuman mesra
    KLIK VIDEO
    DI SINI

  • abu debeg says:

    @ elfasi : km udh kehilangan rasionalitas..hanya dgn ketentuan ilmu hadist yg mengatakan shbt tsiqah km telah meninggalkan akalmu….

    Pecinta Fatimah: g usah diladenin org yg berargument yg tdk rasional…

  • abu debeg says:

    @ buat pembenci Syi’ah :

    ”Agama adalah cinta dan cinta adalah agama”
    (Imam Ja’far al-Shadiq)
    ”Orang yang paling rahim adalah yang memaafkan padahal sebetulnya ia mampu membalas-dendam”
    (Imam Husayn)
    ”Agama adalah cinta dan cinta adalah agama”. Imam Ja’far sesungguhnya hanya sedang mengungkapkan prinsip dasar, yang melandasi semua ajaran dan prinsip agama Islam. Memang, siapa bisa membantah bahwa di atas semuanya Islam adalah agama cinta?
    Karena itu, apa saja yang dilakukan oleh para penghulu agama ini tak mungkin dapat dilihat dengan benar kecuali dengan kaca mata cinta. Bukan hanya ketika Nabi saw. mengampuni orang-orang Tha’if yang memprosekusinya, atau ketika ia memaafkan semua kafir Quraisy yang menindasnya justru ketika ia gilang-gemilang menaklukkan mereka di Fath Makkah, tapi bahkan ketika beliau saw. memerangi mereka. Penghukuman, peperangan, bakan pembunuhan adalah bukan saja bagian dari kecintaan kepada kemanusiaan dan upaya menyelamatkannya dari kerusakan yang dibuat orang-orang yang telah menganiaya diri (fitrah)-nya, tapi juga bagian dari kecintaan kepada pelakunya. Ia harus dihukum agar mendapat pelajaran demi perbaikan dirinya. Bahkan jika ada yang harus dibunuh, maka tujuannya adalah mencegahnya dari lebih jauh menganiaya diri sendiri, yang akan menyengsarakannya di dunia dan di kehidupan yang lain kelak setelah kematiannya.
    Persis inilah yang dilakukan Imam Husayn ketika ia meninggalkan Makkah untuk pergi ke Kufah, dan akhirnya syahid di tengah perjalanan – Karbala – bersama nyaris semua anggota keluarga dan segelintir pengikut-setianya. Peristiwa Karbala, karena itu, pasti bukan persoalan ambisi untuk berkuasa.
    Imam Husayn, seperti ayahnya, pastilah sorang fataa. Seorang kesatria-sufi. Ungkapan Nabi Muhammad saw. — laa fataa illaa ’Ali (tak ada kesatria seperti Ali) — tentu tak kurang-kurang sesuai untuk putranya ini. Karena, bukankah Nabi yang sama mengatakan tentang sang putra, bahwa ia Tuan dari seluruh martir (sayyid al-syuhada)? Tapi, seperti fataa, bukan saja dia adalah ahli perang dan pemberani didikan sang ”singa” (haydar) Ali. Tapi, seperti ayah, ibu, dan kakeknya pula, dia adalah teladan ”penyangkalan diri” sempurna, dan simbol-puncak kecintaan kepada Tuhan.
    Inilah katanya :
    ”Butalah mata seseorang yang tidak menganggap bahwa Engkau mengawasinya. Merugilah peniagaan seseorang yang belum memperoleh cinta-Mu sebagai labanya”
    Atau :
    ”Apakah gerangan yang diperoleh seseorang yang kehilangan Diri-Mu? Masih adakah kekurangan bagi seseorang yang mendapatkanmu?”
    Memang fataa sama sekali bukan hanya kesatria perang yang sakti mandraguna dalam menaklukkan musuh-musuhnya. Sama sekali tak bisa diperbandingkan dengan itu semua, fataa adalah penakluk diri sendiri, ego angkara-murka yang selalu cenderung mendorong ke arah pembangkangan kepada Allah. Dia tentu adalah mujahid. Tapi bukan hanya mujahid dalam peperangan, melainkan mujahid al-nafs (kesatria perang melawan diri sendiri). Itu sebabnya dikatakan, tak ada peperangan di medan tempur(jihad ash-ghar atau jihad kecil) yang dilakukan tanpa didahului peperangan –hati melawan nafsu angkara-murka (jihad besar atau jihad akbar).
    Sebagai seorang fataa seperti ayahnya, dia adalah sayyid al-fityan, simbol keberanian, kedermawanan, dan ketanpa-pamrihan. Seperti kata Nabi saw. kepada Ali ra. (yang dikutip banyak sufi) : ”Wahai Ali, seorang fataa adalah orang yang jujur, percaya, amanah, pengasih, pelindung kaum papa, amat dermawan dan santun, gemar berbuat amal-amal baik, dan berpenampilan sederhana.” Seorang fataa memiliki harga diri (muruwwah). Bukan saja harga diri di depan orang lain, melainkan harga diri sebagai manusia, yang tak hendak menurunkan kemanusiannya dengan menganiaya fitrahnya. Seorang fataa, meneladani Tuhannya, mendahulukan kasih sayang atas kemurkaan. Seperti Tuhan yang siap mengampuni semua dosa, ia tak putus asa terhadap orang-orang. Dan ini sama sekali tak bertentangan dengan prinsip keadilan. Seperti dikatakan Reza Shah-Karemi, dilihat dari perspektif ontologis, kasih sayang adalah satu aspek keadilan.
    Bukan hanya Islam, bahkan (atau, seharusnya, tentu) mazhab Syi’ah, adalah mazhab cinta. Bukankah, kalau kita harus menyebut satu saja ciri mazhab ini, itulah mesti ”wilayah”? Wilayah adalah kepemimpinan, ketundukan kepada pemimpin. Tapi wilayah juga sepenuhnya berarti kecintaan, pengasihan. Kecintaan dan pengasihan kepada pimpinan, sekaligus kecintaan pemimpin (waliy) kepada yang dipimpinnya. Kecintaan pemimpin sebagai perpanjangan tangan Wali-Puncaknya, yaitu Allah Swt.?
    Orang boleh mengira bahwa lawannya cinta adalah kebencian. Sehingga, untuk mencintai seseorang, atau mencintai Allah, kita harus membenci musuh-musuh orang itu atau musuh-musuh Tuhan.. Tapi, hemat saya, lawannya cinta bukanlah kebencian. Cinta adalah keseluruhan. Tak ada ruang di luar cinta. Tak ada lawan-kata untuk cinta. Kalau pun mesti ada kosa kata ”kebencian” maka itu hanya layak ditujukan kepada perbuatan, bukan kepada orang-orang. Kita boleh, bahkan harus, benci kepada perbuatan buruk. Tapi tetap oleh kecintaan kita agar tak ada manusia apa pun yang terus terjebak ke dalam keburukan. Kita harus membenci perbuatan orang, kita tentu saja boleh memperingatkan, bahkan menghukum jika diperlukan. Tapi, kebencian kepada perbuatan buruk, peringatan, bahkan hukuman tetap harus ditetskan dari sumber cinta.
    Karena itu, sudah pasti, Karbala bukan persoalan kebencian. Karbala boleh jadi melibatkan kejahatan dan kekejian terbesar sepanjang sejarah kemanusiaan, tapi tetap saja ia adalah persoalan cinta. Persoalan cinta Tuhan, dan melebur (kembali) ke dalam Dia. Persoalan memaafkan, dan bukan kebencian. Persoalan memaafkan, dan menjadi seperti Tuhan. Karena itu, Karbala tentu bukan hanya persoalan memukul-mukul dada, apalagi melukai tubuh sendiri. Dan sudah pasti Karbala bukan hanya soal laknat-melaknat.
    Satu lagi. Tragedi Karbala bukan hanya bukan persoalan orang-orang yang mengaku sebagai pengikut mazhab Syi’ah atau mazhab Ahl al-Bayt (Keluarga Rasul) saja – apalagi tak ada sesungguhnya Muslim yang boleh merasa sebagai bukan pengikut Keluarga Rasul. Siapa pun akan mengerdilkan peristiwa Karbala jika tak melihatnya sebagai memiliki tujuan kemanusiaan universal. Bahkan tak hanya terbatas pada kaum Muslim belaka. Inilah kata Muthahhari, seorang ulama besar yang telah membaktikan diri sebagai pengikut Imam Husayn r.a dengan cara mendedikasikan hidupnya bagi perbaikan kemanusiaan dan mengorbankan dirinya sbagai syahid untuk misinya itu :
    (“Salah satu) syarat bagi suatu gerakan suci (seperti Karbala) adalah bahwa ia tak semestinya memiliki tujuan yang besifat personal, yang (hanya) terkait dengan kepentingan individual. Ia harus bersifat universal dan meliputi seluruh kemanusiaan dan spesies manusia. …. Seseorang yang melancarkan perjuangan seperti ini sesungguhnya mewakili semua manusia. … Inilah sebabnya Rasul saw. menyatakan : “Husayn adalah (bagian) dariku dan aku (bagian) dari Husayn”. (Yakni, bukankah Allah Swt, memfirmankan bahwa Rasul saaw. diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam?).
    Buku ini terutama adalah upaya, seperti kata Rumi, untuk melihat Karbala dengan memusatkan perhatian kepada Imam Husayn, pusat-agung dari semua peristiwa ini. Kepada teladan kecintaan sempurna kepada Tuhan dan kemanusiaan universal, serta penyangkalan diri habis-habisan di hadapannya. Bukan kepada peperangan, pertumpahan darah, kejahatan, kekejaman, kehewanan, dan nafsu ingin balas dendam. Bahkan juga bukan semata-mata duka dan kesedihan. Buku ini adalah tentang kita belajar cinta kepada Tuhan dan kemanusiaan, dari Tuan-Nya Para Penghulu Syuhada ini. Seperti Iqbal saja, kita bisa berkata : Peran Husayn di Karbala begitu agungnya sehingga ia memupuskan gagasan-buas tentang kekejaman dan keberdarah-dinginan. Gelombang darah Husayn, kata penyair anak-benua pencinta Keluarga Nabi ini, telah menciptakan taman yang menyimbolkan pengorbanannya bagi pelestarian kebebasan dan kebenaran. Persis seperti yang diungkapkan Zaynab ra., di tengah bau anyir darah keluarga Imam Husayn di padang Karbala : ”Aku mencium harum bau surga di sini.”[1] Sehingga, seperti kata Rumi tentang peristiwa ini :
    “… kalau ini persoalan menyawang (dunia ruhani), kenapa tidak berani, kenapa tak menyokong (orang lain), kenapa tak berkorban-diri, dan sempurna terpuasi?”
    Semoga Allah Swt. membuka dada kita selapang-lapangnya untuk dapat merasakan luapan cinta Imam Husayn, dan meneladaninya, meski mungkin besarnya cuma setetes dibanding samudera yang dibentangkannya.
    “Bumi bergetar, berguncang; langit meraung-raung
    Ini bukan perang, ini adalah pengejawantahan cinta”
    “Kesusahan syahadah, dengar!, adalah hari suka-cita.
    Yazid bahkan tak peroleh sezarah cinta ini
    Kematian adalah hujan untuk anak-anak Ali”
    “Kesusahan syahadah adalah seluruh musim hujan penuh suka-cita
    Yazid tak temukan jejak-jejak cinta ini
    Untuk dibunuh adalah keputusan Imam sendiri
    sejak mula-mula sekali”
    “Surga adalah kediaman merka
    dalam kejayaan mereka telah mangkat ke surga
    Mereka telah malih fana dalam Tuhan
    dengan-Nya mereka telah jadi Dia”
    (Abdul-Lathif dari Bhit,1689-1752)

  • Wong Iran says:

    @ Untuk sekutunya Yazid!!!

    Membumikan Tragedi Karbala

    Itulah mengapa disebutkan bahwa Imam Husein as dengan revolusinya berhasil menjaga kemurnian agama Islam. Sebuah ungkapan yang menarik “Islam muncul dengan Nabi Muhammad saw dan kekal dengan Imam Husein as”. Imam Husein as adalah lambang perjuangan menentang penguasa yang lalim. Penguasa yang tidak hanya hidup di zaman itu, Yazid hanya sebuah simbol. Penguasa lalim ada dan hidup di setiap masa. Semboyan “Pantang Hina” yang diucapkan oleh Imam Husein as tetap abadi dan tidak pudar oleh ruang dan waktu. Di sini perjuangan Imam Husein as menang. Kemenangan karena dilandasi oleh keimanan.

    “Sesungguhnya benar-benar terdapat pelajaran pada kisah-kisah mereka (orang-orang terdahulu) bagi orang- orang yang memiliki akal” (Yusuf: 111)

    Sering kali orang mengatakan bahwa sejarah adalah guru manusia. Kebanyakan mereka yang belajar dari sejarah adalah orang-orang yang berhasil. Sejarah bukan hanya untuk dibaca tapi perlu dikaji. Sejarah dibaca untuk diambil pelajaran. Al-Quran banyak menceritakan umat-umat terdahulu. Bagaimana sebuah bangsa hancur karena perbuatan mereka. Al-Quran menyebutkan bahwa pembangkangan mereka terhadap perintah Allah yang membuat Allah menurunkan azabnya.

    Sebaliknya, umat yang berhasil dan jaya tidak muncul begitu saja. Sejarah memiliki undang-undangnya sendiri. Kejayaan dan kemenangan punya aturannya dan kehancuran dan kekalahan punya aturannya sendiri. Itulah yang sering diistilahkan dengan determinasi sejarah.

    Undang-undang kemenangan oleh Allah dengan indah dilukiskan, “Kamulah orang- orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (Ali Imran: 139). Allah memberikan syarat kepada sebuah umat yang ingin menang dan jaya. Salah satu syaratnya adalah keimanan. Dengan bekal keimanan inilah Allah memenangkan pasukan Thalut yang jumlahnya sangat sedikit ketika menghadapi bala tentara Jalut. Hal yang Allah memenangkan umat Islam dalam perang Badar. Keimanan sering membalik perhitungan yang berlandaskan kuantitas. Allah swt berfirman: “Betapa banyak golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar” (Baqarah: 249).

    Kehancuran sebuah umat juga punya undang-undang. Setiap umat yang memiliki syarat-syarat itu akan hancur. Allah berfirman: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang- orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur- hancurnya” (Isra’: 16).

    Bila kita meyakini bahwa sejarah punya peran penting bagi manusia untuk menata masa depannya, peristiwa Karbala pada tahun 61 hijriah menjadi sangat penting. Sebuah peristiwa paling penting dalam sejarah perjalanan Islam. Saat-saat Islam berada di persimpangan jalan. Ketika Yazid bin Muawiyah mengaku sebagai khalifah Allah di muka bumi. Khalifah sebagai pengganti Nabi Muhammad saw. Ia dikenal sebagai pemabuk, penjudi dan perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim, apa lagi orang yang bergelar khalifah Allah.

    Mengapa kita harus mengenang kembali tragedi karbala?

    Mengapa kita harus menghidupkan kembali peristiwa yang terjadi kira-kira 14 abad yang lalu? Bukankah itu telah berlalu? Terlepas dari kejadian tersebut pahit dan menyedihkan ataupun menyenangkan dan apapun yang terjadi, itu semua sudah selesai, mengapa kita harus mengingat-ingat serta menghidupkannya kembali dan mengadakan acara-acara khusus untuk itu semua?

    Untuk menjawab pertanyaan seperti ini, kita mungkin perlu mengingat bahwa semua peristiwa sejarah yang terjadi pada setiap kaum memberikan pengaruh besar dan nasib buat kaum yang akan datang. Sebuah kasus dalam sejarah dengan bentuk yang sama mungkin tidak akan berulang kembali. Namun, bila dianalisa lebih dalam, setiap sejarah punya titik-titik kesamaan.

    Salah satu faktor penting dan diterima secara aksiomatis adalah setiap manusia memiliki hawa nafsu dan akal. Dengan menekankan dan mengkaji dua faktor ini secara terpisah, lalu menerapkannya dalam setiap kasus sejarah dapat dikatakan kedua faktor ini mempunyai pengaruh yang kuat dalam mengendalikan terjadinya sebuah kasus sejarah.

    Allah swt sangat menekankan manusia untuk melakukan perjalanan dan belajar dari sejarah. Banyak sudah orang yang melakukan perjalanan. Banyak sudah orang yang menyaksikan peninggalan-peninggalan bersejarah. Banyak sudah orang yang membaca sejarah dari buku-buku sejarah. Pertanyaannya adalah seberapa banyak orang yang mengambil pelajaran dari sejarah? Imam Ali as berkata: “Sungguh banyak pelajaran tapi sedikit sekali yang mengambil pelajaran”. Menguatkan itu, Allah swt berfirman: “Sesungguhnya benar-benar terdapat pelajaran pada kisah-kisah mereka (orang-orang terdahulu) bagi orang- orang yang memiliki akal (Yusuf: 111).

    Kita diperintahkan untuk mengkaji sejarah orang-orang terdahulu agar dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari itu semua. Dalam sebuah kasus tentu ada titik lemah yang dilakukan. Itu perlu dipelajari untuk kemudian tidak diulangi di masa depan. Mengenang segala tragedi merupakan kunci untuk membuka rahasia-rahasia yang tersimpan di dalamnya agar masyarakat dapat mendeteksi kembali dan mengambil hikmat dari titik-titik tersebut.

    Bila kejadian sejarah merupakan sumber segala pengaruh dan keberkahan, maka mengenang dan mengkajinya merupakan kunci untuk membuka berkah itu sendiri. Apa lagi, sebuah umat yang besar adalah yang menghargai sejarah dari pendahulu mereka. Tanpa sejarah sebuah umat kehilangan akar dan tidak beridentitas.

    Membaca sejarah dapat menjadi sumber inspirasi. Namun, jangan lupa bahwa membuka lembaran sejarah terkadang membuat hati pilu. Terlebih lagi bila sejarah itu terkait dengan sebuah pembantaian manusia-manusia terbaik. Imam Husein as yang oleh Rasulullah saw disebut sebagai dirinya “Husein dariku dan aku dari Husein”.

    Membuka kembali lembaran sejarah peristiwa Karbala tidak hanya untuk membacanya lalu bersama-sama menguraikan air mata. Ada pelajaran penting di sana. Sebuah misi yang membuat setiap pribadi yang ikut di dalamnya mengambil sebuah adegan yang saling mendukung melanjutkan misi Imam Husein as. Beliau keluar untuk melakukan revolusi setelah melihat perilaku Yazid bin Muawiyah yang sewenang-wenang.

    Peperangan berlangsung tidak berimbang. Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya lebih memilih mereguk cawan syahadah ketimbang terhina dalam hidupnya. Terhina oleh penguasa zalim berjubah orang saleh. Mereka lebih memilih mati memperjuangkan ajaran Rasulullah ketimbang melihat agama ini dimanipulasi oleh orang-orang semacam Yazid.

    Sejarah mencatat bahwa Imam Husein as dengan jumlah pasukan sekitar 72 orang dibantai oleh ribuan pasukan Ibnu Ziyad. Kalahkah Imam Husein as yang membawa bendera keimanan dan kesabaran? Apakah di sini logika al-Quran tidak dapat diterapkan? Bukankah Allah akan memenangkan orang-orang beriman? Bukankah berapa banyak kelompok yang kecil berhasil mengalahkan kelompok besar?

    Logika al-Quran masih berlaku. Kemenangan tidak dilihat dari bentuk fisik melulu. Al-Quran menjelaskan bahwa jumlah kecil juga dapat menang dengan tujuan menjelaskan bahwa kemenangan tidak dengan kuantitas. Kemenangan harus dilihat dari tujuan. Apakah misi itu berhasil mewujudkan tujuannya, sekalipun pelaku dan pembawa misi itu telah tiada?

    Tentu jawabannya adalah positif. Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya memang tercabik-cabik jasadnya. Namun misinya tetap berlanjut. Misi imam Husein as yang semula adalah melakukan kewajiban amar makruf dan nahi mungkar masih tetap berlanjut. Misi itu masih terus dikenang. Karena tanpa revolusi Karbala, agama ini akan hancur.

    Itulah mengapa disebutkan bahwa Imam Husein as dengan revolusinya berhasil menjaga kemurnian agama Islam. Sebuah ungkapan yang menarik “Islam muncul dengan Nabi Muhammad saw dan kekal dengan Imam Husein as”. Imam Husein as adalah lambang perjuangan menentang penguasa yang lalim. Penguasa yang tidak hanya hidup di zaman itu, Yazid hanya sebuah simbol. Penguasa lalim ada dan hidup di setiap masa. Semboyan “Pantang Hina” yang diucapkan oleh Imam Husein as tetap abadi dan tidak pudar oleh ruang dan waktu. Di sini perjuangan Imam Husein as menang. Kemenangan karena dilandasi oleh keimanan.

    Bila mengenang tragedi Karbala memiliki peran yang sebegitu penting dalam kehidupan seseorang, maka merugilah mereka yang melupakan ataupun tidak memberikan perhatian khusus atas peristiwa bersejarah ini.[]

    Penulis: Mahasiswa S1 Jurusan Ulumul Quran di Universitas Imam Khomeini Qom, Republik Islam Iran

  • Iwan says:

    Mas muhibbin, sekali lagi siapapun yang mencermati dialog ini, pastilah bisa menilai seperti apa akhlak dan keimanannya antum dan rekan2 yang sesungguhnya. Saya ketika menulis di kolom ini tak terasa air mata saya membasahi pipi saya, sangat prihatin dengan kondisi ummat ini. Generasi seperti inikah ya Allah yang akan melanjutkan misi Rasulullah??? Agama yang sangat MULIA… Tapi ya… kita masih punya harapan, semoga generasi ke depan lebih cerdas, akhlaknya lebih mulia, lebih santun dalam berargumen, menggunakan logika yang benar, dan yang paling penting semoga mereka senantiasa mendapat bimbinganMu. Kalo masalah dalil nggak perlu saya mengulangi apa yang telah disampaikan oleh rekan2 saya. Sudah sangat jelas dalil-dalilnya, baik naqli maupun aqli. Udalah mas kita kembalikan aja kepada pemilik KEBENARAN.Karena biar bagaimanapun dalilnya kalo hati mas dan rekan2nya udah keras dan tertutup, tidak ada yang bisa menolong kecuali ALLAH SWT. DI DALAM HATI MEREKA ADA PENYAKIT, LALU DIAMBAH ALLAH PENYAKITNYA, DAN BAGI MEREKA SIKSA YANG PEDIH” (QS.AlBaqarah : 10) Gitu aja dulu mas ya.. Salam sama teman2.Wassalam

  • elfasi says:

    @ abu debeg, ketika kita berbicara tentang hukum fiqh, maka harus sesuai dengan kaedah fikih. jika kita berbicara tentang tafsir suatu ayat, maka haruslah sesuai dengan kaedah pentafsiran ayat, begitu juga hadits, harus sesuai dengan kaedah hadits (musthalah hadits), karena jika tidak, akan mengartikan suatu hadits dengan sembrono dan jauh dari apa yang dimaksud oleh Nabi, inilah yang banyak dilakukan oleh orang2 seperti anda n orang syiah lainnya hanya memandang pada rasio n pahamnya tapi melupakan kaedahnya. Akhirnya menganggap suatu hadits shohih dikatakan sebagai DONGENG BELAKA karena tidak sesuai dengan paham mereka.
    mas ABU DEBEG, gimana menurut anda apa yang orang syiah, memutarbalikkan isi kitab seperti di atas, bukankah ini penipuan ??? inikah cara orang syiah untuk mendapatkan simpati dari orang lain dan dianggap sebagai ilmiah walaupun dengan penipuan ????? Apakah begini caranya ahlil bait untuk mencari simpati dan dukungan orang lain ???

  • H.Suyanto says:

    Alhamdullilah ana jadi paham dengan artikel … terima kasih team forsansalaf

  • abuqnan says:

    Dalil sunni mengenai kesunnahan puasa sdh di paparkan dg baik. Mana dalil2 org sy’ah?
    Dari atas sampai kebawah, yg syi’ah hanya ngomong “ngalor ngidul”, “dongeng”, yg gak jelas juntrungnya.
    Sekali lg, sy mnt dalil dr org syi’ah mengenani kesunnahan, anjuran atau apalah namanya, dalam tradisi sy’iah (nangis2, mukul2, ngarak “ogoh” dll, dll). Ayo … kita diskusikan disini.

    Sy sdh gatel pengen tahu dan mendiskusikannya disini !!!!!!!

  • abunawas says:

    @abu debeg dan wong iran anda ini koq raksye ya …. anda mengeluarkan dalil2 dari kitab2 kita tapi dengan cara yang licik sekali … dan alhamdulillah sudah terbongkar semua kebohongan anda koq malah sekarang anda menebarkan seolah-olah syiah itu penuh kasih sayang,penuh cinta padahal yang menebarkan kebencian terhadap para sahabat itu siapa?klo bukan orang syiah siapa lagi dengan gayanya yang seakan-akan cinta ahlul bait ….
    dan cerita sayyidina husein itu sudah kita ketahui semuanya tapi bukan dengan membubuhi cerita2 sesungguhnya …
    kita juga sedih susah tapi bukan dengan cara2 yang seperti anda lakukan dengan cara menaburkan kebencian … padahal sayyidina ali zainal abidin sendiri setelah peristiwa itu tidak membalasnya dan tidak menaburkan kebencian terhadap pecinta2nya…klo begitu dari mana ya asal usul kebencian itu..klo bukan orang2 syiah,siapa lagi!!walhasil anda gak ilmiah sekali,,,jawab donk dari tanggapan2 yang sudah ada…bukan sok menebarkan kecintaan tapi dibaliknya menebarkan kebencian.

  • dayak says:

    org dayak baru keluar dari hutan ni…..
    Asyikk sekali rupanya milis ini.krn baru bergabung n biar nyambung,maka sy bc dr atas.
    stlh sy analisa dr atas,gak ilmiah sekali comment org syi’i.ada yg mengambil analisa kang dajjal..eh kang jalal.tp ternyata bkn ahli analisa.ada lg abu debeg yg bw hikmah2,padahal sy yg br masuk langsung faham klo ini forum dialog mencari kebenaran,nnti aja mas sy belikan buku hikmah2.ada wong iran yg bahas keimanan,padahal mrk sndri g iman kpd allah,buktinya allah bisa salah dlm mentakdirkan dlm mslh BADA’ dLM aqidah mrk…..akhirx sy bisa simpulkan,org syi’i yg comment disini msh level 1,padahal yg lain dah level 7.payah………………….
    teruskan forsansalaf.

  • abunawas says:

    @abu debeg
    anda ini bisanya koq copy paste aja,,,,sekalian kasih tau pada orang 2 syiah sendiri suruh hadir dan bergabung sm kita,,,seperti heidar yang sering ente ambil artikelnya….biar sekalian gitu.
    anda gak level sama kita2 .

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.