Headline »

August 18, 2017 – 9:16 am | Edit Post

Share this on WhatsAppPesan Kemerdekaan yang disampaikan oleh Al – Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf dalam upacara hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72 di lingkungan Pondok Pesantren Sunniyah Salafiyah – Pasuruan
Kamis, 17 Agustus 2017 …

Read the full story »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja'ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel, Featured

Wahabi-Salafi Menentang Syeikh Ibnu Taimiyah

Submitted by on December 20, 2009 – 12:01 am 48 Comments

wahabiTak dipungkiri, banyak umat Islam resah dengan keberadaan Wahabi alias Salafy — demikian mereka menjatidirikan kelompoknya. Cara dakwah yang mereka lakukan, membuat umat Islam gerah. Mereka kerap mencela, bahkan menista ulama besar dan gerakan Islam di luar kelompoknya. Pelbagai tuduhan, hujatan, dan lontaran kata-kata kasar keluar dari mulut kaum Wahabi. Dengan enteng, mereka memberi cap-cap (stigma) buruk dengan sebutan ahlu bid’ah, khurafi, penyembah kubur, gerakan sempalan sesat, kepada tokoh dan gerakan Islam yang bukan kelompoknya. Anehnya,  ketika (ulama) wahabi dikritik gerakan Islam lain karena hujjahnya, mereka tidak rela, bahkan menyerang balik habis-habisan para pengkritiknya.

Sebetulnya, kalau mereka mau menelaah ulang kitab para pendahulunya, seperti Ibnu Taimiyah sebagai tokoh sentral mereka. Mereka akan sadar bahwa Ibnu Taimiyah sendiri tidak se-ekstrem kaum salafi sekarang. Peringatan maulid misalnya, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa merayakan maulid dengan dasar cinta Nabi Saw. adalah bernilai pahala. Kaum wahabi berpendapat sebaliknya. Mereka mengatakan perbuatan itu sebagai bid’ah, kurafat, dan pengkultusan yang ujung-ujungnya adalah syirik.

Bagi masyarakat Muslim, jika ada kelompok yang suka menyalahkan, mencaci-maki dan membid’ahkan amalan-amalan ahlussunnah, cukuplah dijawab dengan dalil-dalil imam mereka sendiri, yang akan kita bahas satu persatu. Dijamin, mereka bakal kelabakan dan diam seribu bahasa. Sebab, nyatanya mereka melabrak pendapat-pendapat para imam mereka sendiri.

Berikut kami tunjukkan beberapa bukti yang shahih.

PERTAMA, tentang maulid. Ibnu Taimiyah dalam kitabnya, Iqtidha’ as-Sirath al-Mustaqim hal.269 menyatakan bahwa mereka yang mengagungkan maulid mendapat pahala besar karena tujuan baik dan pengagungan mereka kepada Rasulullah Saw..”

Video berikut akan memperjelas buktinya

Terjemah narasi:

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta. Amma ba’du

Peringatan maulid Nabi Saw. itu tergolong bid’ah hasanah. Peringatan semacam ini sudah ditradisikan sejak ratusan tahun lalu. Peringatan ini merupakan kesepakatan yang dilakukan oleh raja-raja, para ulama’, masayikh. Termasuk para ahli hadits, pakar fikih, orang-orang zuhud, para ahli ibadah dan berbagai individu dari kalangan awam.

Di samping itu, peringatan ini punya dasar kuat yang diambil dengan cara istinbath seperti telah dijelaskan Imam al-Hafid Ibnu Hajar dan para ulama ahlussunnah lainnya.

Diantara bidah dan kesesatan para penentang tawassul, mereka mengharamkan maulid dengan ekstrem. Bahkan seorang tokoh mereka, Abubakar Aljazairi –semoga Allah memberinya petunjuk- menyatakan, sembelihan yang disediakan untuk suguhan maulid lebih haram dari babi. Wal iyadzu billah, semoga Allah melindungi kita dari membenci Rasulillah Saw.

Begitu antinya mereka terhadap maulid. Namun yang menarik, Ibnu Taimiyah sendiri tidak mengharamkan, bahkan dalam sebagian fatwanya dia katakan, “Jika maulid dilaksanakan dengan niat baik akan membuahkan pahala,” artinya sah-sah saja dilakukan.

Marilah kita simak kitab Iqtidha’ as-Sirath al-Mustaqim karya seorang filosof mujassim Ahmad ibn Taimiyah (meninggal tahun 728 hijriah) cet. Darul Fikr Lebanon th.1421 H. Pada hal.269 Ibnu Taimiyah berkata,

“Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutinan, segolongan orang terkadang melakukannya. Dan mereka mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah Saw..”

Jika semua ini telah jelas, maka bersama siapakah kelompok sempalan wahabi ini? Mereka tidak bersama ahlussunnah wal jamaah. Tidak pula bersama tokohnya, Ibnu Taimiyah. Sepatutnya mereka mencela diri mereka sendiri, dan bertaubat dari kesesatan mereka selama masih ada kesempatan. Cukuplah sebagai kehinaan, penilaian buruk mereka terhadap hal yang telah disepakati kaum muslimin berabad-abad di penjuru timur dan barat bumi.

Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita taufiq untuk menjelaskan hal ini. Semoga salawat dan rahmat Allah tetap tercurah atas Rasulullah Saw..

KEDUA, Ibnu Taimiyah meriwayatkan kisah Abdullah bin Umar yang sembuh dari lumpuhnya setelah ia ber-istighasah dengan memanggil nama Rasulullah Saw..

Simak video berikut:

Terjemahnya:

Alhamdulillah Rabbil Alamin. Salawat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad Saw.. Amma ba’du, ini adalah kitab “al-Kalimut Toyyib” karya filsuf mujassim Ahmad bin Taimiyah al Harrani (w.728 H) cet. Darul kutub ilmiyah Beirut 1417 H

“عن الهيثم بن حنش قال كنا عند عبد الله بن عمر رضي الله عنهما فخدرت رجله أي أصابها مثل شلل فقال له رجل اذكر أحب الناس إليك فقال يا محمد فكأنما نشط من عقال -أي تعافى فورا-“.

Pada halaman 123 Ibnu Taimiyah berkata

“Dari al-Haitsam bin Hanasy dia berkata, ‘Kami sedang bersama Abdullah bin Umar r.a. tatkala tiba-tiba kakinya mendadak lumpuh, maka seorang menyarankan ‘sebut nama orang yang paling kau cintai!’ maka Abdullah bin Umar berseru, ‘Ya Muhammad!’ maka dia pun seakan-akan terlepas dari ikatan, artinya sembuh seketika.”

Inilah yang diterangkan Ibnu Taimiyah dalam kitabnya “al-Kalimut Toyyib” (perkataan yang baik), yakni dia menilai baik semua isi kitabnya.

Yang dilakukan Abdullah bin Umar ini adalah istighatsah dengan Rasulullah Saw. dengan ucapan ‘Ya Muhammad’

Dalam Islam ini diperbolehkan, Ibnu Taimiyah menganggapnya baik, menganjurkannya, dan mencantumkan dalam kitabnya, “al-Kalimut Toyyib”.

Ini menurut wahabi sudah termasuk kufur dan syirik, artinya istighasah dengan memanggil Nabi Saw. setelah beliau wafat adalah perbuatan kafir dan syirik menurut wahabi.

Apa yang akan dilakukan kaum wahabi sekarang? Apakah mereka akan mencabut pendapatnya yang mengkafirkan orang yang memanggil ‘Ya Muhammad’ ataukah mereka tidak akan mengikuti Ibnu Taimiyah dalam masalah ini? Padahal dialah yang mereka juluki Syeikhul islam.

Alangkah malunya mereka, alangkah malunya para imam yang diikuti Ibn Abdil Wahab karena pendapatnya bertentangan dengan pendapat kaum muslimin.

Dalam hal ini, kaum wahabi, dengan akidah mereka yang rusak, telah mengkafirkan Ibnu Taimiyah, karena ia telah menganggap baik hal yang syirik dan kufur menurut anggapan mereka.

Ini semua adalah bukti bahwa mereka adalah kelompok mudzabdzab (plin-plan),  kontradiksi dan menyimpang dari ajaran Ahlussunnah wal Jamaah

Segala puji selamanya bagi Allah, di permulaan dan penghujung.

KETIGA, dalam Majmu Fatawanya Jilid 4 Hal.379 Ibnu Taimiyah mengakui keberadaan wali qutb, autad dan abdal. Dia juga menegaskan, jika malaikat membagi rejeki dan mengatur alam maka orang-orang saleh bisa berbuat lebih dari para malaikat. Apalagi para wali qutb, Autad, Ghauts, wali abdal dan Nujaba’. (Scan kitab klik di sini)

وَقَدْ قَالُوا : إنَّ عُلَمَاءَ الْآدَمِيِّينَ مَعَ وُجُودِ الْمُنَافِي وَالْمُضَادِّ أَحْسَنُ وَأَفْضَلُ . ثُمَّ هُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ يُلْهَمُونَ التَّسْبِيحَ كَمَا يُلْهَمُونَ النَّفَسَ ؛ وَأَمَّا النَّفْعُ الْمُتَعَدِّي وَالنَّفْعُ لِلْخَلْقِ وَتَدْبِيرُ الْعَالَمِ فَقَدْ قَالُوا هُمْ تَجْرِي أَرْزَاقُ الْعِبَادِ عَلَى أَيْدِيهِمْ وَيَنْزِلُونَ بِالْعُلُومِ وَالْوَحْيِ وَيَحْفَظُونَ وَيُمْسِكُونَ وَغَيْرُ ذَلِكَ مِنْ أَفْعَالِ الْمَلَائِكَةِ . وَالْجَوَابُ : أَنَّ صَالِحَ الْبَشَرِ لَهُمْ مِثْلُ ذَلِكَ وَأَكْثَرُ مِنْهُ وَيَكْفِيك مِنْ ذَلِكَ شَفَاعَةُ الشَّافِعِ الْمُشَفَّعُ فِي الْمُذْنِبِينَ وَشَفَاعَتُهُ فِي الْبَشَرِ كَيْ يُحَاسَبُوا وَشَفَاعَتُهُ فِي أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَدْخُلُوا الْجَنَّةَ . ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ تَقَعُ شَفَاعَةُ الْمَلَائِكَةِ وَأَيْنَ هُمْ مِنْ قَوْلِهِ : { وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ } ؟ وَأَيْنَ هُمْ عَنْ الَّذِينَ : { وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ } ؟ وَأَيْنَ هُمْ مِمَّنْ يَدْعُونَ إلَى الْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ ؛ وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً ؟ وَأَيْنَ هُمْ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” { إنَّ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَشْفَعُ فِي أَكْثَرَ مِنْ رَبِيعَةَ وَمُضَرَ } ” ؟ وَأَيْنَ هُمْ مِنْ الْأَقْطَابِ وَالْأَوْتَادِ والأغواث ؛ وَالْأَبْدَالِ وَالنُّجَبَاءِ ؟

Apakah ini pendapat Ibnu Taimiyah ini tergolong khurafat, takhayul dan bid’ah? Adakah dasarnya dari Qur’an dan Sunnah?

KEEMPAT, tentang hadiah pahala, Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa barangsiapa mengingkari sampainya amalan orang hidup pada orang yang meninggal maka ia termasuk ahli bid’ah. Dalam Majmu’ fatawa jilid 24 halaman 306 ia menyatakan, “Para imam telah sepakat bahwa mayit bisa mendapat manfaat dari hadiah orang lain. Ini termasuk hal yang pasti diketahui dalam agama Islam, dan telah ditunjukkan dengan dalil kitab, sunnah, dan ijma’ (konsensus) ulama’. Barang siapa menentang hal tersebut, maka dia termasuk ahli bid’ah”. (Scan kitab klik di sini)

Hal senada juga diungkapkannya berulang-ulang di kitabnya, Majmu’ Fatawa, diantaranya  pada Jilid 24 hal. 324 (scan kitab klik di sini)

KELIMA, tentang tasawuf. Dalam kumpulan fatwa jilid 10 hal. 507, Syeikh Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun para imam sufi dan para syeikh yang dulu dikenal luas, seperti Imam Juneid bin Muhammad beserta pengikutnya, Syeikh Abdul Qadir Jaelani serta yang lainnya. Maka, mereka adalah orang-orang yang paling teguh dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah.”

Selanjutnya, pada jilid. 11 hal. 18 Ibnu Taimiyah berkata,

والصواب أنهم مجتهدون في طاعة الله

“Yang benar, para sufi adalah mujtahidin dalam taat kepada Allah.” (scan kitab klik di sini)

KEENAM, pujian Ibnu Taimiyah terhadap para ulama sufi. Berikut ini kutipan dari surat panjang Ibnu Taimiyah pada jamaah Imam Sufi Syekh Adi bin Musafir Al Umawi, (Majmu’ Fatawa jilid 3 hal. 363-377). Ini sudah cukup menjadi bukti, begitu hormatnya Ibnu Taimiyah pada kaum sufi.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مِنْ أَحْمَدَ ابْنِ تيمية إلَى مَنْ يَصِلُ إلَيْهِ هَذَا الْكِتَابُ مِنْ الْمُسْلِمِينَ الْمُنْتَسِبِينَ إلَى السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ ؛ الْمُنْتَمِينَ إلَى جَمَاعَةِ الشَّيْخِ الْعَارِفِ الْقُدْوَةِ . أَبِي الْبَرَكَاتِ عَدِيِّ بْنِ مُسَافِرٍ الْأُمَوِيِّ ” – رَحِمَهُ اللَّهُ – وَمَنْ نَحَا نَحْوَهُمْ –

Dari Ahmad Ibnu Taimiyah kepada penerima surat ini, kaum muslimin yang tergolong Ahlussunnah wal Jamaah, yang bernisbat pada jamaah Syeikh al-Arif, seorang panutan, Yang penuh berkah, Adi bin Musafir Al Umawi (Scan kitab klik di sini)

وَلِهَذَا كَثُرَ فِيكُمْ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاحِ وَالدِّينِ..

Karenanya, banyak diantara kalian orang-orang saleh yang taat beragama.. (scan kitab klik di sini)

وَفِي أَهْلِ الزَّهَادَةِ وَالْعِبَادَةِ مِنْكُمْ مَنْ لَهُ الْأَحْوَالُ الزَّكِيَّةُ وَالطَّرِيقَةُ الْمَرْضِيَّةُ وَلَهُ الْمُكَاشَفَاتُ وَالتَّصَرُّفَاتُ . وَفِيكُمْ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ الْمُتَّقِينَ مَنْ لَهُ لِسَانُ صِدْقٍ فِي الْعَالَمِينَ

Diantara orang-orang zuhud dan ahli ibadah dari golongan kalian terdapat mereka yang punya kepribadian bersih,  jalan yang diridoi, ahli mukasyafah dan tasarruf. Diantara kalian juga terdapat para wali Allah yang bertakwa dan menjadi buah tutur yang baik di alam raya. (Scan kitab klik di sini)

Cermati kata-kata yang dipakai  Ibnu Taimiyah dalam risalahnya berikut: panutan, Abil barakat, berkepribadian bersih,  jalan yang diridoi, ahli mukasyafah dan tasarruf, para wali Allah. Semua itu menyuratkan pengakuan beliau akan kebesaran orang-orang sufi yang bersih hati. Adakah orang-orang wahabi sekarang ini meneladani beliau?

Surat tersebut selengkapnya juga bisa dibaca di Maktabah Syamilah versi 2 Juz 1 hal. 285-286.

KETUJUH, Ibnu Taimiyah mengakui khirqah sufiyah dalam kitabnya, Minhajus Sunnah Jilid 4 Hal. 155

الخرق متعددة أشهرها خرقتان خرقة إلى عمر وخرقة إلى علي فخرقة عمر لها إسنادان إسناد إلى أويس القرني وإسناد إلى أبي مسلم الخولاني وأما الخرقة المنسوبة إلى علي فإسنادها إلى الحسن البصري

“Khirqah itu ada banyak macamnya. Yang paling masyhur ada dua, yakni khirqah yang bersambung kepada Sayidina Umar dan khirqah yang bersambung kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib. Khirqah Umar memiliki dua sanad, sanad kepada Uwais Al-Qarniy dan sanad kepada Abu Muslim Al-Khawlaniy. Adapun khirqah yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, sanadnya sampai kepada Imam Hasan Al-Bashri.” (Scan kitab klik di sini)

Jelas sudah, Ibnu Taimiyah menyatakan keberadaan sanad khirqah ini. Lantas, apakah beliau punya sanad khirqah? Dalam kitab yang sama beliau memberi jawab,

وقد كتبت أسانيد الخرقة لأنه كان لنا فيها أسانيد

“Aku telah menulis sanad-sanad khirqah, karena kami juga punya beberapa sanad khirqah” (scan kitab klik di sini)

Kini kita telah paham, Ibnu Taimiyah ternyata memiliki khirqah. Tak hanya satu, tapi beberapa. Lantas apakah Syaikh-syaikh wahabi saat ini juga punya khirqah seperti halnya Ibnu Taimiyah?.

KEDELAPAN, Pernyataan bahwa seluruh alam takkan diciptakan kalau bukan karena Rasulullah Saw. bisa dibenarkan. (Majmu’ Fatawa jilid 11 hal. 98)

وَمُحَمَّدٌ إنْسَانُ هَذَا الْعَيْنِ ؛ وَقُطْبُ هَذِهِ الرَّحَى وَأَقْسَامُ هَذَا الْجَمْعِ كَانَ كَأَنَّهَا غَايَةُ الْغَايَاتِ فِي الْمَخْلُوقَاتِ فَمَا يُنْكَرُ أَنْ يُقَالَ : إنَّهُ لِأَجْلِهِ خُلِقَتْ جَمِيعهَا وَإِنَّهُ لَوْلَاهُ لَمَا خُلِقَتْ فَإِذَا فُسِّرَ هَذَا الْكَلَامُ وَنَحْوُهُ بِمَا يَدُلُّ عَلَيْهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ قُبِلَ ذَلِكَ

“Nabi Muhammad Saw. adalah esensi kedua mata ini. Beliau adalah poros segala pergerakan alam ini. Ia laksana puncak dari seluruh penciptaan. Maka tak bisa ditepis lagi bahwa untuk beliaulah seluruh alam ini diciptakan. Kalau bukan karena beliau, takkan wujud seluruh semesta ini. Bila ucapan ini dan semisalnya ditafsir sesuai dengan Al-Quran dan Hadis maka hendaknya diterima.”  (Scan kitab klik di sini)

Demikianlah sekelumit data dari hasil penelitian obyektif pada kitab-kitab Ibnu Taimiyah sebagai rujukan kaum wahabi. Tak ada sentimen pribadi yang melandasi tulisan ini. Kami hanya berharap semua pihak bisa menerima kebenaran secara obyektif, lalu tak ada lagi sikap cela-mencela di antara sesama muslim. Ibnu KhariQ

http://upload.kapanlagi.com/h/20100101001421_ibn_taimiyah_puji_imam_sufi_4b3cdbeddc9be.jpg

Tags: , , , , , ,

48 Comments »

  • muhammed sabri says:

    wahai yang menulis tulisan ini siapa kau? pahamkah kau ………..
    1. Antara wahabi dan salaf, jelas 2 kata tadi memiliki perbedaan makna dan zaman, adapun wahabi adlah sebuah nisbat yang dinisbatkan kepada syikh MUHAMMAD BIN ABDULWAHAB oleh para pemusuh tauhid dan kau di antaranya. Adpun SALAF NISBAT yang syar’i brdasarkan dalil al-qur’an dan As-sunnah yang di amana nisbat ini dibrikan kepada setiap orang yang mengikuti Rasulullah, dan yang mengikuti khairulqurun (sahabat,ta’bi’in,tabi’uttabi’iin) atau singkatnya setiap orang yang mengikuti Al-qur’an dan As-sunnah dengan pemahaman salaf. maka kau mengkombinasikan 2 kata tadi merupakn kesalahan
    2. ketahuilah sesunnguhnya ibadah yang dilaksnakan oleh seorang hamba kepda rabnya kembali kepad 2 pondasi dasar
    A. Sesungguhnya Allah tidak disembah kecuali dirinya (mengesakan Allah dalam ibadah)
    B. Tidaklh Allah disembah kecuali dengan mengikuti rasulullah dalam segala aspeknya (ittibaunnabi).Pertanyaannyya pernahkah Nabi merayakan hari kelahirannya? kalu tidak maka itulah yang di katakan bid’ah. Adpun istidlalmu bahwa maulid adalah bid’ah hasanah maka aku jawab dengan singkat:
    sesungguhnya Nabi tidak pernah membagi bid’ah kepada bidah hasanah atau syaiah na bi bersabda dalam hadisnya yang dikeluarkan oleh bukhori dan Muslim dari ummil mukmin ” ………Sesungguhnya setiab bid’ah sesat dan setiap kesesatan tempatnya dineraka” disini nabi menggunakkan kata kul yang dimana ahli usul mengatakan bahwasanya kat kul apabila disandarkan kepada kata setelahnya akan memberikan faedah keumumuan yng dimana beramal dengan nsus umum wajib sampai ada dalil yan memghususkannya sedangkan disini nabi tidak mengecuwalikan akan adnya bid’ah hsanah. sudah dulu wallahi saya berani diajak debat bagaiman nanti kalau kita pakai ym bicara mendebat masalah ini kapan maunya, atau ni nomor hp saya 085711715382. saya tutup komentar saya denygan perkataan ya’qub kepada anakanya ” sesunggunya saya tidak bermaksud menyelisihimu dari apa yang aku larang tapi yang kuinginkan adalah hanya perbaikan ” ayat

  • elfasi says:

    @ muhammed sabri, anda gak usah bahas masalah bid’ah dulu, ntar anda bakal kuwalahan. Sekarang anda bahas artikel diatas aja, kan udah disebutkan bahwa ibn taimiyah tidak mengharamkan maulid bahkan menyatakan bisa mendapatkan pahala besar karena niat yang baik dan mengagungkan Nabi, trus Maukah anda memperbolehkan maulid sebagaimana Ibn Taimiyah atau klo perlu mengadakannya biar dapat pahala besar ????
    udahlah mas gak usah bermulut besar dulu.. kayak orang wahabi beneran aja.

  • abuqnan says:

    Berkata Al-Hafidz Umar Bin Ali Al-Bazzar dalam kitab Al-A’lam Al-‘Aliyah fi Manaqibi Ibni Taymiyyah: Semasa aku mukim di Damaskus, aku selalu menyertai Ibni Taymiyyah sepanjang hari dan malam hari. Aku mendengar apa yang beliau baca pada waktu itu (setelah shalat subuh sampai matahari tinggi), aku mendengar beliau membaca surat Al-Fatihah berkali-kali sampai matahari tinggi. Lalu aku berpikir, mengapa Beliau rutin membaca surat ini, bukan lainnya?

    Bro muhammed sabri: coba jawab, apakah wiridan ibnu taymiyyah di atas tergolong bid’ah? Kalo ente jawab ya, berarti ente lebih hebat dari Ibni Taymiyyah. Kalo ente jawab tidak, apa alasannya? Atau jangan-jangan ente belum paham apa itu bid’ah? Atau ente lebih hebat dari ibni taymiyyah?

    Kalo mau debat disini aja, gak usah pake ym atau telpon2nan. biar semua pada tahu, siapa yg bener dan siapa yg gak ngerti bid’ah.

  • abunawas says:

    @forsansalaf
    mohon jangan terpancing dari tawaran sabri … supaya kita semua tahu dari komentar2 mereka yang sudah gak ilmiah sama sekali,,oooii sabri klo gak mampu lagi untuk komentar dsni panggil dong ustad2 anda biar sekalian yang sadar ustad2 anda juga..fair donk!!!pake ym segala and sok nantang pke hp…kita kan gak bs tahu klo ente gak bs jawab,,,trus gmn jawaban diatas : bahwa syaikhul islam ibn taimiyah tidak mengatakan bid’ah tapi kok anda mengatakan hal yang lain…sebetulnya panutan ente ini sapa sich,,,apa ente mengaku lebih pinter dari ibn taimiyah atau ibn taimiyahnya yang salah…sekali lagi fair donk!!!! fair!

  • zen says:

    Alhamdulillah, tabir2 yg mjd pghalang kita mngetahui kebenaran telah Alloh buka. Subhanalloh… Pas betul ust dg head line Cahaya Nabawiy “DAKWAH DI ERA ONLINE” mdh2an kita semakin kokoh aqidah Aswaja dan terhindar dari aqidah2 sesat & yg menyesatkn spt yg dilakukan oleh org2 yg mengklaim diri mereka sbg golongan yg menjaga sunnah Nabi SAW & menegakkan agama Tauhid, padahal berbeda dg kenyataanx.

  • Jalan Tengah says:

    Wahai semua yang mengikuti situs ini. Saya bermohon agar Anda semua berkepala dingin dan mengedepankan bukti otentik dalam berdebat.Kesampingkangkanlah emosi, fanatisme, dan rasa paling super.Kami umat Islam mengharap kebenaran lewat situs ini. sekali lagi,KEBENARAN. Tunjukkan hujjah kalian masing-masing, biar kami nanti menilai, SIAPA YANG LAYAK DIANUT…..

  • nimo says:

    Sabar2 mas sabri…
    Waaah klo lg2 pembahasannya di kembalikan pada bid’ah n semua hal yg tidak pernah di kerjakan Nabi tu Bid’ah n sesat, berarti semua yg di kerjakan kaum muslimin skr nie bid’ah semua dooonk..!!
    kyknya cukup dengan dalil aqli aja tu mas sabri debatnya…
    ada bukti yg lain gak buat ngebahasnya jgn itu2 aj donk…

  • Muhammad Rifai Zein says:

    Assalamu`alaikum… Shollu `alaa Muhammad… Allahhuma sholli wasallim wabarik `alaih… kami cinte kepada muu ya Rasul dan kepada Ahlul Bait mu… 😀

  • dayak says:

    dengan adanya artikel spt ini bukanlah kita memojokkan,merasa benar sendiri atau merasa paling pintar.saya juga tdk suka.
    namun untuk menjaga kesucian islam dari noda yang membuat kaum muslimin bingung untuk memilih ajaran yang benar,krn tidak bisa kita mengatakan smua kebenaran apa katanya allah s.w.t,sebab dengan panjang lebar n gamblang nabi kita tlah menjelaskannya.untuk itu wahai saudara muhammad sobri,janganlah anda emosi….tapi anda kaji terlebih dahulu artikel ini,klo memang sumber pengambilannya salah,anda jelaskan aja klo emang salah,klo emang benar boleh anda terima dan itu lebih baik,atau anda menolaknya tp dengan penbahasan yg ilmiah,gak pake bawa emosi nunjukin no hp segala…kayak mau ngajak berantem aja,islam kan ngajarin berdiskusi dg cara yg benar “wa jadilhum billati hiya ahsan”.

  • zen says:

    ya akhina nimo, kita stuju buanget.
    coba di fikirkan oleh sabri ttg ADANYA ENTE & KITA SEMUA ITU ADALAH BID’AH (krn NT & KITA smua tdk ada di zaman NAbi SAW). Betul ta..?

    Masak JERUK makan JERUK…?
    Sama2 BID’AH kok menyerang orang lain BID’AH..?

    Maaf kita adalah orang awam yg baru belajar ilmu agama Ahli Sunnah wal Jama’ah di website ini salah satunya, juga kepada guru2 kita yang sanadnya nyambung sampai kepada Habibulloh Muhammad SAW.

  • zen says:

    Berjuanglah terus habib & smua asatidz ASWAJA… kami butuh antum untuk memberikan (sbg perantara Allah) utk membuka kedok2 berlabelkan Agama Tauhid tapi kenyataannya tidak seperti yang di kumandangkan mereka.

  • abuqnan says:

    Bro Sabri kemana ya ??? Nantang2 kok malah gak nongol?? mana tantanganya? bs jawab gak pertanyaan sy? kalo sdh ente jawab, mari kita berdebat di sini, atau mau debat di tengah alun2? biar semua orang pada tahu, siapa yg ngerti bid’ah dan yg asal ngomong bid’ah.

  • ali says:

    Kenapa ya… orang2 wahabi kok nggak mau kalah dan mau menang sendiri aja…..
    Imam2 terdahulu panutan wahabi saja sangat menghargai golongan lainnya…. Hebat bener orang wahabi sekarang, hafal seribu hadist saja udah membantai semua ulama…
    Wahai saudaraku sesama aswaja, jangan mudah terpancing ama mereka. Percuma berdebat ama mereka…. Mari kita jaga aqidah kita, keluarga kita dan saudara2 kita lainnya…. dan kita ikuti jalan meraka yang lurus, yang tidak mengajarkan kebencian sedikitpun….Agar Rasulullah bangga kepada kita…
    Aku jadi sedih….

  • fazi says:

    ass.wr.wb FS yg sy kagumi, smg trs n ttp dlm rahmat ALLAH,sy mo tx… dlm hal ibadah ikhlas tu pa hx pd ALLAH, pa pd ROSULULLAH g blh…? sukron

  • rejal says:

    kenapa wahabiy di indo ngaku salafi ya? apakah karena nama wahabiy telah tercemar dengan kasus pembantaian yang di lakukan mereka?
    ada ada ja…. ntar kira kira mau ganti nama apa lagi ya???
    @muhammed sabri: q dukung nt untuk diskusi d ini. gak usah umpet umpetan. knp? takut keliatan ya klo gak bsa??????

  • Aam says:

    lagi2 orang wasabi……hihihihi

    wasabi –> sambel jepang

    ttd

    Agen OOT

  • Yek Saudi says:

    Sejarah maulid nabi saw.
    dlm catatan buku2 sejarah, generasi terbaik pertama, (Rasulullah saw. Dan sahabat), generasi terbaik kedua (tabi’in) dan generasi terbaik ketiga (tabi’ut tabi’in), maupun generasi sesudahnya, blm prnh mengadakan Maulud Nabi saw. Padahal mrk sangat mencintai Nabi saw. Dan orang2 yg paling tahu tentang sunnah, dan orang2 yg … Lihat Selengkapnyapaling giat mengikuti syari’atnya.

    secarah historis-sosiologis tanggal kelahiran Sasulullah saw. Tidak diketahui secarah pasti. Bahkan, sebagian ahli sejarah di masa kini yg mengadakan penelitian (research) menyatakan bhw tgl kelahiran Nabi saw. Adalah 9 Rabiul Awwal bukan 12 Rabiul Awwal. Dengan demikian perayaan memperingati Maulid Nabi saw. Pada tgl 12 Rabiul Awwal dari sisi sejarah tidak ada dasarnya.

    Orang yg pertama kali mengadakan bid’ah ini adalah bani ubaid Al-Qadah yg menamakan diri mrk kelompok Fatimiyah dan mrk menisbatkan diri kpd putera Ali bin Abu Thalib ra., padahal sebernarnya mrk adalah peletak dasar untuk mendakwakan aliran kebathinan. Nenek moyang mrk adalah ibnu Disham yg dikenal dengan Al-Qadah. Dulunya ia adalah budak Ja’far … Lihat Selengkapnyabin Muhammad Ash-Shadiq, berasal dari Ahwaz, salah seorang pendiri aliran kebathinan/bathiniyah di irak, kemudian pindah ke Maqrib dan menisbatkan diri kepada Alqil bin Abu Thalib, serta mengaku berasal dari keturunanya. Ketika orang2 dari kelompok Rafidhoh yg sesat menerima seruanya, dia mengaku bahwa dirinya adalah anak Muhammad bin Ismail bin Ja’far Ash-Shadiq sehingga mrk menerimanya. Padahal, Muhammad bin Ismail bin Ja’far Ash-Shadiq meninggal dunia tanpa meninggalkan keturunan.

    orang yg pertama kali mengadakan bid’ah ini, peringatan Maulid Nabi saw. Adalah kelompok aliran Bathiniyah yg ingin mengubah agama manusia dan memasukkan di dalamnya apa yg tidak termasuk bagian darinya, untuk menjauhkan manusia (umat islam) dari agama mereka, lalu menyibukkan mereka dengan bid’ah, suatu jalan yg paling mudah untuk mematikan sunnah dan menjauhkan mereka dari syari’at Allah yg mudah dan sunnah Rasulullah yang suci.

    Bid’ah peringatan Mauid (hari ulang tahun) secara umum dan Maulid Nabi khususnya terjadi pada masa kepemimpinan Al-Abidiyun, yg sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh siapapun. Kelompok Abidiyah (Abidyun) masuk mesir pada tahun 362 H, hari kamis bln Ramadhan, dan itulah awal kekuasaan mereka terhadap mesir.
    Al-Muqrizi berkata, “dengan adanya … Lihat Selengkapnyaperingatan2 yg dijadikan oleh kelompok Fatimiyah sebagai hari raya dan pesta seperti itu, kepemimpinan mrk bertambah luas dan mrk mendapat keuntungan yg banyak.
    Para pemimpin Fatimiyah memiliki banyak hari raya dan peringatan setiap tahunnya. Di antaranya adalah peringatan akhir tahun, peringatan awal tahun peringatan hari Asyuro, peringatan Maulud Nabi, peringatan maulud Ali bin Abi Thalib, Maulud Hasan dan Husain ra., maulud Fatimiyah Az-Zahra, peringatan awal bulan Rajab, malam bulan Sya’ban, peringatan malam Nisfu Sya’ban, peringatan awal malam Ramadhan, peringatan akhir Ramadhan, peringatan upacara kematian, upacara menyambut musim hujan dan musim kemarau, peringatan penaklukan teluk, peringatan hari Nairuz, peringatan hari kemisan, peringatan hari Rukubat dan sebagainya. (Al-Muqrizi, Al-Kuthath Al-Muqriziyah. 11/490.)

    setelah itu Al-Muqrizi berbicara tentang bagaiman setiap upacara dan perkumpulan itu dilaksanakan demikian kesaksian yg jelas dan nyata dari Al-Muqrizi. Dia termasuk orang2 yg fanatik dan sangat menjaga nasab anak keturunan Ali bin Abu Thalib sehinga mengatakan bahwa,”kelompok Abidiyun-lah yg menyebabkan terjadinya fitnah dalam diri umat islam”. Merekalah (Al-Abidiyun) orang yg pertama kali membuka pintu perkumpulan bid’ah dengan berbagai macamnya hingga mrk berkumpul untuk mengadakan hari raya Majusi dan kristen. misalnya, peringatan hari paskah, hari kenaikan Isa Al-Masih, hari kelahiran Isa Al-Masih dan sebagainya.

    Semua ini menujukkan bahwa mrk adalah sebernanya jauh dari islam dan bahkan mrk memusuhi islam. Semua itu juga menunjukkan bahwa mrk menghidupkan keenam upacara Maulud Nabi, bkn krena cinta kepada Rasulullah saw. Dan keluarganya akan tetapi tujuan mrk adalah menyebarluaskan aliran ismailiyah, bathiniyah, yg mrk anut dan akidah rusak mrk. Tujuan mrk (abidiyah) adalah menjauhkan umat islam dari agama yg benar dan akidah yp murni dengan cara mengadakan upacara2 semacam itu, menyuruh manusia untuk menghidupkannya, dan memberikan semangat. Hal ini dilakukan agar mrk mendapatkan keuntungan harta melalui jalan tersebut.
    Ringkasnya bahwa yg pertama kali mengadakan upacara peringatan Maulid Nabi adalah Bani Ubaid Al-Qadah dari kelompok fatimiyah. Buktinya adalah seperti yg dijelaskan oleh Al-Muqrizi dlm Khuthat-nya dan yg dijelaskan oleh Al-Qalqalsyandi dlm Shubh Al-Aqhsya.
    Pendapat di atas, dikuatkan oleh para ulama modern lainnya dan mrk jg mengatakan secara terang-terangan dlm hal ini.
    Abu Syamah menyebutkan bahwa Ubaid Al-Qadah adalah orang yg pertama kali mengadakan upacara peringatan Maulid Nabi dan orang yg pertama kali membuat istilah bid’ah hasanah pada zamanya.
    Jika kita telah mengetahui semua ini, tidak diragukan lagi bahwa kelompok Al-Abidiyun adalah orang2 yg pertama kali mengadakan upacara peringatan Maulid Nabi, seperti yg diceritakan dlm buku2 sejarah, kelompok Al-Abidiyun masuk mesir dan mendirikan kerajaan di sana pada pertengahan kedua abad ke 4 H dan pemerintahan mrk belangsung hingga abad ke 5 H dan pertengahan abad ke 6 H. Adapun Mudzaffaruddin, penguasa Irbal dilahirkan pada tahun 549 H dan meninggal tahun 630H…. Lihat Selengkapnya
    Ini menjadi bukti yg kuat bahwa, kelompok Abidiyun lebih dulu (2 abad) daripada Shahibul Irbal Al-Malik Al-Mudzaffar dlm mengadakan upacara peringatan Maulid Nabi. (Abdullah bin Abdul Aziz At Tuwaijiry. Adakah Maulid Nabi. Darul Falah. 2005.

    Sikap Ahli sunnah terhadap Bid’ah.
    Para ulama salaf sepakat bahwa upacara peringatan Maulid Nabi dan upacara lainnya yang tidak disyari’atkan adalah ‘bid’ah’ yg tidak dikerjakan oleh Nabi, sahabat-sahabanya, tabiin, tabiut-tabi’in dan imam yg empat; Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Ahmad Bin Hambal.
    berikut ini akan dijelaskan sebagian pendapat ulama salaf:

    “Mengadakan upacara ibadah selain yang disyari’atkan malam-malam Rabiul Awal untuk memperingati Maulid Nabi, adalah bid’ah yang tidak disunnahkan ulama salaf dan tidak mereka kerjakan”. (lihat: Majmu’fatwa, Ibnu Taimiyah)…. Lihat Selengkapnya
    Ibnu Taimiyah juga berkata, dalam Iqtidha’u As-Shirath Al-Mustaqim, di anatara kemunkaran yang terjadi pada Maulid adalah adanya perayaan dan upacara2 bid’ah. Semua itu merupakan kemunkaran yang dibenci; baik kebencian itu mencapai derajat haram atau tidak.
    Semua perayaan itu dilarang karena 2 hal:
    pertama: menyerupai apa yang dilakukan oleh oran2 kafir.
    Kedua: termasuk bid’ah
    oleh karena itu, walaupun tidak ada keserupaan dengan ahli kitap, segala perayaan dan upacara itu adalah munkar, karena satu hal:”semua upacara itu masuk dalam ketegori bid’ah dan sesuatu yang baru, seperti yang diriwayatkan oleh imam muslim dalam shahihnya.”
    Ibnu Taimiya berkata, “barangsiapa yang membuat syari’at baru yang tidak disyari’atkan oleh Allah atau yang tidak diizinkan oleh Allah, berati ia telah menjadikan sekutu bagi Allah”. (Iqthidha’u Ash Shirath Al-Mustaqim, ibnu taimiyah, jus 2, halam 578-579.

    Imam Asy-Syathibi dalam Al-I’tishom
    memberikan pengertian bahwa, “bid’ah adalah cara dalam agama yang diada-adakan, tidak ada bid’ah hasanah, sekalipun isi bid’ah itu baik”.

    menurut Asy-Syathibi, bidah menyerupai syari’at dalam 3 hal:
    pertama: dengan cara meletakkan batas.
    kedua: mengambil waktu tertentu khusus untuk ibadah.
    Ketiga: menetapkan cara dan waktu tertentu dalam ibadah. Misal, mengadakan zikir pada suatu perkumpulan dengan cara bersama-sama, menjadikan kelahiran Nabi sebagai hari raya, dan sebagainya. (Al-I’tishon, Asy-Syathibi jus 1. hlm 39)

    syeikh Tajuddin Umar bin Ali Al-Lakhmi berkata:
    “Saya tidak mengetahui apa dasar perayaan Maulid Nabi ini, baik dalam kitabullah maupun sunnah Nabi”,tidak seorang pun ulama umat (ulama salaf) yang menukilnya. Upacara Maulid Nabi ini adalah bid’ah yang dibuat-buat oleh orang2 yang batil dan sesat, yang mengikuti hawa nafsu dan rakus terhadap makanan. Munurutnya, jika kita mencoba untuk memasukkan masalah ini (Maulid Nabi) kepada lima hukum yang ada, yaitu apakah termasuk; wajib, sunnah, makruh, mubah, masalah ini tidak diwajibkan dan tidak pula disunnahkan.”

    Muhammad Abdussalam Khadhr Asy-Syaqiri dalam As-Sunan wal Mubtadi’aat, berkata:
    “pada bulan Rabiul Awal terdapat bid’ah Maulid Nabi, padahal bulan ini bukan merupakan bulan yang dikhususkan di dalamnya untuk shalat, zikir, ibadah, maupun puasa. Pada bulan ini Nabi saw. Lahir dan meninggal. Akan tetapi mengapa mereka bergembira karena kelahirannya dan tidak sedih karena kematiannya? Faedah apa yang dapat diambil dan pahala apa yang dapat diperoleh dari urusan yang tidak jelas ini?

    Syeikh Muhammad bin Ibrahim dalam, fatwal-Rasa’il, menjawab pertanyaan tentang hukum perayaan Maulid Nabi saw.;
    Apakah hal itu dilakukan oleh sahabat, tabi’in atau ulama salaf lainnya, beliau menjawab;”Tidak diragukan lagi bahwa perayaan maulid Nabi saw. Termasuk bid’ah dalam agama dan terjadi setelah kebodohan dalam dunia islam menyebar luas kesesatan, pembodohan dan taklid buta mudah terjadi. Sehubungan dengan itu kebanyakan manusia tidak kembali kepada ajaran yang disyari’atkan agama, melainkan kembali kepada apa yang dikatakan si A atau si B, dan langsung memercayainya tanpa penelitian. … Lihat Selengkapnya
    Rasulullah saw. Bersabda:
    “Hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk (hidayah) berpegang teguhlah kepadanya (sunnah) dan gigitlah ia (sunnah) dengan giqi geraham. Jauhilah segala perkara yang baru, karena segala perkara yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Ahmad)

    jika tujuan mrk mengadakan perayaan Maulid Nabi adalah untuk mengagungkan Rasulullah dan mengingatnya, mencintainya, mengenangnya tidak diragukan lagi bahwa caranya tidaklah seperti itu (berkumpul, tertawa, makan makanan disertai tari-tarian bercampur-baur laki-laki dengan perempuan, walaupun disertai dengan muatan ceramah dan do’ah bersama).
    Syeikh Muhammad bin Ibrahim berkata untuk mengagungkan Rasulullah adalah sesalu diingat dalam adzan, iqomah, shalat, khutbah, tasyahud dalam shalat, do’a, zikir dan lain sebagainya. Tidak pantas bagi seorang rasul. Bila hanya diperingati setahun sekali saja. Seandainya peringatan Maulid Nabi ini baik dan benar, tentu para salaf lebih berhak melakukannya karena mereka adalah orang2 yang lebih cinta dan mengagungkan Rasulullah dan lebih giat dalam melaksanakan kebaikan. Mengagungkan Rasulullah hanya bisa dilakukan dengan cara menaati perintahnya, memercayai apa yang diberikannya, menjauhi apa yang dilarangnya dan tidak boleh beribadah kecuali dengan apa yang disyari’atkannya.
    Para salafush shalih adalah orang2 yang paling kuat pengagungannya kepada Nabi saw. Dan Khullafa’Al-Rasyidin, akan tetapi pengagungan mereka pada Rasulullah tidaklah seperti yang dilakukan oleh orang2 pada generasi terakhir, yaitu meninggalkan cara para salafush shalih dalam ketundukan dan ketaatan, membuat syari’at baru dalam agamanya, dengan cara menambah, mengurangi, mengubah atau menggantinya, bukan pula caranya dengan mengeluarkan harta pada jalan yang tidak diridhai oleh Allah SWT.

    Orang2 yang sejalan dengan pendapat salafush shalih sepakat menyatakan bahwa, peringatan maulid Nabi saw. Adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh Rasulullah, sahabat, tabi’in, tabiut-tabi’in maupun ulama salaf kita.
    Amalan bid’ah walaupun manusia mengerjakannya, walaupun telah dikerjakan bertahun-tahun dan walaupun disepakati oleh orang yang mengaku berilmu, tidak mungkin akhirnya menjadi sunnah yang diberi pahala bila melakukannya.
    Orang2 yang berkumpul untuk mengadakan perayaan Maulid Nabi ini telah mengikuti pendapat para ulama ‘sesat’ dan tidak memahami Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya. Walaupun melihat Kitabullah dan sunnah Rasul, mereka menakwilkan maknanya dengan penakwilan yang sesuai dengan keinginan dan hawa nafsunya sendiri. Hal ini terlihat dari fanatisme mereka kepada pendapat para guru mereka (dalam istilah lain dogmatisme) yang ‘sesat’ dan ‘menyesatkan’. Seandainya mereka ingin mencari kebenaran, tentu mereka akan bertanya kepada ahli ilmu (QS.16:43). Meminta penafsiran kepada ahli tafsir dan mencari dalil-dalil yang kuat. Akan tetapi ‘kesombongan’ adalah senjata orang2 ‘bodoh’ yang akhirnya membinasakan diri sendiri.

    Mahabenar Allah yang telah berfirman di dalam kitab-Nya: … Lihat Selengkapnya
    “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. Dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, maka kami (Allah) biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami (Allah) masukkan ia kedalam jahannam dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. 4.115).

    sudahkah orang2 yang mengadakan upacara peringatan Maulid Nabi ini mengerjakan seluruh ajaran islam, baik yang besar maupun yang kecil, kewajiban dan sunnahnya hingga mereka mencari-cari dan membuat bid’ah hasanah. Seperti anggapan mereka untuk mencari tambahan pahala dari Allah?
    Kita memohon kepada Allah agar diberi hidayah dan taufik menuju jalan yang lurus. Semoga Allah menunjukkan jalan yang benar kepada kita menunjukan kepada manusia yang batil itu batil, dan yang haq itu adalah haq. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (Abdullah Bin Abdul Aziz At Tuwaijiry.)

    saudaraku yang ku cintai sebelunya ana minta maaf, syukron, Jazakullahu khoir

  • peace bro says:

    sodara2 ku sesama muslim smw nya….
    artikel di atas sebenernya uda cukup buat se2org untk mau kmbli kpd yg benar….
    tp keliatan nya temen qt si sabri blm dpt hidayah….qt doakan aja biar dpt hidayah….bener bgt apa yg dikatakan ama ali said….diri kita kmdian keluarga qt selanjut nya org2 sekitar qt….krn aq yakin org2 wahabi di indonesia ini,dulu kakek2 mereka tdk begitu….malahan mgkin sodara2 mereka msh bnyk yg ASWAJA…Bayanggin aja klo setiap org ASWAJA bisa melakukan apa yg dikatakan ali said….pasti wahabi semakin terpojokkan….

  • peace bro says:

    kasian bgt yek saudi ini y….uda pake “yek”….tp para salaf yg diangkat g’ ada yg keturunan rosul(syeikh Tajuddin Umar bin Ali Al-Lakhmi)???….ahli sejarah masa kini ama para pelaku sejarah….hebat tan mn sich “yek”?
    bnyk bgt kata2 nya ente yg gak berat bgt alis klo kATA nya ank2 muda zaman skrng LEBAY LO…..
    WOI TAU GAK….salah 1 bid’ah pertama kali kan kenyang….
    bahs donk itu….biar qt gak ada yg kenyang alias takut ma yg nm nya kenyang….jgn acara2 yg didalam nya bnyk shalawat n dzikir plus sejarah nabi…yg ente serang se akan2 haram aja ngelakuin itu smw…(shalawat+dzikir+bc sejarah nabi)
    owh….iya…..masalah Asy-Syathibi dlm 3 hal itu….krn menurut ente ama tmn nya ente….si sobri tuh…rosul g’ pernah bagi bid’ah….jd menurut ente ama tmn na ente bid’ah itu global bgt…
    enta ini org.saudi ato TKI yg di saudi…

  • Abu_Rayyan says:

    *Quote* (Muhammed sabri, 1 Januari 2010, 15.46)
    “sesungguhnya Nabi tidak pernah membagi bid’ah kepada bidah hasanah atau syaiah na bi bersabda dalam hadisnya yang dikeluarkan oleh bukhori dan Muslim dari ummil mukmin ” ………Sesungguhnya setiab bid’ah sesat dan setiap kesesatan tempatnya dineraka” disini nabi menggunakkan kata kul yang dimana ahli usul mengatakan bahwasanya kat kul apabila disandarkan kepada kata setelahnya akan memberikan faedah keumumuan yng dimana beramal dengan nsus umum wajib sampai ada dalil yan memghususkannya sedangkan disini nabi tidak mengecuwalikan akan adnya bid’ah hsanah”

    Mo nanya ke Pak Muhammed sabri dan Team Forsansalaf:
    Apa itu bid’ah? Scopenya apa? Khusus yg hubungannya dengan ibadah? Atau semua lingkup kehidupan? Apa yg ada di zaman kita sekarang ini tidak semuanya ada di zaman Rosululloh SAW, contoh: naik SEPEDA MOTOR, kirim E-MAIL, makan BAKSO, minum ES-DEGAN, KHOTBAH JUMAT DENGAN BAHASA INDONESIA, dll

    Syukron atas jawabannya

  • elfasi says:

    @ yek Saudi, ulama’2 yang anda bawa di atas tu kurunnya lebih dulu mana dengan syekh Ibn Taimiyah yang hidup tahun 661 -728 H ? Apakah mereka lebih dulu kurunnya dan lebih pintar ilmu agamanya daripada Ibn Taimiyah ? trus gimana menurut anda pernyataan Ibn Taimiyah di atas “ Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutinan, segolongan orang terkadang melakukannya. Dan mereka mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah Saw.” .
    Gimana mas, apa anda akan mengatakan Ibn Taimiyah tidak tau dengan sejarah awal mula maulid padahal kurunnya hanya terpaut hanya sekitar 31 tahun dari Malik Mudhoffar ? apakah anda akan menganggap syekh anda Ibn Taimiyah sebagai orang bodoh/tidak berilmu karena menyatakan ada pahala besar dalam mengadakan maulid ?
    Yek, yang dimaksud oleh Ibn Taimiyah haram dan bid’ah mengadakan maulid di bulan Robi’ul awal seperti dalam kitabnya tu klo menjadikannya sebagai hari Ied baru bagi Islam, ya jelas ni melanggar syariat. Tapi klo merayakan saja karena pengagungan dan tpenghormatan terhadap Rasulullah, Ibn taimiyah menyatakan dapat pahala besar.
    Yek, anda tampilkan di atas “ jika tujuan mrk mengadakan perayaan Maulid Nabi adalah untuk mengagungkan Rasulullah dan mengingatnya, mencintainya, mengenangnya tidak diragukan lagi bahwa caranya tidaklah seperti itu (berkumpul, tertawa, makan makanan disertai tari-tarian bercampur-baur laki-laki dengan perempuan, walaupun disertai dengan muatan ceramah dan do’ah bersama).”
     Fitnahan macam apa lagi ini mas, anda katakan dengan mengadakan tarian2, hanya tertawa dan berkumpul laki-laki dan perempuan ? yek, justru anda dan orang2 wahhabi ini yang sukanya menvonis tanpa diteliti terlebih dahulu, langsung main vonis bid’ah dan sesat…..

  • lare oseng says:

    sebenarnya yang dipermasalahkan dlm maulid,shalawat,dan tahlilan itu apa sich…

    kita tau para wali Songo tu dakwah, ada yang pke gamelan, wayang, kidung dll…apa Beliau2 yng jelas2 berjasa menyebarkan islam dan mengajarkannya dg cara itu jg dianggap sesat? NA’UDZUBILLAH

  • abuqnan says:

    Yek Saudi: Anda kelihatan kurang cermat memahami penyataan Ibnu Taymiyah. Dalam fatwa Ibnu Taymiyah, beliau dengan sangat cerdas sekali menilai maulid dari sisi maulid itu sendir dan sisi external yang terkadang menyerai perayaan maulid itu sendiri.
    Fatwa Ibnu Taymiyah dalam hal ini tidak berbeda dengan ulama ahlussunnah lainnya, misalnya Imam suyuthi, beliau berkata:
    Menurut saya bahwa asal perayaan maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan hidupnya. Kemudian dihidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu tergolong bid’ah hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhamad SAW yang mulia” (Lihat: Al-Hawi li al-Fatawa juz l hal. 251-252)
    Adapun kegiatan lain diluar inti maulid itu sendiri, bisa bermacam2, ada yg baik ada yg salah, misalnya campurnya laki-laki dan perempuan, alat2 malahi yg terkadang mengiringi bacaan shalawat, dan kemunkaran2 lainnya. Sifat2 external ini tidak bisa kemudian menggeneralisir hukum maulid itu sendiri. Sebagai ilustrasi, jika ada orang membaca alqur’an tetapi bacaan itu dilakukan didepan lak-laki dan perempuan yg bukan mahramnya dan campur dalam satu tempat, apakah kemudian hukum membaca alqur’an secara umum menjadi haram? Demikian juga dengan maulid, apakah membaca shalawat, bertutur cerita sejarah Rasulullah SAW, memuji beliau hukumnya haram, terlepas dari kemungkaran yg terkadang mengitarinya?
    Nah..dalam konteks itulah sebagain fatwa ulama yg mengharamkan perayaan maulid, karena melihat pada kegiatan2 munkarot lain yg terkadang dikait2kan dengan perayaan maulid itu. Silahkan anda baca kitab AL-Madkhol Ibnul Haj, kitab Al-Ibda’ fi Madloril Ibtida’ dll, anda akan menemukan fatwa ulama yg mengecam kegiatan maulid karena dalam rangkaian perayaan itu terdapat kemunkaran2 yg tidak layak dikaitkan dengan pujian dan bacaan shalawat kpd Rasulullah SAW.

  • nona arab says:

    antum jangan jadi Kompor!! beda faham gpp, tapi jangan saling menjatuhkan kasian, ana gak berpihak pada wahabi ato apalah… coba nte bayangin kalo aliran ente yang di jadiin bahan? emang dia bidah apa sih ampe benci sebegitu benci nya kalian? kalo bole tau wahabi itu apa yah?? kayaknya banyak bgt yang gak suka ma tuh aliran? dan tadi abis search di google memang tulisan mereka berani sekali dalam menghina aliran lain, oya 1 lagi itu aliran ada di mana? di jakarta juga ada? (bahaya kalo sampe ada) sbelum dan sesudah nya ane minta maap kalo ada salah kata… BTW tolong di jawab ya ptanyaan ane… makaish sebelum dan sesudahnya…

  • adem ayem says:

    @ Yek saudi
    pernah hadir maulid g? kalo g prnah VCDnya uda bnyak..
    ato cari di google jd bisa..

    acara yg Panjenengan maksud..

    (berkumpul, tertawa, makan makanan disertai tari-tarian bercampur-baur laki-laki dengan perempuan)
    jgn2 anda salah liat..
    itu sih bukan maulid tapi LUDRUK
    🙂 🙂 🙂 wkwkwkwk

  • forsan salaf says:

    @ All pengunjung, harap pembahasan tidak keluar dari isi artikel, bukan masalah bid’ah atau maulid, tapi apakah Ibn Taimiyah salah atau sesat jika berfatwa mengadakan maulid mendapatkan pahala,demikian juga seluruh yang kami sebutkan dalam artikel.
    Tujuan kami adalah supaya dapat diketahui bahwa Ibn Taimiyah tidaklah seekstrim daripada orang2 yang mengaku pengikutnya.
    Siapakah kalau begitu panutan mereka ?
    Bid’ah dan maulid akan kami bawakan dalam artikel sendiri. Selamat menunggu.

  • Yek Saudi says:

    @ Team Forsan & Seperjuangnya..

    tolong jelaskan siapa yg pertama kali mengadakan Maulid Nabi Saw?? Dan apakah Rasulullah menyuru umatx untuk berbuat demikian?? Tlng di jelaskan dengan dalil yg shahih? Jangan menurut hawa nafsu anda, syukron

  • Abu qnan says:

    Mana yek arab dan sobri??? Kok malah lari semua.

  • Abdulqodir maulakhailah says:

    sisi baik dari pembacaan maulid nabi,adlah salah satu diantara manhaj dakwah,untk mengingat kpd umat islam ttg keagungan pribadi NABI SAW,baik dari segi keluhuran budipekerti maupun dari segi kegigihan perjuangan dalam menyiarkan ajaran agama,keluwesan pergaulan hidupnya,maupun semangat dedikasi dalam ibadah,dan para ulama mengarahkan kejalan yana diridhoi,mengendalikan supya tidak terjebak ato terjerumus kejalan buruk dan fitnah yang menyesatkan,kta butuh tauladan dan didalam maulid terdapat tauladan,

  • abuqnan says:

    Yek Saudi: Tolong jelaskan, menurut Ibnu Taymiyah, maulid itu bid’ah atau tidak?

  • Abdulqodir maulakhailah says:

    lahirnya Rosululloh saw sebagai al-rahmat al’uzma(njenengan sepakat abu) lebih layak kita rayakan dg penuhsuka cita, ibnu taimiah,iqtida alshiroth al mustaqim,…mreka yang mengagungkan ROSULULLAH SAW dg niat yang baik akan mendapat pahala yang sangat besar,…wa yakunu lahu ajrun ngadima likhusni qosdihi,…dan antum bisa liat ibnu ABbas menafsirken Qs yunus ayt 58 dlam addur almantsur jilid 2/308 nduwe alhafidz assuyuthi,lah teras njenengan saged ningali teng al-ibda(al-utsaimin) hal 18,adem njih?

  • Abuqnan says:

    Yek saudi: tolong jawab pertanyaan sy.

  • zen says:

    Kalau mengadakan maulid Nabi SAW dianggap BID’AH oleh sekelompok golonghan, padahal menurut artikel ini Syechul Islam “Ahmad ibn Taimiyyah” tidak mengharamkannya. Iya kan..? Membuat kita orang awam jadi penasaran, apa ya maunya mereka?

    Boleh bertanya kepada yang tidak senang dengan acara maulid Nabi SAW, begini…
    1.Anda tentu orang terpelajar (pernah belajar) kan?
    2.Pernah belajar / membaca sejarah dari tokoh selain Rasululloh SAW? Jika iya, tolong sebutkan?
    3.Itu hukumnya apa ya?
    4.Jika mengadakan maulid yang menceritakan tentang sejarah Nabi SAW (tentunya tanpa kemungkarotan di dalamnya) apakah itu lebih hina dibandingkan ketika kita membaca sejarah tokoh selain beliau SAW?
    5.Salahkah kita mengenang Nabi SAW melalui acara Maulid?

    @yek Saudi, nt katakan bahwa
    “Sikap Ahli sunnah terhadap Bid’ah.
    Para ulama salaf sepakat bahwa upacara peringatan Maulid Nabi dan upacara lainnya yang tidak disyari’atkan adalah ‘bid’ah’ yg tidak dikerjakan oleh Nabi, sahabat-sahabanya, tabiin, tabiut-tabi’in dan imam yg empat; Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Ahmad Bin Hambal.”

    yek.. gimana menurut nt ttg orang2 melakukan upacara bendera, padahal mereka menghormat kepada kain, jika ada yang main2 ketika bendera di kibarkan, maka akan berat sanksinya. Itu kan kepada sesuatu yang menjadi simbol kejayaan suatu negara? Apakah nt akan melarang mereka dan mengatakan kepada presiden, dan semua jajaran dibawahnya bahwa itu BID’AH dan SYIRIK..? Ato gimana yek?

  • KANG HUDA says:

    SHOLU ‘ALA MUHAMMAD…SHOLU ‘ALA MUHAMMAD…SHOLU ‘ALA MUHAMMAD

  • KANG HUDA says:

    @ Yek Saudi :: Wah..wah sudah baca artikel di atas gak sih !? Lha wong udah gamblang boleh gitu koq, masih dipertanyakan lagi. Apa mau dituliskan Hadist2 nya di sini lagi ?
    SHOLLU ‘ALA MUHAMMAD 1000x

  • Abdullah says:

    Salam kenal dari saya. Nama saya Abdullah; Mahasiswa Al-Azhar University. Saya sangat tertarik dengan diskusi teman-teman di situs ini. Semoga kita semua diberikan petunjuk oleh Allah untuk menempuh jalan yang lurus amin ya Rabbal alamin.
    Saya ingin memberikan beberapa komentar:

    Pertama= saya ingin mengingatkan sekali lagi bahwa diskusi harus dilandasi dengan dalil bukan hanya ngalor ngidul.

    kedua= saya tertarik dengan jawaban Yek Saudi yang telah memaparkan dengan gamblang dan disertai dengan dalil dan bukti-bukti.

    Ketiga: Saya ingin menyebutkan perkataan salah seorang shahabat Rasulullah bernama Ibnu Umar; Ia berkata, “Setiap bid`ah itu adalah sesat walaupun semua orang memandangnya baik” (lihat: kitab”Assunnah” karangan Muhammad bin Nashr Al-Maruuzi hal. 81) ungkapan Ibnu ini selaras dengan perkataan muhammad shabri di atas bahwa tidak ada pembagian bid`ah hasanah dan bid`ah sayyi’ah.

    Keempat: Saya ingin menukilkan perkataan Ibnu Taimiyyah secara lengkap sehingga pembaca bisa menghukum; apakah Ibnu Taimiyyah membolehkan maulid Nabi atau tidak?
    Berikut kutipannya:
    ابتداع مولد النبي صلى الله عليه وسلم مضاهاة للنصارى في عيد ميلاد عيسى ولو كان خيراً لسبقنا إليه السلف الصالح في صدر الإسلام وتفصيل القول في ذلك

    وكذلك ما يحدثه بعض الناس، إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام، وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم، وتعظيماً. والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد، لا على البدع- من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه وسلم عيداً. مع اختلاف الناس في مولده. فإن هذا لم يفعله السلف، مع قيام المقتضي له وعدم المانع منه لو كان خيراً. ولو كان هذا خيراً محضا، أو راجحاً لكان السلف رضي الله عنهم أحق به منا، فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله صلى الله عليه وسلم وتعظيماً له منا، وهم على الخير أحرص. وإنما كمال محبته وتعظيمه في متابعته وطاعته واتباع أمره، وإحياء سنته باطناً وظاهراً، ونشر ما بعث به، والجهاد على ذلك بالقلب واليد واللسان. فإن هذه طريقة السابقين الأولين، من المهاجرين والأنصار، والذين اتبعوهم بإحسان.

    Yang artinya:
    “Mengada-adakan perayaan maulid Nabi—Shallallâhu alaihi wasallam—merupakan amalan yang menyerupai orang-orang Nasrani ketika mereka merayakan kelahiran Nabi Isa. Apabila amalan itu adalah sesuatu yang baik maka tentulah generasi para salafus shaleh akan melakukannya di awal perkembangan Islam.
    Lebih rincinya berikut ini:
    Begitu pula praktek yang diada-adakan oleh sebagian manusia, baik karena hanya meniru orang-orang Nasrani sehubungan dengan kelahiran Nabi Isa–‘Alaihis Salam–atau karena alasan cinta dan mengagungkan Nabi–Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan barangkali Allah akan memberikan pahala karena kecintaan mereka kepada Rasulullah—Shallallâhu alaihi wasallam, bukan karena amalan bid`ah yang mereka lakukan—yaitu menjadikan kelahiran Nabi—Shallallâhu alaihi wasallam—sebagai sebuah perayaan, padahal tanggal kelahiran beliau masih menjadi ajang perselisihan.
    Dan hal semacam ini belum pernah dilakukan oleh ulama salaf (terdahulu). Jika sekiranya hal tersebut memang merupakan kebaikan yang murni atau merupakan pendapat yang kuat, tentu mereka itu lebih berhak (pasti) melakukannya dari pada kita, sebab mereka itu lebih cinta dan lebih hormat pada Rasulullah—Shallallâhu alaihi wasallam—dari pada kita. Mereka itu lebih giat terhadap perbuatan baik.
    Sebenarnya, kecintaan dan penghormatan terhadap Rasulullah—Shallallâhu alaihi wasallam—tercermin dalam meniru, mentaati dan mengikuti perintah beliau, menghidupkan sunnah beliau baik lahir maupun bathin dan menyebarkan agama yang dibawanya, serta memperjuangkannya dengan hati, tangan dan lisan. Begitulah jalan generasi awal terdahulu, dari kaum Muhajirin, Anshar dan Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik”

    Dari ungkapan ini jelas bahwa Ibnu Taimiyyah tidak membenarkan amalan maulid Nabi, bukan seperti yang dipahami oleh Ibnu KhariQ. Yang dimaksud oleh Ibnu Taimiyyah adalah seseorang yang mengagungkan dan mencintai Rasulullah maka ia akan diberi pahala atas niatnya tapi amalan maulid Nabi yang ia lakukan maka itu adalah bid`ah.

    Kalaupun kita menganggap bahwa maulid Nabi itu adalah boleh maka maulid Nabi yang benar adalah dengan berpuasa setiap senin sebagaimana hadits yang menyatakan bahwa sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah kenapa kita berpuasa pada hari Senin? Rasulullah menjawab: “Karena itu adalah hari kelahiranku.”

    Jadi kesimpulannya: generasi salafus shaleh memperingati hari kelahiran Nabi yaitu dengan berpuasa setiap hari senin sebagaimana hadits di atas bukan dengan melaksanakan maulid Nabi setiap tgl 12 Rabi`ul Awwal karena tidak dicontohkan oleh Nabi dan juga generasi para salaf. Kembai kepada pemahaman generasi salaf itulah yang dimaksud dengan manhaj salaf, dan orang yang menisbahkan dirinya mengikuti generasi salaf disebut dengan salafi, diantaranya adalah Muhammad bin Abdul Wahhab.

  • muhibbin says:

    @ Abdullah, wah wah wah……. Udah baca artikel di atas berserta videonya dengan seksama apa gak sih…..??? kok gini komentarnya….
    Mas lulusan Al-Azhar, permasalahannya sekarang bukan membahas bid’ah atau bukan, tapi bahas dulu pernyataan Ibn Taimiyah yang menyatakan orang yang mengadakan maulid bisa mendapatkan pahala yang besar. Kalo pingin tau ni ana bawakan nash arabnya juga dari kitab Iqtidha’ as-Sirath al-Mustaqim hal.269:
    فتعظيم المولد ، واتخاذه موسمًا ، قد يفعله بعض الناس ، ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده ، وتعظيمه لرسول الله صلى الله عليه وسلم
    “Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutinan, segolongan orang terkadang melakukannya. Dan mereka mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah SAW..”
    Gimana tu menurut anda..???? klo koment anda di atas justru anda ingin mengatakan kalo Ibn Tamiyah itu plin-plan, berfatwa maulid di sini boleh tapi di sana diharamkan.
    Mas, pendapat Ibn Taimiyah yang anda tampilkan di atas sebelumnya kan udah dijelaskan oleh mas elfasi di atas, yaitu ketika menjadikannya sebagai ied baru dalam islam, kami-pun akan menyatakan haram sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Nasrani. tapi gimana klo cuman mengadakan acara untuk mengenang Rasulullah, mengagungkan beliau dan menunjukkan rasa kecintaan kepada beliau dengan membaca shalawat, membaca siroh Beliau, apakah gini dikatakan haram juga oleh Ibn Taimiyah ??? Justru ini yang bisa mendatangkan pahala besar sebagaimana pernyataan Ibn Taimiyah di atas.
    Klo masalah bid’ah jangan bahas dulu mas, forsansalaf kan udah komentar akan dibuat artikel sendiri. So, kita tunggu aja n kita diskusikan nantinya….

  • elfasi says:

    @ abdullah, anda simpulkan di atas : ” Kalaupun kita menganggap bahwa maulid Nabi itu adalah boleh maka maulid Nabi yang benar adalah dengan berpuasa setiap senin “. berarti haram ya. baca Al-Qur’an di hari senin ? haram bersedekah di hari senin ? haram bersholawat, berdzikir dan lain2 di hari senin karena semua itu tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW ?

    mas, anda katakan peringatan maulid tanggal 12 Robi’ul Awal itu sama dengan orang Nasrani, sama dari mana mas….??? Apakah orang Nasrani memperingati hari kelahiran Nabi Isa dengan bersholawat, dengan berdzikir, atau membaca siroh Nabi mereka seperti orang2 muslim mengadakan maulid ??? Ini fitnahan apa lagi mas..???
    gimana dengan puasanya Nabi di hari Asyura’ bahkan memerintahklan kepada umatnya untuk berpuasa, apakah berarti Nabi meniru orang2 Yahudi..????
    Cermati dulu mas, apa isi dari peringatan maulid itu, jangan langsung menvonis bid’ah dan haram….

  • Abuqnan says:

    Maaf, sy hanya lulusan pesantren, bkn Universitas d Neger Mesir.Mnrt saya, ada baiknya d baca komentar2 d atas, sehingga bs memahami, apa yg di maksud dg maulid itu dan rangkaian2 acara lain yg terkadang $ewarnai peringatan maulid. Sekian trima kasih.

  • Yek Saudi says:

    @ abugnan & sekutunya :

    Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah menuliskan masalah ini di dalam kitabnya, ‘Iqthida’ u Ash-Shirath Al-Mustaqim’. Begitu juga Asy-Syathibi rahimahullah telah menyebutkan hal ini dalam kitabnya, ‘Al-I’tishom’.

    Menurut mereka, perayaan maulid secara keseluruhan adalah ‘bid’ah’, baik Maulid Nabi ataupun yang lainnya, seperti Maulid Al-Badawi atau Manaqib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani atau selain keduanya. Hal ini tidak dilakukan oleh salafush shalih. Rasulullah telah menyampaikan dengan penyampaian yang jelas dan menasehati umat.
    … Lihat Selengkapnya
    Nabi Saw. Tinggal di Mekkah selama 13 tahun dan di Madina selama 10 tahun. Namun tidak pernah merayakan Maulid ini, dan tidak mengatakan kepada umat “lakukan itu”. Begitu pula para sahabatnya mereka tidak melakukan hal itu. Dan tidak pula para tabi’in (orang yang hidup setelah generasi sahabat berlalu). Dan tidak pula tabi’ut-tabi’in, semuanya tidak melakukan sedikitpun dari ini, tidak pula ucapan dan perbuatan.

    Kemudian datang sebagian orang pada abad ke-4 H yang dinisbatkan kepada mereka bid’ah dari kalangan Syi’ah Fatimiyah yang terkenal, penguasa-penguasa Mesir dan Barat, lalu mereka mengadakan bid’ah ini. Kemudian, diikuti oleh selain mereka dari sebagian ahlus sunnah yang ‘bodoh’ (tidak mengerti) kebenaran dan hanya ikut-ikutan tanpa dasar ilmu, atau mereka mengambil berbagai ‘subhat’ yang tidak sampai kepada kebenaran.

    Jika kita melihat apa yang dilakukan orang dari berbagai perayaan, kita kembalikan hal itu kepada Al-Qur’an yang agung, niscaya kita tidak mendapatkan di dalamnya yang menunjukkan hal itu, baik berupa perbuatan, perkataan dan tidak pula pengakuan dari beliau. Maka dapat diketahui dengan hal itu bahwa perayaan Maulid Nabi adalah bid’ah sesat, oleh karena itu, wajib meninggalkannya dan tidak boleh melakukannya. Barangsiapa yang melakukan itu, ia antara dua perkara:
    1. Jika bodoh dan tidak mengetahui kebenaran perlu diajari dan diberi petunjuk.
    2. Imam sesat yang ta’assub pada hawa nafsu dan mempunyai tujuan tertentu, lalu ia mengatakan bahwa yang dilakukannya adalah kebenaran…. Lihat Selengkapnya

    Ungkapan bahwa Maulid Nabi adalah bid’ah hasanah adalah perkataan orang-orang yang ‘bodoh’ yang tidak berilmu dan tidak mempunyai dalil dan hujjah, mereka berkata sekedar mengikuti hawa nafsunya.
    Tidak berharga di sisi Allah orang-orang yang taklid buta, orang-orang yang ta’ashub dan orang-orang yang bodoh.
    Perayaan Maulid Nabi adalah bid’ah yang tercela. Siapa saja yang membenarkan dan menganjurkannya (sekalipun tokoh agama) maka ia termasuk Mubtadi’. Jika ia masih bersikeras tidak menerima nasehat kebenaran serta terus mengajak kepada maulid dan menganjurkannya sungguh ia wajib dijauhi. Karena pelaku bid’ah hanya menyesatkan orang banyak.

    “Jauhilah oleh kalian berlebih-lebihan dalam agama, sesungguhnya kehancuran umat sebelum kalian dikarenakan berlebih-lebihan (ghuluw) dalam agama”. (hadits shahih riwayat sunan ibnu majah)

    dan beliau (Nabi Saw.) bersabda:
    “Janganlah kalian mengagungkan aku sebagaimana orang-orang Nasrani menyanjung Isa ibnu Maryam, sesungguhnya aku adalah hamba Allah maka katakanlah oleh kalian: hamba Allah dan Rasul-Nya”. (HR. Bukhari)

    Saya berpesan kepada mereka yang masih terjerat dalam perkara ini, agar meninggalkan segala macam/bentuk perbuatan bid’ah yang tidak hanya mengundang murka Allah, tetapi juga tidak ada nilai pahala di sisi Allah. Apabila anda memang menghendaki kebaikan, maka tidak ada jalan yang lebih baik kecuali dengan mengikuti jalannya para generasi terdahulu … Lihat Selengkapnyayaitu para salaful ummah dan salafus shalih dan orang-orang yang senantiasa komitmen di atas sunnah. Kalaupun ada tokoh agama, kyai atau siapa pun saja yang membenarkan dan membolehkan bid’ah-bid’ah tersebut sesungguhnya dia adalah ahlul bid’ah (ahli bid’ah) dan ahlul hawa’ (penyembah hawa nafsu) dan jangan diikuti perkataannya karena mereka adalah setan dari bangsa manusia yang tujuannya untuk menyesatkan dan mengajak kita ke neraka.
    Semoga Allah memberikan kepada kita pentunjuk dan hidayah ke jalan yang hanif, menerangi hati kita dengan iman dan ilmu, menjadikan ilmu yang kita miliki membawa berkah, bukan ‘murka’ dan ‘laknat Allah’, membimbing kita pada jalan hamba-Nya yang beriman. Amin.

    Basyaruddin bin Nurdin bin Shalih Syuhaimin (Abu Abdl Asy-Syiddah)

  • Ibn ubaidillah says:

    Assalamu Alaikum Wr. Wb

    Sebenarnya apa yang telah disampaikan oleh saudara2 kita sudah cukup…tetapi saya ingin menambahkan sedikit khususnya untuk saudara muhammed sabri, Yek Saudi, Abdullah hadaa kumullah

    1. bukankah sudah jelas bahwa syaikhul islam Ibn Taymiah adalah panutan dari pada orang2 wahabi-salafi maka dengan membaca artikel lalu diperkuat dengan video dan tidak itu saja disebutkan juga perkataan ibn taymiah beserta kitab halamanya pula…dan diperkuat lagi denagn tulisan asli bahasa arabnya dr kitab tersebut oleh saudara muhibbin atas jawaban dari saudara abdullah…maka klo kalian menganggap diri kalian orang berakal tentunya dengan mendengar dan membaca saja kalian harusnya berterima kasih kepada forsan salaf bukan kometar2 dengan pertanyaan2 yang lain klo saya jadi anda sekalian saya pasti langsung bertobat dan membaca maulid waktu itu juga

    2. Sbgmn yang telah dikatakan ibn taymiah di video tsb bahwa membaca maulid akan mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah SAW maka tidak diragukan memang bahwa maulid adalah paling afdholnya amalan…mengapa? krn disitu ada banyak sekali faedah2 diantaranya adalah:
    a) sbgmn yang dikatakan oleh saudara Abuqnan menukil perkataan imam suyuti bahwanya dia berkata (asal perayaan maulid Nabi SAW adalah manusia berkumpul, membaca al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan hidupnya. Kemudian dihidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang) maka memang betul itu adanya klo anda memang pernah membaca isi dari maulid maka semuanya yang ada disitu adalah tentang sejarah singkat dan perangai Nabi Muhammad SAW

    Bukankah mengetahui dan mempelajari Tentang sejarah dan perangai Nabi Muhammad SAW adalah suatu kewajiban, jangan katakan diri anda muslim sejati klo anda tidak mengetahui akan sejarah dan perangai Nabi Muhammad SAW maka suatu kehinaan bagi kita klo kita tahu sejarah dan perangai orang lain tapi kita tidak tahu sejarah dan perangai Nabi Muhammad SAW.

    b)salah satu inti daripada maulid pula adalah membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW dengan kita membaca maulid yang mana telah saya katakan bahwa didalamnya adalah tentang sejarah hidup dan perangai Nabi Muhammad SAW maka secara tidak langsung para pembaca sekaligus pendengar akan selalu teringat akan Nabi Muhammad SAW dan akan membuat mereka bersholawat Nabi Muhammad SAW apalagi hadist yg memunjukkan fadilah sholawat banyak sekali diantara adalah barang siapa yang bersholawat kepadaku sekali maka Allah akan bersholawat kepadanya 10 kali…sebagian ulama mengatakan seandainya seluruh amal ibadah manusia dikumpulkan lalu ditimbang dengan satu saja sholawat dari Allah SWT maka pasti akan lebih berat sholawat Allah drpada amal ibadah kita….maka bodoh sekali orang yang tidak mau membaca maulid atau mendengarnya klo dia telah mengetahui akan hal ini dan masih banyak lagi fadhilah dr pada sholawat yang mana semua itu bisa didapatkan dengan adanya maulid.

    3. Masalah bid’ah yang seperti yang dikatakan saudara muhammed sabri dan yang lainnya yang mana anda sekalian mengatakan tidak ada pembagian bid’ah atau bid’ah dlm hadist itu adalah bersifat umum maka mohon dikoreksi kembali dan saya ingin anda menjawab pertanyaan saya ini:

    sebagimana yang telah diketahui bahwasanya dahulu pada zaman Nabi Muhammad SAW sholat tarawih itu kebanyakan dikerjakan sendiri2 lalu setelah Rosulullah SAW wafat dan pada zaman Sydna Umar bin Khottob Rodiyallhu Anhu belau berinisiatif untuk mengumpulkan mereka semua dan menjadikan sholat tarawih berjamaah menjadi satu kesatuan lalu sydna Umar Rodiyallhu Anhu mengatakan: INI ADALAH PALING NIKMATNYA BID’AH maka setelah itu sholat tarawih dikerjakan secara berjamaah seterusnya…maka dari sini klo anda mengatakan bahwa bid’ah tdk ada pembagian atau kata2 bid’ah dalam hadist tsb adl bersifat umum maka sama saja anda mengatakan Sydna Umar Rodiyallhu Anhu adalah mubtadik besama sahabat yang lain yang mengikutinya yang berarti sesat sbgmna penafsiran anda dlm hadist tsb berarti dengan kata lain pula mereka semua masuk neraka wal iyadzu billah sbgmn penafsiran anda thd hadist tsb padahal anda menyebutkan bahwa khairulqurun (sahabat,ta’bi’in,tabi’uttabi’iin) dan memang Rosulullah SAW sendiri juga telah mengatakannya : khoirul qurun qorni…sebaik-baiknya kurun waktu/zaman adalah qurun waktuku/zamanku…maka dari hadist ini tidak diragukan bahwa para sahabat Rodiyallhu anhum termasuk didalamnya…apalagi ini Sydna Umar yng termasuk paling afdolnya sahabat dan termasuk pula dari 10 orang yang dijamin oleh Rosulullah SAW masuk surga maka dengan penafsiran anda terhadap hadist tsb sama saja anda menafikan jaminan Rosulullah SAW kpd Sydna Umar SAW….apalagi sbgmn yg dikatan Ulama bahwa seluruh sahabat itu adalah mujtahid mutlak bukan orang sembarangan manusia2 pilhian Allah SWT untuk RosulNya SAW maka tentunya Sydna Umar Roduyalhu Anhu tidak sembarangan dalam memutuskan sesuatu Rodiyallhu Anhu wa Ardoh

    Akhir kata Semoga kita dapat mengambil manfaat dari sini…amiin Ya robbal Alamin Wallhu Muwaffiku lissowab

  • wong Djowo says:

    Salam kenal dari saya. Saya BUKAN Mahasiswa Al-Azhar University,
    Bagi saya di sini tidak penting lulusan mana, yang penting berdiskusi dengan JUJUR dan ilmiyah..
    Coba kita simak kejujuran (lebih tepatnya kecurangan) kang Abdullah, Sang Mahasiswa Al-Azhar University..

    = KECURANGAN PERTAMA

    Setelah saya baca kitab IQTDHA’ As-SIRAT Al-MUSTAQIM nya Ibnu Taimiyah ternyata TEKS berikut ini TIDAK ADA sama sekali dalam kitab tersebut..
    ابتداع مولد النبي صلى الله عليه وسلم مضاهاة للنصارى في عيد ميلاد عيسى ولو كان خيراً لسبقنا إليه السلف الصالح في صدر الإسلام وتفصيل القول في ذلك
    Mengada-adakan perayaan maulid Nabi—Shallallâhu alaihi wasallam—merupakan amalan yang menyerupai orang-orang Nasrani ketika mereka merayakan kelahiran Nabi Isa. Apabila amalan itu adalah sesuatu yang baik maka tentulah generasi para salafus shaleh akan melakukannya di awal perkembangan Islam.
    Lebih rincinya berikut ini:…

    Sayang sekali Sang Mahasiswa Al-Azhar University terburu-buru membuat bahasa Arabnya sehingga KERANCUAN bahasa Arabnya kentara sekali..
    Perhatikan kata-kata:
    وتفصيل القول في ذلك وكذلك ما يحدثه بعض الناس
    Bagi yang mengerti Bahasa Arab ini Jelas bukan susunan MUBTADA-KHABAR yg tepat, kalimat وكذلك dst TIDAK BISA menjadi khabar وتفصيل. Sungguh terasa amat janggal

    = KECURANGAN KEDUA
    إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام، وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم، وتعظيماً.
    Kalimat إما tidak diterjemahkan dengan benar, dia katakan “Begitu pula praktek yang diada-adakan oleh sebagian manusia,
    baik karena hanya meniru orang-orang Nasrani sehubungan dengan kelahiran Nabi Isa–‘Alaihis Salam–atau karena ALASAN cinta

    TERJEMAHAN YANG BENAR

    Begitu pula praktek yang diada-adakan oleh sebagian manusia, ADAKALANYA karena hanya meniru orang-orang Nasrani sehubungan dengan kelahiran Nabi Isa–‘Alaihis Salam– dan ADAKALANYA karena cinta

    Di sini Ibnu Taimiyah menyebut DUA TUJUAN yang BERBEDA, Pada halaman berikutnya (269) Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa Tujuan kedua BERPAHALA BESAR (seperti dalam artikel)

    Sedangkan sang Mahasiswa Al-Azhar University MENYAMAKAN dua tujuan ini dengan cara menghindari penerjemahan إما dengan benar

    = KECURANGAN KETIGA
    Sang Mahasiswa Al-Azhar University MENAMBAH dan MENGURANGI sebagian terjemahan agar sesuai dengan kemauannya..
    Lihat kembali terjemahannya
    “atau karena ALASAN cinta dan mengagungkan Nabi”
    ditambahkannya kata ALASAN untuk menuduh bahwa mereka yg membaca maulid hanyalah mengaku-ngaku cinta dan itu sekedar ALASAN belaka.

    selanjutnya dia membuang kata IJTIHAD pada kalimat berikut..

    والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد
    dan barangkali Allah akan memberikan pahala karena kecintaan mereka kepada Rasulullah—Shallallâhu alaihi wasallam

    TERJEMAH SEHARUSNYA :
    Terkadang Allah memberikan pahala karena kecintaan mereka kepada Rasulullah—Shallallâhu alaihi wasallam dan IJTIHAD mereka ini..
    Ibnu Taimiyah mengakui bahwa ini adalah masalah IJTIHADIYAH (yang seandainya salah pun masih berpahala), namun Sang Mahasiswa Al-Azhar University sengaja tidak menerjemahkannya..

    sang Mahasiswa Al-Azhar University juga menghentikan kutipannya sampai di situ saja karena setelahnya ada kalimat
    مع ما لهم من حسن القصد والاجتهاد

    Maka titik PERBEDAAN Ibnu Taimiyah dan Wahabi :
    = Ibnu Taimiyah masih mengakui bahwa dg dasar CINTA, MAULID mendatangkan PAHALA BESAR..
    = sedangkan Wahabi merasa ALERGI untuk mengaitkan MAULID dengan PAHALA

  • muhammadon says:

    @ abdullah, mo ikutan coment ni,
    Mas, ama muhibbin kan udah ditampilkan pernyataan Ibn Taimiyah beserta referensi juga. Coba anda pahami lagi, Ibn Taimiyah kan menyatakan “ قد يفعله بعض الناس “ artinya “ kadang kala dikerjakan oleh sebagian orang” , Yang dimaksud disini tu sapa mas ? apakah sahabat atau tabi’in ?. klo maulid itu dah dikerjakan oleh para sahabat atau tabi’in, forsansalaf gak perlu menukil pernyataan dari Ibn Taimiah lagi, tapi gimana ni dengan pernyataan Ibn Taimiyah, sekalipun mauled tidak dilakukan oleh sahabat ataupun tabi’in, tapi beliau menyatakan klo merayakan maulid bisa mendatangkan pahala yang besar… Yang kami minta sekarang, gimana tanggapan anda dan semua orang2 wahhabi dengan pernyataan imam anda yang memperbolehkan maulid tapi anda orang2 wahhabi mengharamkannya ???
    Kami tunggu jawabannya…..

  • abuqnan says:

    Yek Saudi yg merasa paling pintar dan tidak bodoh: Ada baiknya antum baca kembali kitab yg antum sebutkan. Atau baca baik2 komen di atas yg menukil secara lengkap fatwa Ibnu Taymiyah. Akan lebih baik lagi, kalo antum cantumkan disini teks asli fatwa ibnu taymiyyah secara lengkap dan fatwa Imam Syatibi secara lengkap. Baru kita bahas bersama. OK!!

  • partelon says:

    الجاهل بالشيئ ينكر ذالك الشيئ…
    Demikian Al-Ghazali dalm Al-Kimya’ as-Sa’aadah. So, MAULID, TAHLILAN, ISTIGHOTSAH lanjuuuuuuuuut teruuuuuuuuuus!!! Yg alergi ya, cari dokter dunk, kekekekkkkk! 🙂

  • partelon says:

    Ralat: kitab Kimyaa’ as-Sa’aadah.

  • Uhibbuka yaa Rasul says:

    Assalaamu’alaykum wa rahmatullaahi wa barakatuh…

    Saya sebagai orang awam jadi tambah bingung dengan kasus ini, terutama masalah maulid Nabi. semoga dengan mengikuti artikel ini semua menjadi jelas…

    InsyaAllah saya seorang yg sangat mencintai Rasulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam. oleh karena itu saya membaca & memahami shirah nabawiyah, selalu mengenang beliau, bersholawat setiap hari atau sesering mungkin. jadi menurut hemat saya tidak perlu menunggu satu tahun untuk mengagungkan beliau…
    Mari menjadikan setiap hari, setiap saat selama nafas ini berhembus untuk memuliakan Muhammad bin Abdullah sebagai utusan akhir zaman. semoga kita mendapatkan syafaatnya kelak, di hari ketika tidak ada lagi perdebatan mana yang benar mana yang salah…
    itu menurut kacamata orang awam seperti saya.

    Mohon penjelasannya lebih lanjut…
    Wassalamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh…

  • Jalan Tengah says:

    Setuju sekali..!
    kita jadikan setiap hari, setiap saat selama nafas ini berhembus untuk memuliakan Rasulullah SAW agar mendapat syafaatnya kelak.. selalu mengenang beliau dan bersholawat sesering mungkin..
    DAN kita hargai saudara-saudara kita yg selain memuliakan Rasul setiap saat juga menyelenggarakan maulid untuk mengajak lebih banyak lagi umat Islam untuk bergabung memuliakan Rasulullah SAW,
    Mereka telah berjasa mengingatkan umat Muhammad yg jarang bershalawat, jarang membaca sirah beliau SAW.
    Sungguh Indah bila tak ada lagi saling menyalahkan di antara kita
    اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.